LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
(Pemeriksaan Defisiensi Glukosa-6-Phospate-Dehidrogenase)
NAMA : VALANTINE WAAS
NIM : 18 3145 353 112
KELAS : 2018C
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN
INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Defisiensi
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim pertama dalam jalur
(pathway) pentosa fosfat pada metabolisme glukosa. Defisiensi mengurangi energi
reduktif dari eritrosit dan mungkin menimbulkan hemolisis, yang beratnya
tergantung pada kuantitas dan tipe G6PD serta sifat zat hemolitik (biasanya
mediator oksidasi-reduksi) ,(Avelina, 2019).
Enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD)
merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi molekul glukosa melalui
jalur pentosa fosfat. Pada proses tersebut dihasilkan molekul Nicotinamide
Adenine Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH). Salah satu peranan penting
NADPH adalah untuk mereduksi glutation teroksidasi,
glutationâsulfurâsulfur-glutation (GSSG), membentuk glutation tereduksi,
glutation-sulfhidril (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutation
reduktase. Defisiensi enzim G6PD dapat
mengakibatkan terakumulasinya senyawa toksik hidrogen peroksida (H2O2), merupakan
salah satu senyawa oksigen reaktif. Defisiensi enzim G6PD merupakan kelainan
genetik herediter, terkait kromosom seks (X-linked), (dewajanti
,2015 Vol. 21 No. 56).
Hubungan
G6PD protektif terhadap infeksi malaria diduga karena terjadinya degradasi
Hemoglobin (Hb) pada individu dengan G6PD yang berdampak kepada berkurangnya
produksi Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate-H (NADPH) yang berguna
sebagai pelindung dinding eritrosit dari kerusakan (lisis). Hal ini berdampak
individu dengan G6PD dapat menghambat pertumbuhan merozoit selama stadium
intrasel menjadi tidak dapat berkembang. Defisiensi G6PD berhubungan dengan
seleksi evolusi oleh infeksi malaria. Di daerah endemik malaria, defisiensi
G6PD ini berhubungan dengan pertahanan terhadap infeksi malaria. Ini memberi
kesan bahwa defisiensi tersebut menguntungkan pada keadaan lingkungan tertentu.
Tingginya frekuensi defisiensi G6PD di daerah tropis dan subtropis menyatakan
secara langsung dan tidak langsung bahwa defisiensi ini berhubungan dengan
seleksi evolusi oleh infeksi malaria, (Avelina, 2019).
Oleh karena itu yang melatar belakangi
praktilum kali agar kita sebagai Maha siswa atau maha siswi dapat mengetahui apa
yang di maksud dengan G6PD serta memahahi peranan G6DP di dalam tubuh dan
dampak dari G6PD.
B. TUJUAN
PRAKTIKUM
Agar kita dapat
menegtahui prisip kerja serta prosedur
pemeriksaan G6DP
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan
defek enzim herediter dari eritrosit manusia yang paling sering
ditemukan. Enzim G6PD bekerja pada jalur fosfat pentosa metabolisme
karbohidrat. Diwariskan secara
X-linked, oleh karena itu mutasi pada gen G6PD, ditemukan lebih banyak pada
laki-laki daripada perempuan, menyebabkan varian fungsional dengan beberapa
biokimia dan fenotipe. Paling banyak dilaporkan dari Afrika, Eropa, Timur
Tengah dan Asia Tenggara, (Engli, 2012).
Defisiensi Enzim Glukosa-6-fosfat
dehidrogenase (G6PD) adalah gangguan metabolisme yang paling banyak ditemukan
pada manusia dengan jumlah penderita lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia
l 2008). Manifestasi klinis yang paling umum adalah anemia hemolitik akut dan penyakit
kuning yang umumnya distimulasi oleh senyawa-senyawa oksidatif dalam
kacang-kacangan dan obat-obatan). Defisiensi enzim ini menyebabkan produksi
NADPH sebagai tenaga pereduksi dan glutation tereduksi yang dihasilkan sel
darah merah lebih rendah, sehingga sel bersifat lebih oksidatif dan rentan
mengalami hemolisis pada saat terpapar stress oksidatif, radikal bebas, ataupun
infeksi. Mudah lisisnya sel darah merah menyebabkan parasit malaria seperti
Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax tidak dapat hidup cukup lama untuk
menginfeksi sel darah merah lainnya, sehingga orang-orang yaang mengalami
defisiensi enzim G6PD sangat jarang terkena kasus malaria yang parah. Ironisnya
penggunaan Primaquine sebagai obat radikal untuk mengobati malaria secara luas dapat
menyebabkan hemolisis bila diberikan kepada individu defisiensi G6PD.
Primaquine (PQ) adalah senyawa oksidatif yang berbahaya bagi individu G6PDd
karena mereka tidak bisa menangkap radikal bebas atau senyawa oksidan yang
dihasilkan oleh PQ. Hal ini menyebabkan oksidasi hemoglobin dalam tubuh menjadi
methaemoglobin yang akan beragregasi dan mengikat protein integral membran sel
darah merah dan menyebabkan hemolisis, (Ramadhian, 2013).
Defisiensi
Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) adalah penyakit genetik terpaut kelamin
yang telah menyerang kurang lebih 400 juta orang di seluruh dunia dan mempunyai
frekuensi yang tinggi di Afrika, Mediterranean, dan populasi Asia yang
merupakan wilayah endemik malaria (Gelehrter et al., 1998). Kelainan enzim yang
pa1ing umum terjadi pada manusia ini menyebabkan bayi yang baru lahir berwarna
kuning, yang dapat menyebabkan "kernicterus" dan kematian atau
kelumpuhan. Kelainan ini juga dapat menyebabkan krisis hemolitik yang mengancam
jiwa penderita apabila berinteraksi dengan obat-obatan tertentu atau kacang
"fava", (Teresa, 2010).
Glukosa-6-Fosfat
Dehidrogenase (G6PD) adalah enzim dalam lintasan Pentosa Fosfat yang
mengkatalisis konversi Glukosa-6-fosfat menjadi 6- fosfoglukono-δ-lakton dan
menghasilkan koenzim Nikotinamid Dinukleotida Fosfat (NADPH) yang berfungsi
sebagai tenaga pereduksi di dalam sel. Karena tidak memiliki mitokondria,
lintas Pentosa Fosfat merupakan satu-satunya sumber penghasil NADPH dalam sel
darah merah. Pada saat bereaksi G6PD menghasilkan NADPH dan atom hidrogen yang
dibutuhkan oleh sel untuk mengaktifkan Glutation tereduksi (GSH) dari bentuk
teroksidasinya (GSSG) melalui bantuan enzim Glutation reduktase. Glutation
tereduksi esensial bagi sel berfungsi untuk menjaga bentuk sel tetap normal,
menangkap radikal bebas dan menjaga hemoglobin tetap dalam bentuk fero sehingga
tetap mampu berfungsi sebagai pembawa oksigen, (Ramadhian, 2013).
Gen Enzim terletak pada
lengan panjang dari kromosom X (Xq28) dan lebih cenderung mempengaruhi
laki-laki daripada perempuan dan lebih mengafeksi pria dibandingkan wanita
karena lebih rentannya pria terhadap kondisi genetik yang terpaut kromosom X,
seperti halnya defisiensi G6PD. Analisis-analisis klinis dan biokimia telah
mengkarakterisasi lebih dari 400 varian yang kebanyakan disebabkan mutasi titik
pada gen penyandi. Perubahan basa menghasilkan perubahan asam amino yang
berbeda yang menyebabkan terjadinya perubahan fenotip dengan abnormalitas
aktivitas enzim yang berbeda-beda dan diiringi dengan gejala klinis yang berbeda
pula. Monomer G6PD memiliki 515 asam amino dengan berat molekul 59 Kda dan
hanya aktif dalam bentuk dimer atau tetramer yang juga berikatan NADP.
Pelipatan antara 2 bentuk yang aktif bergantung pada pH . Agregasi dari monomer
yang aktif dan konversinya menjadi bentuk yang aktif akan berpengaruh kepada
keberadaan NADPH, (Ramadhian, 2013).
Studi aspek genetik
dari penyakit defisiensi G6PD penting untuk menentukan apakah seseorang akan
menderita penyakit ini. Gen G6PD terdapat pada lokus q28 kromosom X dan
merupakan penyakit genetik bersifat resesif-terpaut kelamin yang lebih banyak
diderita oleh pria daripada wanita. Penyakit akibat defisiensi G6PD pada wanita
akan muncul bila terdapat dua kopi gen yang defektif dalam genomnya. Selama
terdapat satu kopi nor-mal gen G6PD pada seorang wanita akan diproduksi enzim
normal sehingga wanita tersebut hanya seorang karier (pembawa sifat) dengan
fenotipe normal. Pada pria hanya terdapat satu kromosom X sehingga satu gen
yang defektif pasti menyebabkan defisiensi G6PD, (Teresa, 2010).
Berdasarkan manifestasi
fenotip yaitu keparahan tingkat hemolisis sel darah merah terhadap paparan
senyawa oksidatif dan tingkat aktivitas enzimnya, WHO mengklasifikasikan
defisiensi G6PD menjadi lima kelompok
Kelas 1 ialah kelompok defisien Chronic nonspherocytic hemolytic anemia
; Kelas 2 kelompok defisien dengan aktivitas enzim 10% dibawah normal ; Kelas 3
defisien enzim moderat dengan aktivitas enzim 10-60% ; kelas 4 defisien ringan
dengan tingkat aktivitas 60-100% dan kelas 5 adalah peningkatan aktivitas
enzimatik yang tinggi, (Ramadhian, 2013).
G6PD adalah salah satu
kelainan yang diturunkan terpaut pada kromosom X . Diperkirakan defisiensi G6PD
ditemukan pada sekitar 400 juta penduduk di seantero dunia terutama pada daerah
tropis, serta banyak ditemukan pada kelompok laki-laki dibandingkan perempuan.
Berdasarkan kriteria WHO 1989, defisiensi G6PD diklasifikasikan dalam lima
kelompok yaitu: klas I adalah varian yang dapat menyebabkan terjadinya chronic
non-spherocytic hemolytic anemia, klas II dan III adalah varian yang ditandai
dengan menurunnya aktivitas enzim, klas IV varian dengan aktivitas enzim
normal, serta klas V varian dengan aktivitas enzim yang berlebihan. Manifestasi
klinis yang dapat ditemukan pada keadaan defisiensi adalah icterus neonatorum
pada bayi baru lahir, dan anemia hemolitik akut terutama pada laki-laki
Walaupun klas II sampai klas V tidak menyebabkan keadaan anemia hemolitik
kronis, tapi dapat terjadi anemia hemolitik akut bila terdapat faktor pencetus
akibat adanya gangguan oksidasi pada infeksi dan penggunaan obat, (Josef, 2019
Vol. 1 No.5 ).
Preparat obat yang
menjadi kontra indikasi adalah gametosida yaitu primakuin. Aktivitas G6PD
diperlukan oleh eritrosit dalam mempertahankan keutuhannya terhadap pengrusakan
yang disebabkan oleh peroksida yang terbentuk karena pemakaian primakuin.
Berdasarkan hal tersebut, maka sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan
keadaan enzim sebelum memutuskan memberikan obat primakuin pada penderita
malaria. Sekarang telah dikembangkan teknik berupa G6PD Assay Kit untuk
mendeteksi defisiensi G6PD yang dapat dilakukan cepat dan mudah, karena
menggunakan peralatan praktis serta dapat dilaksanakan di lapangan. Pembacaan
hasil hanya membutuhkan waktu lima belas menit, yang ditandai dengan adanya
perubahan warna, (Josef, 2019 Vol. 1 No.5 ).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A. PRINSIP
PERCOBAAN
Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama
dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan
melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH. Defisiensi G6PD
merupakan salah satu kelainan enzimatik herediter yang paling sering dari
eritrosit manusia. Penelitian terbaru juga menyatakan bahwa aktivitas G6PD
memainkan peran penting dalam mengontrol pertumbuhan sel melalui produksi
NADPH.
B. ALAT
DAN BAHAN
1. Alat
a) Tabung reaksi
b) Rak Tabung
c) Mikropipet
d) Torniquet
e) Stopwatch
2. Bahan
a) Spoit
b) Natrium Sitrat 3,8%
c) Plasma/Control
d) Label
e) Sodium Nitrat glucose solution 0,1
f) Alkohol swab 70%
g) Tip
h) Kertas Label
i) Pot sampel
j) Methylene Blue 0.1 ml.
C. CARA
KERJA
a)
Diambil darah dan di masukan kedalam
tabung EDTA
b)
Diberi label pada masing- masing tabung
c)
Diberi control masing-masing kontrol1,2,dan 3
d)
Dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa
solution ke masing-masing tabung
e)
Diberi Methylene Blue 0,1ml kedalam
masing-masing tabung
f)
Dihomogenkan reagen dan sampel
g)
Dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control
h)
Dicampurkan sampel darah dan reagen
i)
Dihomogenkan kembalu menggunkan tangan
j)
Dipipipet 2 ml negatif control dan di
campurkan dengan reagen
k)
Diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit
l)
selanjutnya di inkubasi kembali selama
90 menit
m)
Di Homogenkan kembali
n)
Ditambahkan 2,ml with
distilled water dan di inkubasi
o)
Dimasukan sampel sebanyak 20 mikron
kedalam Ve control
p) Dihomogenkan kembaliDitambahkan 20 sampel micron pada tabung
negatif control lalu homogenkan r) Ditambahkan 20 mikron liters test lalu
dihomogenkan
D.
INTERPRESTASI HASIL :
G6PD : Negatif
BAB
IV
PEMBAHASAN
Glukosa
6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme
karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel
dengan kadar yang berbeda beda. Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan
enzim yang penting dalam metabolisme sel darah merah yang bekerja pada
metabolisme karbohidrat
Berdasarkan
tingkat keparahan/jenis manifestasi klinis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mengklasifikasikan defisiensi G6PD sebagai berikut :
Kelas I : defisiensi
enzim sangat berat, dengan anemia hemolitik nonspherocytic kronis. Kelas II :
defisiensi enzim berat dengan aktivitas enzim kurang dari 10% dari aktivitas
normal, dengan anemia hemolitik kronis. 8
Kelas III : defisiensi
enzim ringan dengan aktivitas enzim antara 10–60% dari aktivitas normal, anemia
hemolitik terjadi bila terpapar bahan oksidan atau infeksi.
Kelas IV : aktivitas
yang sangat ringan, aktivitas enzim > 60% aktivitas normal dan tidak
memberikan gejala anemia hemolitik.
Kelas V : aktivitas
enzim > 150% aktivitas normal Defisiensi enzim G6PD bukan merupakan suatu
penyakit yang serius dan secara keseluruhan individu dengan kekurangan enzim
ini terlihat sehat.
Timbulnya
gejala klinis dipicu dengan adanya stres oksidatif pada sel darah merah, yang
dapat disebabkan oleh : Obat anti-malaria seperti Primakuin, Beberapa obat lain
seperti Paracetamol, Sejenis kacang-kacangan/fava beans (komponen seperti
divicine dan isouramil), Bahan kimia seperti nepthalene ,semprotan antijamur,
Herbal seperti Coptis sinesis dan Kalkulus bovis, Penyakit infeksi
Peran
G6PD pada metabolisme eritrosit Pada sel eritrosit terjadi metabolisme glukosa
untuk menghasilkan energi (ATP), yang digunakan untuk kerja pompa ionic dalam
rangka mempertahankan milieu ionic yang cocok bagi eritrosit. Pembentukan ATP
ini berlangsung melalui jalur Embden Meyerhof yang melibatkan sejumlah enzim
seperti glukosa fosfat isomerase dan piruvat kinase, sebagian kecil glukosa
mengalami metabolisme dalam eritrosit melalui jalur heksosa monofosfat dengan
bantuan enzim G6PD untuk menghasilkan glutation yang penting untuk melindungi
hemoglobin dan membrane eritrosit dari oksidan. Defisiensi enzim piruvat
kinase, glukosa fosfat isomerase dan G6PD dapat mempermudah dan mempercepat
hemolisis. Yang paling sering mengalami defisiensi adalah G6PD.
Metabolisme
glukosa melalui jalur heksosa monofosfat meningkat beberapa kali ketika
eritrosit terpapar dengan obat-obatan atau toksin yang membentuk radikal bebas
(Rinaldi,2009). G6PD menginisiasi jalur ini dengan menjadi katalis oksidasi
glukosa-6-fosfat menjadi 6-phosphogluconolactone oleh ko-enzim nikotinamida
adenin-dinucleotidephosphate (NADP), yang dikurangi menjadi NADPH.
6-phosphogluconolactone menghidrolisis secara spontan untuk 6-
phosphogluconate. Ini berfungsi sebagai substrat untuk 6-phosphogluconate
dehidrogenase dan NADP. Langkah kedua dalam jalur enzimatik ini juga
berhubungan dengan pengurangan NADP+ untuk NADPH. NADPH dihasilkan sebagai
akibat dari reaksi mengurangi glutation teroksidasi (GSSG) untuk mengurangi
glutation (GSH) dalam reaksi dikatalisis oleh glutation reduktase. GSH kemudian
mengurangi hidrogen peroksida, oksidan kuat yang dihasilkan dalam metabolisme
sel dan sebagai konsekuensi dari respon inflamasi, dan oksidan endogen dan
eksogen lainnya, pada reaksi katalis oleh glutathione peroksidase.
Ada
2 macam Manifestasi klinis defisiensi G6PD yaitu Anemia hemolitik dan nonhematoloogik
- Anemia hemolitik Sebagian besar manifestasi jenis mutan gen G6PD yang mengakibatkan aktivitas enzimnya kurang dari 60% dari normal. Anemia hemolitik akut terjadi setelah paparan obat atau bahan kimia. Umumnya, setelah satu sampai tiga hari terpapar bahan-bahan tersebut, penderita akan mengalami demam, letargi, kadang disertai gejala gastrointestinal. Hemoglobinuria merupakam tanda kardinal, terjadinya hemolisis intravaskular ditandai dengan terjadinya urine berwarna merah gelap hingga coklat. Kemudian timbul ikterus dan anemia yang disertai takikardia. Primakuin merupakan salah satu obat yang dapat memicu hemolisis. Pada umumnya obat tersebut berinteraksi dengan hemogloblin dan oksigen, yang mengakibatkan produksi oksidan dan radikal bebas meningkat. Ada beberapa obat yang cukup aman untuk diberikan pada mutan gen G6PD kelas II dan kelas III, anatar lain aspirin, vitamin C, acetaminofen, sulfaxoxasole, dan vitamin K, asalkan diberikan dalam dosis terapi yang umum digunakan. Obat yang tidak aman untuk jenis mutan Gen G6PD kelas I, II, dan III misalnya primakuin, asam nalidilat, nitrofurantoin, sulfamilamid.
- Anemia non hematologik Beberapa kasus defisiensi G6PD dilaporkan dapat memberikan manifestasi non hematologik. Dilaporkan bahwa defisiensi G6PD dapat mengakibatkan juvenile cataract pada lensa mata. Bahkan bilateral cataract ditemukan pada anak dengan defisiensi G6PD.
Defisiensi
G6PD dapat menyebabkan kejang otot, kelelahan pada otot, dan infeksi kronis.
Dilaporkan pula bahwa defisiensi aktivitas enzim G6PD pada lekosit dan netrofil
dapat menyebabkan defek pada sistem imun yang menyebabkan infeksi kronis dan
terbentuknya granuloma pada beberapa kasus.
Hubungan
G6PD protektif terhadap infeksi malaria diduga karena terjadinya degradasi
Hemoglobin (Hb) pada individu dengan G6PD yang berdampak kepada berkurangnya
produksi Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate-H (NADPH) yang berguna
sebagai pelindung dinding eritrosit dari kerusakan (lisis). Hal ini berdampak
individu dengan G6PD dapat menghambat pertumbuhan merozoit selama stadium
intrasel menjadi tidak dapat berkembang.
Tes fenotip aktivitas enzimatik G6PD pada darah vena segar merupakan metode
diagnostik yang paling umum. Tes fenotip dapat dibagi menjadi 4 kategori:
1. Tes Direk Yang Langsung Menilai Aktivitas Enzimatik
G6PD.
- Standar perhitungan adalah berdasarkan
spektrofotometer.
- Tes spot fl uorescent Beutler’s merupakan tes skrining
populer yang menginkubasi hemolisat dengan substrat reaksi G6PD, ditempatkan di
kertas fi lter dan disinari ultra violet (450 nm). Fluoresensi menunjukkan
aktivitas G6PD. Tes ini paling mudah meskipun masih jauh dari ideal.
2. Tes Indirek Yang Mencakup Tes Reduksi Methemoglobin.
- Sel eritrosit direaksikan dengan nitrit dan substrat
glukosa kemudian tingkat NADPH-dependent methaemoglobin reduction di-nilai
dengan katalis redoks.
- Derajat NADPH dependent met-haemoglobin reduction
berkorelasi dengan aktivitas G6PD. Metode indirek lain menggunakan kromofor
seperti brillian cresil blue, resazurin, formazan untuk memantau produksi
NADPH.
3. Tes Sitokimia Yang Menilai Status G6PD Eritrosit.
- Dapat digunakan untuk deteksi laki-laki defisiensi
homozigot, perempuan defi siensi homozigot dan heterozigot.
-Tes sitokimia mencakup methaemoglobin elution test
dengan melabel eritrosit berdasarkan jumlah relatif methe-moglobinnya sesuai
metode indirek dengan tes reduksi methmoglobin.
- Metode terbaru sitofluorometrik mendeteksi
autofluoresens terinduksi glutaraldehid dengan formazan yang menggunakan teknik
flowsitometri.
4. Tes Cepat Dengan Point Of Care Tests (POCT).
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan defek enzim herediter dari eritrosit manusia yang paling sering ditemukan. Enzim G6PD bekerja pada jalur fosfat pentosa metabolisme karbohidrat. Diwariskan secara X-linked, oleh karena itu mutasi pada gen G6PD, ditemukan lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan, menyebabkan varian fungsional dengan beberapa biokimia dan fenotipe.
B. SARAN
Adapun saran yaitu pada praktikum selanjutnya praktikan dapat lebih tertib dalam laboratorium dan memakai APD (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.
DAFTAR
PUSTAKA
Engli, Katherina
Alfa, 2012. “Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD)”. Malang:
Universitas Brawijaya
Maria ,Dewajanti Anna. 2015.”Peranan Enzim Glukosa 6 Fosfat
Dehidrogenase dalam Mempertahankan Integritas Membran Sel Darah Merah terhadap
Beban Oksidatif” Vol. 21 No. 56. Universitas Kristen Krida Wacana.
Noor, Dimas Ramadhian. 2013.“Karakterisasi Molekuler Defisiensi Enzim Glukosa-6-Fosfat
Dehidrogenase Homo sapiens di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur” Bogor
: skripsi.
Silva, Avelina Yolanda Moeda Da. 2019.“Gambaran Defisiensi G6pd Pada Penderita
Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Elopada”Kupang : Karya Tulis Ilmiah.
Tuda, Josef S. B. 2019 .“Prevalensi defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) pada
anak Sekolah Dasar yang tinggal di daerah endemis malaria di Sulawesi utara”Vol.1
No .5. Department of Parasitology, Sam Ratulangi University Faculty of
Medicine, Manado.
Wargasetia, Teresa Liliana.2010. ”Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat
Dehidrogenase”jakarta: EGC.