HEMATOLOGI
III
“ANEMIA MEGALOBLASTIK”
NAMA
: VALANTNE WAAS
NIM
: 18 3145 353
112
KELAS
: 2018 C
PROGRAM
STUDI D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA RESKY
MAKASSAR
2020
KATA
PENGANTAR
Puji Syukur atas Rahmat
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya kesempatan, kekutan dan
kesehatan untuk bisa menyelesaikan Makalah yang berjudul Anemia Megaloblastik . adapun maksud dan tujuan saya untuk mnyusun
laporan menyelsaikan tugas dan tanggung jawab
sebagai mahasiswi DIV Analis Kesehatan Universitas Mega Rezky Makassar.
Dalam pembuatan makalah
ini, saya menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan yang di buat baik sengaja
maupun tidak sengaja dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan
serta pengalaman yang saya miliki. Untuk itu saya memohon maaf atas ksalalah
tersebut
Tidak lupa saya juga, mngucapkan terima kasih
kepda Ibu Arlitha Deka Yana.,S.SI.,M.KES selaku dosen pembimbing mata kuliah
Hematologi III dengan sabar membantu saya, serta kepada orang tua yang terus
memberikan motivasi dan kepada teman yang turut membantu penylesaian makalah
ini.Makalah ini jauh dari sempurna maka diprlukan kritik dan saran untuk
kedepanya lebih baik lagi.
Akhir
kata saya mengucapkan Terima Kasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita.
Makassar, 24 Maret 2020
Penyusun
Valantine Waas
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
B. TUJUAN
UMUM
C. TUJUAN
KHUSUS
BAB II PEMBAHASAN
A. DENGAN
DEFINISI MEGALOBLASTIK
B. KLASIFIKASI
ETOLOGI MEGALOOBLASTIK
C. PATOFISIOLOGI
TANDA DAN GEJALA MEGALOBLASTIK
D. PENATALAKSANAAN
ATAU PENANGANAN MEGALOBLASTIK
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam Darah merupakan cairan
tubuh yang berwarna merah dan terdapat di dalam sistem
peredaran darah tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia.
Darah berfungsi memasukkan oksigen dan
bahan makanan keseluruh tubuh serta mengambil karbon dioksida dan metabolik dari
jaringan. Mengetahui golongan darah seseorang sangat penting di ketahui untuk kepentingan
medis yaitu salah satunya untuk transfusi (Oktari dan Silvia,
2016.Vol.5.No.2).
Darah merupakan
unsur dalam tubuh manusia yang memiliki peran dalam mekanisme kerja tubuh
seluruh organ tubuh ,seluruh seluruh
organ tubuh di hubungkan oleh darah melalui pmbuluh- pembuluh darah . oleh
karena itu darah dapat menjadi cerminan keadaan tubuh . baik dalam keadaan
sehat maupun sakit. Darah masih menjadi sumber dignosa medis yang paling dapat
di andalkan (Devie,2015 Vol.5 No.1)
Anemia adalah
kekurangan eritrosit yang tampak pada kekurangan hemoglobin dan hematocrit
.Anemia di bagi menjadi 1)anmia karena pendarahan,2)produksi eritrosit
trganggu,3)meningkatkan kerusakan eritrosit 4) dfisinsi nutrisi (Mary dkk,
2008)
Anemia adalah
suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal.
Faktor-faktor penyebab anemia. Gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi
oleh pola makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status kesehatan.
Khumaidi (1989) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang melatarbelakangi tingginya
prevalensi anemia gizi besi di negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi
rendah meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah serta
kesehatan pribadi di lingkungan yang buruk. Meskipun anemia disebabkan oleh
berbagai faktor, namun lebih dari 50 % kasus anemia yang terbanyak diseluruh
dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat gizi besi. Selain
itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat,
akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan
infeksi parasit (cacing). Di negara berkembang seperti Indonesia penyakit
kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia gizi besi,
karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setaip harinya. Kekurangan
zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel
tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala
lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya dapat menurunkan prestasi
belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia gizi besi akan menurunkan
daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena infeksi (Masrizal,2007).
Klasifikasi
Anemia Secara morfologis, anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin
yang dikandungnya.1 Makrositik Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah
bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis
anemia makrositik yaitu :a)Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12,
asam folat dan gangguan sintesis DNA.. b) Anemia Non Megaloblastik adalah
eritropolesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran. 2.
Mikrositik Mengecilnya ukuran sel darah merah yang disebabkan oleh defisiensi
besi, gangguan sintesis globin, porfirin dan heme serta gangguan metabolisme
besi lainnya. 3. Normositik Pada
anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah, ini disebabkan
kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan,
penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati. (,Masrizal,2007).
B.
Tujuan
Umum
Mampu mamahami tentang apa itu
megaloblastik
C.
Tujuan
Khusus
a. Untuk memahami hal-hal yang berikatan dengan definisi megaloblastik
b. Untuk mengetahui hal-hal yang berikatan dengan klasifikasi etologi megaloblastik
c. Untuk mengetahui hal-hal yang berikatan dengan patofisiologi tanda dan gejala megaloblastik
d. Untuk mengetahui hal-hal yang berkatan dengan penatalaksanaan atau penanganan megaloblastik
a. Untuk memahami hal-hal yang berikatan dengan definisi megaloblastik
b. Untuk mengetahui hal-hal yang berikatan dengan klasifikasi etologi megaloblastik
c. Untuk mengetahui hal-hal yang berikatan dengan patofisiologi tanda dan gejala megaloblastik
d. Untuk mengetahui hal-hal yang berkatan dengan penatalaksanaan atau penanganan megaloblastik
BAB
II
PENDAHULUAN
A.
Definisi
Megaloblastik
Anemia
megaloblastik adalah anemia yang khas di tandai oleh adanya sel mgaloblast
dalam dalam sum-sum tulang.sel
megaloblast adalah sel precursor eritrosotit dengan bntuk sel yang besar dengan
susunan kromosom yang longgar. Anemia megaloglastik yang disebabkan oleh anemia
pernisiosa banyak dijumpai pada orang orang Skandinavia,Inggris,dan Irlandia
dengan angka kejadian 90 kasus tiap 100.000 penduduk per tahun. Pernah
dilaporkan adanya anemia pernisiosa pada penduduk Afrika Selatan,Daratan Cina,dan Arab belum
pernah dilaporkan tentang kejadian anemia pernisiosa di Indonesia(Wiwik dan
Andi, 2008).
Pengertian
Anemia adalah kekurangan gizi dimana gizi tersebut berperan dalam pembentukan
hemoglobin, baik karena kekurangan konsumsi atau karena gangguan absorbsi. Zat
gizi yang bersangkutan adalah besi, protein, vitamin B6, yang berperan sebagai
katalisator dalam sintesis hemoglobin. Vitamin C dapat mempengaruhi absorbsi
dan pelepasan besi kedalam jaringan tubuh dan vitamin E yang mempengaruhi stabilitas
membran sel darah merah (Sarifah dan Wahyuni, Sri Dayaningsih,2014).
Anemia
megaloblastik adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal
dalam pembentukan sel darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian antara
pematangan inti dan sitoplasma pada seluruh sel seri myeloid dan eritorid.13
Anemia megaloblastik merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi
folat. Mekanisme biokimiawi yang mendasari terjadinya perubahan megaloblastik
adalah terganggunya konversi dump menjadi dTMP. Dalam keadaan normal dump dikonversi
menjadi dTMP dengan adanya enzim timidilat sintetase yang membutuhkan koenzim
folat. Pada defisiensi folat dump diubah menjadi dUTP melebihi kapasitas kerja
enzim dUTP dalam sel melalui konversi kembali menjadi dump, akibatnya terjadi
penumpukan dUTP di dalam sel, sehingga terjadi kelambatan dalam sintesis
DNA.13,15 Gambaran darah tepi yang paling sering dihubungkan dengan anemia
megaloblastik adalah makrositosis. Makrositosis yang khas adalah
makroovalositosis. Hipersegmentasi neutrofil merupakan tanda pertama dari
anemia megaloblastik di daerah tepi; bila ditemukan 5% neutrofil dengan lobus
lebih dari lima kemungkinan adanya defisiensi asam folat meningkat menjadi
98%.1,22 Pansitopenia dapat juga ditemukan pada anemia megaloblastik dengan
derajat yang bervariasi dan merupakan atribut langsung dari proses hemopoesis
yang inefektif dari sumsum tulang. Sumsum tulang menunjukkan gambaran
hiperselular dengan hiperplasi seri eritroid. Prekursor eritroid tampak sangat
besar yang disebut megaloblas. Pada seri mieloid dijumpai adanya sel batang dan
metamielosit yang sangat besar (giant meta) myelocyte (Helna dan Debi, 2002).
Anemia megaloblastik adalah anemia makrositik yang
disebabkan oleh defisiensi atau gangguan penggunaan vitamin B12 atau asam
folat. Penyebab tersering dari anemia megaloblastik adalah defisiensi vitamin
B12 yang dapat terjadi karena asupan yang kurang, malabsorpsi akibat tidak
adanya faktor intrinsik, kelainan kongenital, atau paparan nitrit oksida (NO).
Anemia megaloblastik sebetulnya adalah kondisi panmyelosis,
walaupun namanya menggambarkan seolah gangguan hanya terbatas di sel darah
merah. Pada kasus yang jarang, anemia megaloblastik dapat menampilkan gambaran
nuklei megaloblastik imatur dan proliferasi myeloid intens di sumsum tulang.
Hal ini dapat menyebabkan misdiagnosis dengan leukemia.
B.
Klasifikasi
Etologi Megaloblastikm
Menurut Helna
dan Debi 2002,penyebab anemia mengalobglastik dibagi menjadi beberapa jenis.
1.
Anemia megalobglastik karena defisiensi
vitamin B12
a) Penderita
yang tidak makan daging hewan atau ikan, telur,serta susu yang mengandung
vitamin B12
b) Adanya
malabsorpsi akibat kelainan pada organ berikut ini:
1) Kelainan
lambung (anemia pernisiosa, kelainan kongenital factor intrisik, serta
gastrektonomi total atau persial)
2) Kelainan
usus (intestinal loop syndrome,tropical dan sprue, post raksi ilum)
2.
Anemia megalobglastik karena Defisinsi
Asam Folat
a) Di
sebabkan oleh makanan yang kurang gizi asam folat,terutama pada orang tua,fakir
miskin,gastrektomoni parsial, dan anemia akibat hanya minum susu kambing
b) Malabsopsi
asam folat karena penyakit usus
c) Kebutuhan
yang meningkat akibat keadaan fisiologis(hamil,laktasi,prematuritasi)dan
keadaan patologis(anemia hemolitik,keganasan,serta penyakit kolagen).
d) Ekskresi
asam folat yang berlebihan lewat urine,biasanya terjadi pada penyakit hati yang
aktif atau kegagalan faal jantung.
e) Obat
obatan antikonvulsan dan sitostatik tertentu.
Anemia megaloblastik disebabkan oleh kekurangan Vitamin B12 umumnya
berhubungan dengan beberapa kondisi di bawah ini:
1.Anemia pernisiosa (pernicious
anaemia), salah satu penykit auto imun yang mempengaruhi perut. Sel kekebalan (imun) tubuh
menyerang sel parietal di lambung yang bertugas untuk memproduksi faktor intrinsik.
Kekurangan faktor intrinsik ini menyebabkan tubuh tidak dapat menyerap vitamin
B12.
2.Peningkatan penggunaan vitamin B12
karena infeksi parasit (Diphyllobothrium latum) dan bakteri patogen.
3.Sindrom malabsorpsi seperti penyakit
seliaka (coeliac disease) dan kanker lambung.
4.Kekurangan konsumsi vitamin B12,
terutama pada orang-orang yang hanya mengkonsumsi sayuran (vegetarian). Hal ini disebabkan karena sumber utama vitamin B12
terdapat pada makanan yang berasal dari hewan seperti daging, susu, dan telur.
5.Anemia megaloblastik yang disebabkan
oleh kekurangan asam folat umumnya berhubungan dengan beberapa kondisi di bawah
ini:
6.Peningkatan kebutuhan asam folat
seperti pada wanita hamil dan penderita beberapa jenis leukemia (kanker darah) akut
7.Obat-obatan yang bekerja sebagai
antagonis (menghambat) asam folat, misalnya pada perawatan penderita kanker dan
kontrasepsi oral.
8.Penyerapan asam folat yang abnormal
seperti pada penderita penyakit seliaka (coeliac disease).
C.
Patofisiologi
Tanda Dan Gejala Megaloblastik
Timbunnya megaloblastik adalah akibat gangguan maturasi inti
sel karena terjadi gangguan sintesis DNA sel sel eritoblast,akibat defisiensi
asam folat dan vitamin B12,dimana vitamin B12 dan asam folat brfungsi dalam
pembentukan DNA inti sel dan scara khusus
untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin.Akibat gangguan sintesis DNA
pada inti eritoblas ini,maka maturasi inti lebih lambat,sehingga komatin lebih
longgar dan sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat.sel eritoblast
dengan ukuran yang lebih besar serta susunan kromatin yang lebih longgar
disebut sebagai sel megaloblast. sel megaloblast ini fungsinya tidak normal,
dihancurkan saat masih dalamsumsum tulang sehingga terjadi eritropoisis
inevktif dan masa hidup eritrosot lebih pendek yang berujung anemia (Menurut
Helna dan Debi ,2002).
Patofisiologi anemia megaloblastik utamanya berkaitan dengan
defisiensi vitamin B12 atau asam folat. Defisiensi ini akan mengganggu
pembentukan prekursor sel hematopoietic
Sumsum tulang merupakan tempat terjadinya eritropoiesis.
Pada keadaan anemia megaloblastik, terjadi kekurangan asam folat atau vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan prekursor
sel hematopoietik. Kekurangan vitamin B12 atau asam folat mengganggu sintesis
DNA, sehingga nukleus dan sitoplasma eritrosit tidak terbentuk sempurna secara
bersamaan. Sitoplasma matang secara normal, namun nukleus menjadi imatur
akibat sintesis DNA yang terganggu. Pertumbuhan sel yang abnormal dan
terganggunya proses pembelahan sel akan menyebabkan maturasi nuklear terhenti.
Selain itu, pada keadaan anemia megaloblastik, prekursor eritrosit yang matur
dihancurkan di sumsum tulang sebelum masuk ke pembuluh darah (hemolisis
intramedular)
Gejala anemia megaloblastik yang paling umum adalah
kelelahan. Gejala dapat bervariasi dari orang ke orang, namun gejala umumnya
adalah:
a) Sesak napas;
b) Kelemahan ototc)
c) Kulit pucat
d) Lidah bengkak (glossitis);
e) Kehilangan nafsu makan;
f) Penurunan berat badan;
g) Diare;
h) Mual;
i) Detak jantung cepat;
j) Lidah menjadi halus atau lembut;
k) Kesemutan di tangan dan kaki;
l) Mati rasa pada ekstremitas.
Pasien dengan anemia megaloblastik bisa asimptomatik. Jika muncul gejala, maka akan berkaitan dengan anemia dan abnormalitas neurologi. Jika anemia sangat berat, pasien bisa mengalami lemas atau gangguan kardiopulmonal. Pemeriksaan darah lengkap akan menunjukkan anemia makrositosis dan pemeriksaan darah tepi ditemukan sel darah merah megaloblast, neutrofil hipersegmentasi dengan 6 atau lebih lobus, dan anisositosis atau poikilositosis.
a) Sesak napas;
b) Kelemahan ototc)
c) Kulit pucat
d) Lidah bengkak (glossitis);
e) Kehilangan nafsu makan;
f) Penurunan berat badan;
g) Diare;
h) Mual;
i) Detak jantung cepat;
j) Lidah menjadi halus atau lembut;
k) Kesemutan di tangan dan kaki;
l) Mati rasa pada ekstremitas.
Pasien dengan anemia megaloblastik bisa asimptomatik. Jika muncul gejala, maka akan berkaitan dengan anemia dan abnormalitas neurologi. Jika anemia sangat berat, pasien bisa mengalami lemas atau gangguan kardiopulmonal. Pemeriksaan darah lengkap akan menunjukkan anemia makrositosis dan pemeriksaan darah tepi ditemukan sel darah merah megaloblast, neutrofil hipersegmentasi dengan 6 atau lebih lobus, dan anisositosis atau poikilositosis.
D.
Penatalaksanaan
Atau Penanganan Megaloblastik
Penatalaksanaan anemia megaloblastik dilakukan dengan
pemberian suplementasi vitamin B12 atau asam folat, karena defisiensi kedua
mikronutrien ini adalah etiologi utama.
1. Defisiensi Vitamin B12
Pada pasien yang anemia megaloblastik akibat defisiensi vitamin B12, tata laksana yang diberikan adalah injeksi parenteral vitamin B12. Parameter hematologi umumnya akan kembali normal setelah 1 bulan. Vitamin B12 dapat diberikan dalam bentuk hidroksokobalamin 1000 mcg setiap hari selama 7 hari. Setelah itu, dilanjutkan dengan injeksi 1 kali dalam seminggu selama 1 bulan, kemudian dilanjutkan selama 1 kali dalam sebulan.
2 Pada pasien dengan ketidakmampuan menyerap vitamin B12 dari diet secara permanen (misalnya kasus anemia pernisiosa atau pasien yang menjalani gastrektomi), tata laksana dilakukan seumur hidup. Walaupun belum menjadi regimen standar, pemberian per oral dilaporkan bisa menjadi pilihan. Hal ini karena vitamin B12 diabsorpsi di ileum terminal sebanyak 1-5% tanpa memerlukan faktor intrinsik.
3. Obat penghambat pompa proton, H2-blocker, dan metformin dapat menurunkan absorpsi vitamin B12
4. Defisiensi Asam Folat
Asam folat diberikan secara oral. Pasien juga diminta mengonsumsi makanan tinggi folat, seperti sayuran hijau, buah, daging, dan hati. Dosis asam folat yang disarankan adalah 1-5 mg per hari. Pemberian sebagai profilaksis disarankan untuk wanita hamil, menyusui, dan masa nifas.
5. Kondisi Lainnya
Penanganan anemia megaloblastik akibat kondisi lain dilakukan berdasarkan etiologi masing-masing. Sebagai contoh, pasien yang mengalami anemia megaloblastik akibat infeksi cacing pita ditata laksana dengan prazikuantel, niklosamid, atau nitazoksanid. Sedangkan, anemia megaloblastik akut akibat paparan nitrit oksida dapat ditata laksana dengan pemberian vitamin B12 dan asam folat.
6. Pemantauan
Retikulositosis dapat terjadi pada awal-awal pengobatan (dalam 3-5 hari), dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-10. Hitung leukosit dan trombosit biasanya kembali normal dalam hari-hari awal terapi. Sedangkan, neutrofil hipersegmen bisa menetap hingga 2 minggu.
Kadar kalium serum bisa menurun drastis pada pengobatan defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang berat. Hal ini bisa menyebabkan kematian mendadak. Oleh karena itu, kadar kalium harus dipantau, dan pasien diberikan suplementasi kalium jika perlu.
Defisiensi zat besi bisa terjadi karena peningkatan penggunaan zat besi untuk produksi sel darah merah. Jika terjadi defisiensi, bisa diberikan suplementasi besi.
Pemantauan secara periodik juga diperlukan untuk mendeteksi rekurensi megaloblastosis. Parameter pemantauan adalah kadar hemoglobin, dan jika perlu pemeriksaan laboratorium lainnya (misal kadar LDH, bilirubin, dan vitamin B12 serum). Pasien juga perlu disarankan menjalani endoskopi rutin, karena anemia pernisiosa berkaitan dengan peningkatan risiko kanker gastrik.
1. Defisiensi Vitamin B12
Pada pasien yang anemia megaloblastik akibat defisiensi vitamin B12, tata laksana yang diberikan adalah injeksi parenteral vitamin B12. Parameter hematologi umumnya akan kembali normal setelah 1 bulan. Vitamin B12 dapat diberikan dalam bentuk hidroksokobalamin 1000 mcg setiap hari selama 7 hari. Setelah itu, dilanjutkan dengan injeksi 1 kali dalam seminggu selama 1 bulan, kemudian dilanjutkan selama 1 kali dalam sebulan.
2 Pada pasien dengan ketidakmampuan menyerap vitamin B12 dari diet secara permanen (misalnya kasus anemia pernisiosa atau pasien yang menjalani gastrektomi), tata laksana dilakukan seumur hidup. Walaupun belum menjadi regimen standar, pemberian per oral dilaporkan bisa menjadi pilihan. Hal ini karena vitamin B12 diabsorpsi di ileum terminal sebanyak 1-5% tanpa memerlukan faktor intrinsik.
3. Obat penghambat pompa proton, H2-blocker, dan metformin dapat menurunkan absorpsi vitamin B12
4. Defisiensi Asam Folat
Asam folat diberikan secara oral. Pasien juga diminta mengonsumsi makanan tinggi folat, seperti sayuran hijau, buah, daging, dan hati. Dosis asam folat yang disarankan adalah 1-5 mg per hari. Pemberian sebagai profilaksis disarankan untuk wanita hamil, menyusui, dan masa nifas.
5. Kondisi Lainnya
Penanganan anemia megaloblastik akibat kondisi lain dilakukan berdasarkan etiologi masing-masing. Sebagai contoh, pasien yang mengalami anemia megaloblastik akibat infeksi cacing pita ditata laksana dengan prazikuantel, niklosamid, atau nitazoksanid. Sedangkan, anemia megaloblastik akut akibat paparan nitrit oksida dapat ditata laksana dengan pemberian vitamin B12 dan asam folat.
6. Pemantauan
Retikulositosis dapat terjadi pada awal-awal pengobatan (dalam 3-5 hari), dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-10. Hitung leukosit dan trombosit biasanya kembali normal dalam hari-hari awal terapi. Sedangkan, neutrofil hipersegmen bisa menetap hingga 2 minggu.
Kadar kalium serum bisa menurun drastis pada pengobatan defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang berat. Hal ini bisa menyebabkan kematian mendadak. Oleh karena itu, kadar kalium harus dipantau, dan pasien diberikan suplementasi kalium jika perlu.
Defisiensi zat besi bisa terjadi karena peningkatan penggunaan zat besi untuk produksi sel darah merah. Jika terjadi defisiensi, bisa diberikan suplementasi besi.
Pemantauan secara periodik juga diperlukan untuk mendeteksi rekurensi megaloblastosis. Parameter pemantauan adalah kadar hemoglobin, dan jika perlu pemeriksaan laboratorium lainnya (misal kadar LDH, bilirubin, dan vitamin B12 serum). Pasien juga perlu disarankan menjalani endoskopi rutin, karena anemia pernisiosa berkaitan dengan peningkatan risiko kanker gastrik.
BAB
III
Kesimpulan
dan Saran
A.
Kesimpulan
Anemia
megaloblastik adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal
dalam pembentukan sel darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian antara
pematangan inti dan sitoplasma pada seluruh sel seri myeloid dan eritorid.13
Anemia megaloblastik merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi folat.. Anemia megaloblastik adalah anemia
makrositik yang disebabkan oleh defisiensi atau gangguan penggunaan vitamin B12
atau asam folat. Penyebab tersering dari anemia megaloblastik adalah defisiensi
vitamin B12 yang dapat terjadi karena asupan yang kurang, malabsorpsi akibat
tidak adanya faktor intrinsik, kelainan kongenital, atau paparan nitrit oksida
(NO).
B.
SARAN
Sebaiknya kita harus menjaga keshatan tubuh kita dengan
memakan makan yang sehat dan bergizi serta kita harus sering berolahraga agar
tubuh kita sehat dan tidak mudah terserang penyakit.kita juga harus menerapkan
pola hidup yang benar dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Bradro,Mary dkk .2008.
“Klin gangguan KardioVvaskulr seri asuhan
keprawatan”Jakarta:EGC.
Anambasa, Devie R. 2015. “Rancanagnbangun Metode Otso Untuk Deteksi Hemoglobin” Vol.5 No.1.Madura.
Handayani,Wiwik dan Andi Sulistyo.H. 2008.’’Buku Ajar Asuuhan keperawatan pada kiln
dengan gangguan system hematologi’’.jakarta: Edward Tanuja.
Masrizal.\2007.”Anemia DefisiensiBesi “vol.1 No.1
Oktari, Anita dan Nida Daeninur.S.2016.”Pemmeriksaan Golongan Darah ABO Metode Slide
Dengan Reagen Serum Golongan Darah AB DAN O” Vol.1 No.1
Pamungkas,Wahyuni dkk .2017.’’Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil
Tentang Tablet Penambah Darah Dengan Kejadian”Vol.l No 2.
Tangkilisan, Helena
Anneke dan Debby Rumbajan Sari Pediatri. 2002, “Defisiensi Asam Folat’’ .Vol. 4, No. 1. ”2014