Sunday, May 24, 2020

G6PD

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
(Pemeriksaan Defisiensi Glukosa-6-Phospate-Dehidrogenase)


                                                                             
                        NAMA             :  VALANTINE WAAS
                        NIM                 : 18 3145 353 112
                        KELAS           : 2018C
                       


PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN
INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020


BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
     Defisiensi Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim pertama dalam jalur (pathway) pentosa fosfat pada metabolisme glukosa. Defisiensi mengurangi energi reduktif dari eritrosit dan mungkin menimbulkan hemolisis, yang beratnya tergantung pada kuantitas dan tipe G6PD serta sifat zat hemolitik (biasanya mediator oksidasi-reduksi) ,(Avelina, 2019).
     Enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat. Pada proses tersebut dihasilkan molekul Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH). Salah satu peranan penting NADPH adalah untuk mereduksi glutation teroksidasi, glutation–sulfur–sulfur-glutation (GSSG), membentuk glutation tereduksi, glutation-sulfhidril (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutation reduktase.  Defisiensi enzim G6PD dapat mengakibatkan terakumulasinya senyawa toksik hidrogen peroksida (H2O2), merupakan salah satu senyawa oksigen reaktif. Defisiensi enzim G6PD merupakan kelainan genetik herediter, terkait kromosom seks (X-linked), (dewajanti ,2015 Vol. 21 No. 56).
     Hubungan G6PD protektif terhadap infeksi malaria diduga karena terjadinya degradasi Hemoglobin (Hb) pada individu dengan G6PD yang berdampak kepada berkurangnya produksi Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate-H (NADPH) yang berguna sebagai pelindung dinding eritrosit dari kerusakan (lisis). Hal ini berdampak individu dengan G6PD dapat menghambat pertumbuhan merozoit selama stadium intrasel menjadi tidak dapat berkembang. Defisiensi G6PD berhubungan dengan seleksi evolusi oleh infeksi malaria. Di daerah endemik malaria, defisiensi G6PD ini berhubungan dengan pertahanan terhadap infeksi malaria. Ini memberi kesan bahwa defisiensi tersebut menguntungkan pada keadaan lingkungan tertentu. Tingginya frekuensi defisiensi G6PD di daerah tropis dan subtropis menyatakan secara langsung dan tidak langsung bahwa defisiensi ini berhubungan dengan seleksi evolusi oleh infeksi malaria, (Avelina, 2019).
     Oleh karena itu yang melatar belakangi praktilum kali agar kita sebagai Maha siswa atau maha siswi dapat mengetahui apa yang di maksud dengan G6PD serta memahahi peranan G6DP di dalam tubuh dan dampak dari G6PD.
B.  TUJUAN PRAKTIKUM
Agar kita dapat menegtahui prisip kerja  serta prosedur pemeriksaan G6DP 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan defek enzim herediter dari eritrosit  manusia  yang paling sering ditemukan. Enzim G6PD bekerja pada jalur fosfat pentosa  metabolisme karbohidrat.  Diwariskan secara X-linked, oleh karena itu mutasi pada gen G6PD, ditemukan lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan, menyebabkan varian fungsional dengan beberapa biokimia dan fenotipe. Paling banyak dilaporkan dari Afrika, Eropa, Timur Tengah dan Asia Tenggara, (Engli, 2012).
Defisiensi Enzim Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah gangguan metabolisme yang paling banyak ditemukan pada manusia dengan jumlah penderita lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia l 2008). Manifestasi klinis yang paling umum adalah anemia hemolitik akut dan penyakit kuning yang umumnya distimulasi oleh senyawa-senyawa oksidatif dalam kacang-kacangan dan obat-obatan). Defisiensi enzim ini menyebabkan produksi NADPH sebagai tenaga pereduksi dan glutation tereduksi yang dihasilkan sel darah merah lebih rendah, sehingga sel bersifat lebih oksidatif dan rentan mengalami hemolisis pada saat terpapar stress oksidatif, radikal bebas, ataupun infeksi. Mudah lisisnya sel darah merah menyebabkan parasit malaria seperti Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax tidak dapat hidup cukup lama untuk menginfeksi sel darah merah lainnya, sehingga orang-orang yaang mengalami defisiensi enzim G6PD sangat jarang terkena kasus malaria yang parah. Ironisnya penggunaan Primaquine sebagai obat radikal untuk mengobati malaria secara luas dapat menyebabkan hemolisis bila diberikan kepada individu defisiensi G6PD. Primaquine (PQ) adalah senyawa oksidatif yang berbahaya bagi individu G6PDd karena mereka tidak bisa menangkap radikal bebas atau senyawa oksidan yang dihasilkan oleh PQ. Hal ini menyebabkan oksidasi hemoglobin dalam tubuh menjadi methaemoglobin yang akan beragregasi dan mengikat protein integral membran sel darah merah dan menyebabkan hemolisis, (Ramadhian, 2013).
Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) adalah penyakit genetik terpaut kelamin yang telah menyerang kurang lebih 400 juta orang di seluruh dunia dan mempunyai frekuensi yang tinggi di Afrika, Mediterranean, dan populasi Asia yang merupakan wilayah endemik malaria (Gelehrter et al., 1998). Kelainan enzim yang pa1ing umum terjadi pada manusia ini menyebabkan bayi yang baru lahir berwarna kuning, yang dapat menyebabkan "kernicterus" dan kematian atau kelumpuhan. Kelainan ini juga dapat menyebabkan krisis hemolitik yang mengancam jiwa penderita apabila berinteraksi dengan obat-obatan tertentu atau kacang "fava", (Teresa, 2010).
Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) adalah enzim dalam lintasan Pentosa Fosfat yang mengkatalisis konversi Glukosa-6-fosfat menjadi 6- fosfoglukono-δ-lakton dan menghasilkan koenzim Nikotinamid Dinukleotida Fosfat (NADPH) yang berfungsi sebagai tenaga pereduksi di dalam sel. Karena tidak memiliki mitokondria, lintas Pentosa Fosfat merupakan satu-satunya sumber penghasil NADPH dalam sel darah merah. Pada saat bereaksi G6PD menghasilkan NADPH dan atom hidrogen yang dibutuhkan oleh sel untuk mengaktifkan Glutation tereduksi (GSH) dari bentuk teroksidasinya (GSSG) melalui bantuan enzim Glutation reduktase. Glutation tereduksi esensial bagi sel berfungsi untuk menjaga bentuk sel tetap normal, menangkap radikal bebas dan menjaga hemoglobin tetap dalam bentuk fero sehingga tetap mampu berfungsi sebagai pembawa oksigen, (Ramadhian, 2013).
Gen Enzim terletak pada lengan panjang dari kromosom X (Xq28) dan lebih cenderung mempengaruhi laki-laki daripada perempuan dan lebih mengafeksi pria dibandingkan wanita karena lebih rentannya pria terhadap kondisi genetik yang terpaut kromosom X, seperti halnya defisiensi G6PD. Analisis-analisis klinis dan biokimia telah mengkarakterisasi lebih dari 400 varian yang kebanyakan disebabkan mutasi titik pada gen penyandi. Perubahan basa menghasilkan perubahan asam amino yang berbeda yang menyebabkan terjadinya perubahan fenotip dengan abnormalitas aktivitas enzim yang berbeda-beda dan diiringi dengan gejala klinis yang berbeda pula. Monomer G6PD memiliki 515 asam amino dengan berat molekul 59 Kda dan hanya aktif dalam bentuk dimer atau tetramer yang juga berikatan NADP. Pelipatan antara 2 bentuk yang aktif bergantung pada pH . Agregasi dari monomer yang aktif dan konversinya menjadi bentuk yang aktif akan berpengaruh kepada keberadaan NADPH, (Ramadhian, 2013).
Studi aspek genetik dari penyakit defisiensi G6PD penting untuk menentukan apakah seseorang akan menderita penyakit ini. Gen G6PD terdapat pada lokus q28 kromosom X dan merupakan penyakit genetik bersifat resesif-terpaut kelamin yang lebih banyak diderita oleh pria daripada wanita. Penyakit akibat defisiensi G6PD pada wanita akan muncul bila terdapat dua kopi gen yang defektif dalam genomnya. Selama terdapat satu kopi nor-mal gen G6PD pada seorang wanita akan diproduksi enzim normal sehingga wanita tersebut hanya seorang karier (pembawa sifat) dengan fenotipe normal. Pada pria hanya terdapat satu kromosom X sehingga satu gen yang defektif pasti menyebabkan defisiensi G6PD, (Teresa, 2010).
Berdasarkan manifestasi fenotip yaitu keparahan tingkat hemolisis sel darah merah terhadap paparan senyawa oksidatif dan tingkat aktivitas enzimnya, WHO mengklasifikasikan defisiensi G6PD menjadi lima kelompok  Kelas 1 ialah kelompok defisien Chronic nonspherocytic hemolytic anemia ; Kelas 2 kelompok defisien dengan aktivitas enzim 10% dibawah normal ; Kelas 3 defisien enzim moderat dengan aktivitas enzim 10-60% ; kelas 4 defisien ringan dengan tingkat aktivitas 60-100% dan kelas 5 adalah peningkatan aktivitas enzimatik yang tinggi, (Ramadhian, 2013).
G6PD adalah salah satu kelainan yang diturunkan terpaut pada kromosom X . Diperkirakan defisiensi G6PD ditemukan pada sekitar 400 juta penduduk di seantero dunia terutama pada daerah tropis, serta banyak ditemukan pada kelompok laki-laki dibandingkan perempuan. Berdasarkan kriteria WHO 1989, defisiensi G6PD diklasifikasikan dalam lima kelompok yaitu: klas I adalah varian yang dapat menyebabkan terjadinya chronic non-spherocytic hemolytic anemia, klas II dan III adalah varian yang ditandai dengan menurunnya aktivitas enzim, klas IV varian dengan aktivitas enzim normal, serta klas V varian dengan aktivitas enzim yang berlebihan. Manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada keadaan defisiensi adalah icterus neonatorum pada bayi baru lahir, dan anemia hemolitik akut terutama pada laki-laki Walaupun klas II sampai klas V tidak menyebabkan keadaan anemia hemolitik kronis, tapi dapat terjadi anemia hemolitik akut bila terdapat faktor pencetus akibat adanya gangguan oksidasi pada infeksi dan penggunaan obat, (Josef, 2019 Vol. 1 No.5 ).
Preparat obat yang menjadi kontra indikasi adalah gametosida yaitu primakuin. Aktivitas G6PD diperlukan oleh eritrosit dalam mempertahankan keutuhannya terhadap pengrusakan yang disebabkan oleh peroksida yang terbentuk karena pemakaian primakuin. Berdasarkan hal tersebut, maka sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan keadaan enzim sebelum memutuskan memberikan obat primakuin pada penderita malaria. Sekarang telah dikembangkan teknik berupa G6PD Assay Kit untuk mendeteksi defisiensi G6PD yang dapat dilakukan cepat dan mudah, karena menggunakan peralatan praktis serta dapat dilaksanakan di lapangan. Pembacaan hasil hanya membutuhkan waktu lima belas menit, yang ditandai dengan adanya perubahan warna, (Josef, 2019 Vol. 1 No.5 ).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.   PRINSIP PERCOBAAN
Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH. Defisiensi G6PD merupakan salah satu kelainan enzimatik herediter yang paling sering dari eritrosit manusia. Penelitian terbaru juga menyatakan bahwa aktivitas G6PD memainkan peran penting dalam mengontrol pertumbuhan sel melalui produksi NADPH.
B.     ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
a) Tabung reaksi
b) Rak Tabung
c) Mikropipet 
d) Torniquet
e) Stopwatch
2.      Bahan
a) Spoit
b) Natrium Sitrat 3,8%
c) Plasma/Control
d) Label
e) Sodium Nitrat glucose solution 0,1 
f) Alkohol swab 70%
g) Tip
h) Kertas Label
i) Pot sampel 
j) Methylene Blue 0.1 ml.
C.    CARA KERJA 
a)      Diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA
b)       Diberi label pada masing- masing tabung
c)       Diberi control masing-masing kontrol1,2,dan 3
d)     Dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung
e)      Diberi Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung
f)        Dihomogenkan reagen dan sampel
g)       Dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control
h)       Dicampurkan sampel darah dan reagen
i)         Dihomogenkan kembalu menggunkan tangan
j)        Dipipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen
k)       Diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit
l)        selanjutnya di inkubasi kembali selama 90 menit
m)     Di Homogenkan kembali
n)      Ditambahkan 2,ml  with distilled water dan di inkubasi
o)      Dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control
p)   Dihomogenkan kembaliDitambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan r) Ditambahkan 20 mikron liters test lalu dihomogenkan
D.       INTERPRESTASI HASIL : 
         G6PD : Negatif

BAB IV
PEMBAHASAN
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel dengan kadar yang berbeda beda. Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang penting dalam metabolisme sel darah merah yang bekerja pada metabolisme karbohidrat
Berdasarkan tingkat keparahan/jenis manifestasi klinis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan defisiensi G6PD sebagai berikut :
Kelas I : defisiensi enzim sangat berat, dengan anemia hemolitik nonspherocytic kronis. Kelas II : defisiensi enzim berat dengan aktivitas enzim kurang dari 10% dari aktivitas normal, dengan anemia hemolitik kronis. 8
Kelas III : defisiensi enzim ringan dengan aktivitas enzim antara 10–60% dari aktivitas normal, anemia hemolitik terjadi bila terpapar bahan oksidan atau infeksi.
Kelas IV : aktivitas yang sangat ringan, aktivitas enzim > 60% aktivitas normal dan tidak memberikan gejala anemia hemolitik.
Kelas V : aktivitas enzim > 150% aktivitas normal Defisiensi enzim G6PD bukan merupakan suatu penyakit yang serius dan secara keseluruhan individu dengan kekurangan enzim ini terlihat sehat.
Timbulnya gejala klinis dipicu dengan adanya stres oksidatif pada sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh : Obat anti-malaria seperti Primakuin, Beberapa obat lain seperti Paracetamol, Sejenis kacang-kacangan/fava beans (komponen seperti divicine dan isouramil), Bahan kimia seperti nepthalene ,semprotan antijamur, Herbal seperti Coptis sinesis dan Kalkulus bovis,  Penyakit infeksi
Peran G6PD pada metabolisme eritrosit Pada sel eritrosit terjadi metabolisme glukosa untuk menghasilkan energi (ATP), yang digunakan untuk kerja pompa ionic dalam rangka mempertahankan milieu ionic yang cocok bagi eritrosit. Pembentukan ATP ini berlangsung melalui jalur Embden Meyerhof yang melibatkan sejumlah enzim seperti glukosa fosfat isomerase dan piruvat kinase, sebagian kecil glukosa mengalami metabolisme dalam eritrosit melalui jalur heksosa monofosfat dengan bantuan enzim G6PD untuk menghasilkan glutation yang penting untuk melindungi hemoglobin dan membrane eritrosit dari oksidan. Defisiensi enzim piruvat kinase, glukosa fosfat isomerase dan G6PD dapat mempermudah dan mempercepat hemolisis. Yang paling sering mengalami defisiensi adalah G6PD.
Metabolisme glukosa melalui jalur heksosa monofosfat meningkat beberapa kali ketika eritrosit terpapar dengan obat-obatan atau toksin yang membentuk radikal bebas (Rinaldi,2009). G6PD menginisiasi jalur ini dengan menjadi katalis oksidasi glukosa-6-fosfat menjadi 6-phosphogluconolactone oleh ko-enzim nikotinamida adenin-dinucleotidephosphate (NADP), yang dikurangi menjadi NADPH. 6-phosphogluconolactone menghidrolisis secara spontan untuk 6- phosphogluconate. Ini berfungsi sebagai substrat untuk 6-phosphogluconate dehidrogenase dan NADP. Langkah kedua dalam jalur enzimatik ini juga berhubungan dengan pengurangan NADP+ untuk NADPH. NADPH dihasilkan sebagai akibat dari reaksi mengurangi glutation teroksidasi (GSSG) untuk mengurangi glutation (GSH) dalam reaksi dikatalisis oleh glutation reduktase. GSH kemudian mengurangi hidrogen peroksida, oksidan kuat yang dihasilkan dalam metabolisme sel dan sebagai konsekuensi dari respon inflamasi, dan oksidan endogen dan eksogen lainnya, pada reaksi katalis oleh glutathione peroksidase.
Ada 2 macam Manifestasi klinis defisiensi G6PD yaitu  Anemia hemolitik dan nonhematoloogik
  1. Anemia hemolitik Sebagian besar manifestasi jenis mutan gen G6PD yang mengakibatkan aktivitas enzimnya kurang dari 60% dari normal. Anemia hemolitik akut terjadi setelah paparan obat atau bahan kimia. Umumnya, setelah satu sampai tiga hari terpapar bahan-bahan tersebut, penderita akan mengalami demam, letargi, kadang disertai gejala gastrointestinal. Hemoglobinuria merupakam tanda kardinal, terjadinya hemolisis intravaskular ditandai dengan terjadinya urine berwarna merah gelap hingga coklat. Kemudian timbul ikterus dan anemia yang disertai takikardia. Primakuin merupakan salah satu obat yang dapat memicu hemolisis. Pada umumnya obat tersebut berinteraksi dengan hemogloblin dan oksigen, yang mengakibatkan produksi oksidan dan radikal bebas meningkat. Ada beberapa obat yang cukup aman untuk diberikan pada mutan gen G6PD kelas II dan kelas III, anatar lain aspirin, vitamin C, acetaminofen, sulfaxoxasole, dan vitamin K, asalkan diberikan dalam dosis terapi yang umum digunakan. Obat yang tidak aman untuk jenis mutan Gen G6PD kelas I, II, dan III misalnya primakuin, asam nalidilat, nitrofurantoin, sulfamilamid.
  2.  Anemia non hematologik Beberapa kasus defisiensi G6PD dilaporkan dapat memberikan manifestasi non hematologik. Dilaporkan bahwa defisiensi G6PD dapat mengakibatkan juvenile cataract pada lensa mata. Bahkan bilateral cataract ditemukan pada anak dengan defisiensi G6PD.
Defisiensi G6PD dapat menyebabkan kejang otot, kelelahan pada otot, dan infeksi kronis. Dilaporkan pula bahwa defisiensi aktivitas enzim G6PD pada lekosit dan netrofil dapat menyebabkan defek pada sistem imun yang menyebabkan infeksi kronis dan terbentuknya granuloma pada beberapa kasus.
Hubungan G6PD protektif terhadap infeksi malaria diduga karena terjadinya degradasi Hemoglobin (Hb) pada individu dengan G6PD yang berdampak kepada berkurangnya produksi Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate-H (NADPH) yang berguna sebagai pelindung dinding eritrosit dari kerusakan (lisis). Hal ini berdampak individu dengan G6PD dapat menghambat pertumbuhan merozoit selama stadium intrasel menjadi tidak dapat berkembang.
Tes fenotip aktivitas enzimatik G6PD pada darah vena segar merupakan metode diagnostik yang paling umum. Tes fenotip dapat dibagi menjadi 4 kategori:
1.  Tes Direk Yang Langsung Menilai Aktivitas Enzimatik G6PD.
 -   Standar perhitungan adalah berdasarkan spektrofotometer.
 -   Tes spot fl uorescent Beutler’s merupakan tes skrining populer yang menginkubasi hemolisat dengan substrat reaksi G6PD, ditempatkan di kertas fi lter dan disinari ultra violet (450 nm). Fluoresensi menunjukkan aktivitas G6PD. Tes ini paling mudah meskipun masih jauh dari ideal.
2. Tes Indirek Yang Mencakup Tes Reduksi Methemoglobin.
Sel eritrosit direaksikan dengan nitrit dan substrat glukosa kemudian tingkat NADPH-dependent methaemoglobin reduction di-nilai dengan katalis redoks.
-    Derajat NADPH dependent met-haemoglobin reduction berkorelasi dengan aktivitas G6PD. Metode indirek lain menggunakan kromofor seperti brillian cresil blue, resazurin, formazan untuk memantau produksi NADPH.
3. Tes Sitokimia Yang Menilai Status G6PD Eritrosit.
Dapat digunakan untuk deteksi laki-laki defisiensi homozigot, perempuan defi siensi homozigot dan heterozigot.
-Tes sitokimia mencakup methaemoglobin elution test dengan melabel eritrosit berdasarkan jumlah relatif methe-moglobinnya sesuai metode indirek dengan tes reduksi methmoglobin.
Metode terbaru sitofluorometrik mendeteksi autofluoresens terinduksi glutaraldehid dengan formazan yang menggunakan teknik flowsitometri.
4.      Tes Cepat Dengan Point Of Care Tests (POCT).

BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan defek enzim herediter dari eritrosit  manusia  yang paling sering ditemukan. Enzim G6PD bekerja pada jalur fosfat pentosa  metabolisme karbohidrat.  Diwariskan secara X-linked, oleh karena itu mutasi pada gen G6PD, ditemukan lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan, menyebabkan varian fungsional dengan beberapa biokimia dan fenotipe.
B.     SARAN
Adapun saran yaitu pada praktikum selanjutnya praktikan dapat lebih tertib dalam laboratorium dan memakai APD (Alat Pelindung Diri) dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Engli, Katherina Alfa, 2012. “Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase  (G6PD)”. Malang: Universitas Brawijaya
Maria ,Dewajanti Anna. 2015.”Peranan Enzim Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase dalam Mempertahankan Integritas Membran Sel Darah Merah terhadap Beban Oksidatif” Vol. 21 No. 56. Universitas Kristen Krida Wacana.
Noor, Dimas Ramadhian. 2013.“Karakterisasi Molekuler Defisiensi Enzim Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase Homo sapiens di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur” Bogor : skripsi.
Silva, Avelina Yolanda Moeda Da. 2019.“Gambaran Defisiensi G6pd Pada Penderita Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Elopada”Kupang : Karya Tulis Ilmiah.
Tuda, Josef S. B. 2019 .“Prevalensi defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) pada anak Sekolah Dasar yang tinggal di daerah endemis malaria di Sulawesi utara”Vol.1 No .5. Department of Parasitology, Sam Ratulangi University Faculty of Medicine, Manado.
Wargasetia, Teresa Liliana.2010. ”Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase”jakarta: EGC.



Monday, May 4, 2020

TUGAS PEMERIKSAAN TES TIBC DAN TES FIRITIN

       
HEMATOLOGI III
“PEMERIKSAAN FERRITIN DAN TIBC”





NAMA                     : VALANTINE WAAS
NIM                          : 18 3145 353 112
KELAS                     : 2018 C



STUDI D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA RESKY
MAKASSAR
2020


 















    


A.    Pemeriksaan Ferritin
1.                Pra Analitik
a.       Persiapan Pasien : pasien berpuaasa paling tidak 12 jam sebelum di ambil darah
b.      Tes fernitin lebih akurat  saat di lakukan pagi hari sebelum sarapan
c.       Metode : ELISA Double Sandwich
d.      Prinsip kerja : pemeriksaan fernitin serum memakai metode ELLISA dengan cara dounble sandwich. Antibody dengan hight affinity terhadap ferrnitin  atau antiferitin igG akan berikatan dengan ferritin serum dan selanjutnya dilabel dengan enzim horseradish peroxidase dan di baca absorbanya pada panjang gelombang 492 nm.
e.       Reagen :
1)      Preparat antiferitin Ig G yang di konjungasi dengan horseradish peroxidase
2)      Larutan fernitin di buat dengan cara :
a)       Encerkan Human ferritin 200 ul/ml ke dalam 10 ug/ml dalam 0, 05 mol/l larutan sodium  barbitone yang terdiri dari 0,1 mol/l NaCL 0, 02% NaN dan BSA 5 gr/dl, Ph di sesuaikan sampai ph 8 dengan menambahkan HCL 5 mol/l
b)      Bagi dalam 200 tabung kecil , masing masing berisi (200 ul, tutup rapat dan tahan sampai 1 tahun pada suhu 4 derjat C
c)      Jika di pakai, encerkan dengan buffer B  SAMPAI 1000 Ul/l dan siapkan larutan dalam range 0,2-25 ug/l  di bandingkan  dengan standar WHO untuk uji serun ferritin 94/572)
3)       Buffer A : phosphate-buffered saline ph 7.2
4)       Buffer B : 5 gram BSA ( bovine serum albumin ) dalam 1 liter buffer A
5)       Buffer C : carbonate bufer Ph 9,6
6)       Buffer D : Citrate phosphate buffer  PH
7)       Larutan substrat 
2.               Analitik  
a                a. Lapisi microtiter plate dengan cara :
1)      Preparat antiferitin Ig G di encerkan dengan 2 ul/ ml buffer C, tambahkan 200 ul ke dalam tiap-tiap sumuran.
2)      Tutup dan inkubasi semalaman pada suhu 40 kosongkan sumuran dengan cara di balik-balik dan di-tapping pada handuk kering
3)      Tambahakan 200 ul 0, 05 % BSA dalam buffer C, diamkan 30 menit pada suhu ruangan
4)      Cuci tiap sumuran  dengan buffer A Sampai 3x . plate dapat di simpan 1 minggu pada tempat kering dan suhu 4 derajat C
b.Encerkan 50 ul serum pasien dengan 1 ml buffer B
c. Tambahkan 200 ul larutan standar dan serum pasien ke dalam tiap sumuran  dalam waktu 20 menit
d.            Tutup dan diamkan selama 20 menit pada suhu kamar dan jaukan dari sinar matahari
e. Kosobgkan sumuran dan cuci 3 kali dengan buffer A
f. Tambahkan  200 ul preparat konjungasi antiferritin Ig G dengan horseradish peroxidase yang sidah di encerkan, tutup dan diamkan selama 2 jam pada suhu kamar
g.Cuci 3x dengan buffer A
h.Tambahkan 200 ul larutan substrat pada tiap-tiap sumuran untuk menghentikan raksi
i.  Tunggu 30 menit dan baca absorbanya 492 nm dengan microtiter plate reader, atau ambil 200 ul larutan dari tiap sumuran  dan  masukan dalam 800 ul air , baca dengan fotometer.
1   Pasca Analitik
a.       Pria : 18- 270 mcg/L
b.      Wanita : 18- 160  mcg/L
c.       Anak-anak : 7-140 mcg/L
d.      Bayi usia – 5 bulan : 50-200 mcg/L
e.       Bayi baru lahitr : 25-200 mcg/L











A.            Pemeriksaan TIBC
1.      Pra analitik
a.       Persiapan Pasien : tidak ada persiapan khusus untuk pemeriksaan
b.      Pengambilan spesimen : pengambilan specimen di vena cubiti
c.       Metode : saturasi
d.      Prinsip kerja : serum di tambahakan kelebihan besi  atau Ferriklorid. Besi yang tidak terikat  transferrin akan diabsorbsi oleh magnesium carbonate, kemudian kadar besi serum di ukur
e.       Persiapan alat dan bahan :
1)      Spektrofotometer
2)      Centrifuge
3)      Spuit 3 cc
4)      Tourniquet
5)      Tabung reaksi
6)      Kapas alcohol
7)      Mikropipet 1000 μL, 20 μL
8)      Tip
9)      Reagen Basic magnesium carbonate
10)  Saturating solution
11)  deionized water
12)  HCl
13)  larutan standar
14)  Saturating iron solution
2.      Analitik
a                a.     Diasiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b.      Di pipet ,5 ml serum ke dalam tabung reaksi
c.       Di tambahkan 0,5 ml/ saturating iron solution
d.      Di campur dan di diamkan 15 menit pada suhu ruangan
e.       Di tambahkan 100 mg magnesium carbonate dan di homogenkan
f.       Diamkan selam 30 menit, sesekali di homogenkan
g.      Di sentrifus ,13. 000 selama 4 menit
h.      Di ambil 0,5 ml larutan kromogen tunggu hingga 10 menit
i.        Di baca absorbans pada panjang gelobang 562 nm.
3.      Pasca Analitik
Nilai rujukan 47-7 µmol / L