HEMATOLOGI
III
“RETIKULOSIT”
NAMA :
VALANTINE WAAS
NIM :
18 3145 353 112
KELAS :
2018 C
STUDI
D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA RESKY
MAKASSAR
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Retikulosit
adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal
dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan
organela basofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa
endapan dan berwarna biru apabila di cat dengan pengecatan biru metilin.
Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama
24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Pada pasien
tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara1 –2%. Jumlah ini penting
karena dapat digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas
eritropoiesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi anemia
sebagai hiperproliferatif normoproliferatif, atauhipoproliferatif. Penghitungan
jumlah retikulosit ini bisa dilakukan dengan metode manual menggunakan
pengecatan supravital dan bisa dengan analisa otomatis flowsitometer, (Ketut, 2010).
Hitung jumlah
normal retikulosit adalah 0,5-2,5% dari jumlah absolute 25-125x109/l. Jumlah
ini seharusnya meningkat pada anemia karena terjadinya peningkatan
eritropoietin dan makin tinggi jika anemia makin berat. Hal ini jadi nyata bila
sudah ada waktu untuk terjadinya hyperplasia eritroid di sumsum tulang seperti
pada hemolisis kronik. Setelah perdarahan berat akut, terdapat respon
eritropoietin di sumsum tulang seperti pada hemolisis kronik. Setelah
pendarahan berat akut, terdapat respon eritropoietin dalam 6 jam, hitung
retikuosit meningkat dalam 2-3 hari, mencapai maksimum dalam 6-10 hari, dan
tetap tinggi sampai kadar hemoglobin kembali normal. Hasil hitung retikulosit
pada pasien anemia yang tidak meningkat menunjukkan terganggunya fungsi sumsum
tulang atau kurangnya rangsangan eritropoietin, (Zefika dan Lucia,2019).
Oleh karena itu yang melatar belakangi pemeroksaan kali
ini agar kita dapat mengetahui penjelasan mengenai retikolosit dan prosedur
pemeriksaan retikolosit yang baik dan benar sesuai SOP yang ada.
B.
Tujuan Praktikum
Untuk Mengetahui
prosedur kerja dari pemeriksaan retikolosit
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Retikulosit yang sangat
muda (imatur) adalah
retikulosit yang dilepaskan ke darah tepi akibat adanya rangsangan akibat
anemia dan hal ini disebut stressed reticulocyte.Retikulosit jenis ini
mempunyai masa hidup invivo yang lebih pendek apabila ditranfusikan kedalam
resipien normal dan secara umum dianggap sel ini tidak normal karena tidak
melalui perkembangan sel yang normal sampai ke divisi terminal dari
perkembangan retikulosit. Sebuah studi ingin meneliti masa hidup dari
retikulosit normal dan retikulosit stress ini baik pada pasien normal maupun
pasien anemia. Masa
hidup retikulosit akan normal kalau normal retikulosit diinjeksikan kebinatang
yang nonanemik; oleh karenagangguan intrinsik dari retikulosit stress, akan
menyebabkan sel ini lebih cepat di bersihkan dari sirkulasi olehresepien normal dengan kecepatan yang lebih besar
dibandingkan dengan resepien yang anemia ;dan baik retikulosit normal maupun
retikulosit yang stress akan disingkirkan dengan kecepatan yang bertambah
dengan berlalunya waktu pada penderita yang anemia ,(Ketut, 2010).
Rretikulosit adalah sel darah yang masih muda
yang dihasilkan sumsum tulang yang mengandung RNA dan beberapa protein organel
sel. Sel ini secara bertahap akan kehilangan produksi proteinnya, dan secara
normal akan menjadi sel darah merah matur (eritrosit)kira-kira setelah1 –2 hari
berada dalam darah tepi.
setelah ditemukan
automated analyzer yang mampu melakukan pemeriksaan beberapa parameter
retikulosit baru antaralain fraksiretikulositimatur(IFR), volume
rerataretikulosit(MCVr), dan reratahemoglobin dalam retikulosit(CHr) 2010 Vol.11.No.3).
Retikulosit ini sering
dapat dibedakan pada apusan darah yang diwarnai Wright karena ukurannya yang
besar dan warnanya keabu-abuan atau ungu. Retikulosit biasanya berada di darah
selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi sel darah merah .
Apabila retikulosit dilepaskan secara dini dari sumsum tulang, retikulosit
imatur dapat berada di sirkulasi selama 2-3 hari. Pada pasien tanpa anemia
hitung retikulositnya berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat
digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoiesis di sumsum
tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi. Retikulosit merupakan
parameter yang umum digunakan untuk menilai keberhasilan terapi besi pada
anemia defisiensi besi, (Zefika dan Lucia, 2010).
Indeks produksi
retikulosit adalah angka yang menunjukkanproduksi eritrosit oleh sumsum tulang
pada pasien yang menderita anemia. Indeks ini digunakan untuk mengukur tingkat
produksi eritrosit oleh sumsum tulang. Hasil penghitungan retikulosit tersebut
harus dilakukan koreksi terhadap kadar hematokrit pasien yang bersangkutan dan
koreksi terhadap efek dari eritropoietin terhadap proses pelepasan retikulosit
muda dari sumsum tulang ke darah tepi, (Dearasi, 2015
).
Pada
kebanyakan laboratorium biasanya secara otomatis dilakukan koreksi dengan
jumlah absolut eritrosit sehingga didapatkan jumlah absolut dari retikulosit,
atau dengan mengalikan dengan fraksi hematokrit pasien dengan hematokrit normal
(45%). Banyaknya retikulosit dalam darah tepi menggambarkan eritropoesis yang
hampir akurat. Peningkatan jumlah retikulosit di darah tepi menggambarkan
produksi eritrosit meningkat dalam sumsum tulang. Sebaliknya, hitung
retikulosit yang rendah terus-menerus dapat mengindikasikan keadan hipofungsi
sumsum tulang atau anemia aplastik,
(Dearasi,
2015 ).
Indeks
produksi retikulosit bermanfaat untuk menentukan klasifikasi fungsional anemia.
Parameter laboratorium yang lebih spesifik selanjutnya bermanfaat dalam
tatalaksana. Pada beberapa kasus sering terjadi ketidak sesuaian nilai indeks
produksi retikulosit dengan jenis anemia, (Dearasi, 2015
).
Hitung retikulosit
merupakan komponen esensial dari pemeriksaan darah lengkap (CBC =Complete Blood
Count)dan berperan penting pada klasifikasi jenis anemia. Ada 2 cara untuk menghitung retikulosit
didarah tepi. Cara manual yaitu dengan menghitung retikulosit pada gambaran
darah tepi yang diwarnai dengan pewarna biru metilen. Pewarna ini akan
mengendapkan dan mewarnai RNA sehingga sel retikulosit dapat dikenal diantara
sel darah merah matang lainnya dan retikulosit dihitung dengan membandingkan
jumlah retikulosit dengan sekitar 1000 sel darah merah. Hasil hitungan ini
dinyatakan dalam persentase, yang harga normalnya berkisar antara 1 – 2%.
Sedang cara lainya adalah dengan memakai alat flowcytometer. Dengan cara inidi
samping hitung retikulosit juga dapat dikenal tingkat pematangan retikulosit
yaitu dengan melihat jumlah kandungan RNA dari sel tersebut. Makin banyak
jumlah RNA maka makin muda sel retikulosit, (Ketut, 2010).
Metoda flowcytometer
dilakukan berdasarkan pengukuran tingkat fluororesensi dari pengecatan khusus
yang mengikat RNA dengan fluorokrom. Metoda ini meningkatkan presisidan akurasi
pemeriksaan retiulosit. Karena jumlah dan karakteristik retikulosit juga
merefleksikan aktifitas sumsum tulang, maka pemeriksaan retikulosit menjadi
salah satu pemeriksaan dasar yang penting untuk penatalaksanaan klinis beberapa
penyakit. Pemeriksaan beberapa parameter barudari retikulosit banyak
dipergunakan untuk menegakkan berbagai jenis anemia pada kondisi klinis yang
baru, seperti monitoring terhadap regenerasi eritroid setelah pemberian
kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang serta mengetahui respon
eritropoiesis setelah pemberian terapi eritropoietin, (Ketut, 2010).
Tingkat maturitas
retikulosit dapat menjadi indikator klinis aktivitas eritropoetik serta
informasi tambahan yang berguna di samping nilai hitung retikulosit. Peningkatan
retikulosit imatur umumnya terjadi pada regenerasi sumsum tulang. pasca
kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang dan pasca terapi anemia. sehingga
dapat digunakan untuk mengikuti. hasil pengobatan anemia. Anemia
secara.fungsional didefinisikan sebagai. penurunan massa eritrosit dengan
akibat. oksigenasi jaringan tidak dapat terpenuhi. Beberapa jenis anemia yang ada pada pasien
tuberkulosis yaitu anemia penyakit kronis, merupakan salah satu penyebab tersering anemia pada penderita. Anemia.
penyakit kronis ditemukan pada 72 %
penderita tuberkulosis yang mengalami. infiltrasi ke sumsum tulang, ( Sri Aprilianti, 2010).
Hitung retikulosit yang
tidak meningkat pada seseorang memberi dugaan terganggunya fungsi sumsum tulang
atau kurangnya rangsangan eritropoitin Tubuh yang kehilangan darah akan terjadi
peningkatan jumlah retikulosit dan menandakan bahwa sumsum tulang bereaksi
secara normal. Kehilangan darah biasanya menyebabkan retikulosis yaitu jumlah
retikulosit meningkat dari nilai normal dalam waktu 1-2 hari dan mencapai
puncaknya pada hari ke-4 sampai ke-7. Sedangkan menurut Hoffbrand respon retikulosit mulai pada hari kedua atau
ketiga dan berlangsung selama. 8-10 hari,(
Yane Liswanti, 2015 Vol.13.
No.1)
Kondisi
normal jumlah retikulosit dalam sumsum tulang adalah sama dengan retikulosit
yang ada dalam peredarah darah. Karena masa hidup normal atau waktu
kelangsungan hidup eritrosit adalah 120 hari, maka 1/120 hari jumlah eritrosit
hilang setiap hari, dan retikulosit dalam jumlah yang sama dilepaskan kedalam
sirkulasi. Dipengaruhi oleh eritropoietin, jumlah retikulosit premature yang
dilepaskan dari sumsum tulang akan meningkat. Jumlah retikulosit yang meningkat
sebagai indikasi dari umur eritrosit yang menjadi lebih pendek dibandingkan
normal yang didasarkan terhadap menurunnya jumlah eritrosit total. Menurunnya
jumlah retikulosit dapat disebabkan oleh umurnya lebih pendek atau menurunnya
produksi. Retikulositosis menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha untuk
mempertahankan homeostatis. Jumlah retikulosit yang dinyataan sebagai
presentasi dari jumlah sirkulasi eritrosit, (Zefika Lutf, 2019).
Hitung retikulosit yang
meningkat pada kadar hemoglobin yang normal menunjukkan bahwa sel darah merah
sedang mengalami kerusakan atau hilang, tetapi sumsum tulang telah meningkatkan
produksi eritrosit untuk mengkompensasi kebutuhan tubuh. Pada kadar hemoglobin
yang rendah, hitung retikulosit 0,5% sampai 2,5% mengisyaratkan bahwa respon
terhadap anemia tidak memadai. Hal ini dapat terjadi akibat gangguan atau
penurunan produksi sumsum tulang atau penurunan kadar eritropoietin. Apabila
seseorang mengidap anemia, jumlah eritrosit yang beredar turun sehingga
presentasi retikulosit “normal" (0,5%-2,5%) akan meningkat. Pada defisiensi
besi, terutama pada anemia akibat pengeluaran darah berkepanjangan, pemberian
terapi besi menghasilkan respons retikulosit dalam 4 sampai 7 hari. Beberapa
literatur menyebutkan kadar maksimal retikulosit tercapai pada hari ke 5-7
setelah terapi. (Zefika Lucia,2019).
Menurut Riandi Wirawan
(2019) Hitung retikulosit dipengaruhi oleh variasi. biologik, jenis kelamin,
merokok dan umur.
1. Pada
variasi biologik dilaporkan terdapatnya variasi diurnal, hitung retikulosit 20% lebih tinggi pada pagi
hari dibandingkan sore hari.
2. Hitung retikulosit pada wanita lebih tinggi
dari pada pria karena adanya rangsangan eritropoesis oleh adanya siklus haid.
3. Pada pasien perokok, pasien akan mengalami
hipoksia yang menyebabkan terpicunya eritropoietin oleh ginjal yang
mengakibatkan rangsangan pembentukan eritrosit di sumsum tulang.
4. Hitung retikulosit pada usia lanjut
lebihrendah daripada dewasa, karena aktifitaseritropoesis pada usia lanjut
berkurang dibandingkan dengan orang dewasa.
Manfaat hitung
retikulosit membantu dokter untuk mengetahui aktifitas dari eritropoesis. Bila
meningkat akan disertai dengan peningkatan jumlah retikulosit absolut dan nilai
IRF. Hal ini terjadi pada eritropoesis yang efektif. Pada eritropoesis yang
tidak efektif, peningkatan IRF tidak disertai dengan meningkatnya jumlah
retikulosit absolut.Pada keadaan patologik, hitung retikulosit absolut
meningkat pada anemia hemolitik, anemia pasca perdarahan dan anemia yang
berhasil dalam pengobatan. Pada anemia hemolitik, hitung retikulosit absolut
dapat meningkat sampai 10x batas nilai rujukan dan disertai peningkatan nilai
HFR yang tinggi. Hal ini dijumpai adanya korelasi yang terbalik antara nilai
hitung retikulosit absolut dengan kadar hemoglobin ; makin tinggi nilai hitung
retikulosit makin rendah kadar hemoglobin. Selain itu, hitung retikulosit
absolut dapat meningkat pada polisitemia vera. Sebaliknya pada anemia
hipogeneratif seperti anemia aplastik dan uremia, menyebabkan hitung retikulosit
absolut dan IRF menurun karena aktifitas eritropoesis tertekan, ( Riandi Wirawan, 2019).
Menurut NCLLS-ICSH
1997, retikulosit adalah sel yang dapat dilihat dengan pewarnaan supravital
yang mewarnai asam nukelat dan harus mempunyai lebih dari 2 granula yang dapat
dilihat dengan mikroskop cahaya dan granula tersebut tidak boleh berada di tepi
membran sel. Pewarnaan supravital yang dapat.digunakan adalah larutan Brilliant
Cresyl Blue, New Methylene Blue, Azure
B, Acridine orange untuk metoda visual dan zat warna fluorokrom seperti
Thiazole orange, Auramine O, Oxazine dan Polymethine yang bisa digunakan pada
metode otomatik,(
Riandi Wirawan,
2019).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu
Adapun waktu
yang dilaksanakannya peda praktikum Hematologi III kali
ini yaitu :
Hari : Sabtu
Tanggal : 25 April 2020
Pukul :18.00-10.00
WITA.
B. Alat Dan
Bahan
1. Alat
a.
Mikroskop
b.Pipet tetes
c.
Tabung
Reaksi 12x75mm
d.
Kaca
objek
2.
Bahan
a.
Darah
EDTA
b.Larutan BCB 1% (Briliant Cresyl Blue)
c.
Oil
Emersi
C.
Prinsip Kerja :
Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa
RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui
adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital)
sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital.
D. Pra-Analitik
1.
Persiapan
Pasien :
Tidak memerlukan persiapan khusus
2.
Persiapan Sampel
:
Tes
sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam darah
dimasukkan kedalam tabung EDTA
E.
Analitik
1.
Disiapkan
darah EDTA
2. Dipipet larutan BCB, Masukkan dalam
tabung reaksi sebanyak 3 tetes
3. Dipipet darah EDTA yang sudah di
homogenkan masukan 3 tetes darah EDTA kedalalam tabung reaksi yang berisi larutan BCB tadi
4.
Dihomogenkan
5. Diinkubasi campuran
larutan tadi selama 15 menit pada suhu 37 derajat,setelah di
inkubasi
6. Diambil 1
tetes kemudian di teteskan pada salah
satu sisi(kanan atas objek glas) buat apusan dengan dekatkan objek glas yang
lainya pada tetesan sampel (darah EDTA + larutan BCB) sudut 45
derajat C Dan tarik dengan cepat sehingga membentuk lida api (apusan dara tepi)
7. Dikeringkan dan kemudian langsung
baca dibawah miscroskop menggunakan pembesaran 100x (oil emersi)
8. Diitung jumlah retikulosit dalam
1000 eritrosit.
F. Pasca Analitik
1.
Dewasa : 0.5 - 1.5 %
2.
Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
3.
Bayi : 0.5 - 3.5 %
4.
Anak : 0.5 - 2.0 %
BAB
IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum hematologi III yang
di laksanakan pada hari selasa, 28 April 2020 pukul 08.
00 – selesai WITA. Praktikum ii
berjudul Retikulosit.
Retikolosit merupakan sel darah merah yang masih
muda, tidak berinti, berdiameter 6-9
mikron, dan berasal dari proses pematangan normoblas di. sumsum tulang.
Retikulosit mempunyai jaringan organela basofilik yang terdiri. dari RNA dan
protoforpirin, dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila dicat dengan
pengecatan biru metilin. Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan
bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan
menjadi eritrosit. Jumlah retikulosit pasien tanpa anemia berkisar. antara 1
sampai 2%
Retikulosit diproduksi
oleh sumsum tulang manusia sebagai respon dari adanya anemia. Ada banyak
penyebab peningkatan kadar retikulosit dalam tubuh, seperti:
1.
Pemecahan eritrosit atau anemia
hemolitik. Pada kondisi ini pasien seringkali didapati dengan kekuningan pada mata dan
tubuh.
2.
Respon terhadap terapi seperti terapi
suplemen zat besi, vitamin B-12, atau asam folat, suplementasi untuk
meningkatkan produksi sel darah merah, atau respon dari transplantasi sumsum
tulang.
3.
Perdarahan seperti perdarahan akibat
patah tulang, perdarahan organ dalam, perdarahan saluran cerna, dan menstruasi berkepanjangan
Retikulosit adalah sel
darah merah yang masih muda atau sel eritrosit yang belum matang. Kadarnya
adalah 1% dari eritrosit manusia. Nilai normal retikulosit dalam darah adalah
0,5% - 1.5%.
Hitung retikulosit
umumnya menggunakan metode pewarnaan supravital. Sampel darah dicampur dengan
larutan brilliant cresyl blue (BCB) atau new methylene blue maka ribosome akan
terlihat sebagai filamen berwarna biru. Jumlah retikulosit dihitung per 1000
eritrosit dan dinyatakan dalam %, jadi hasilnya dibagi 100.
Tujuan dari pemeriksaan kali ini adalah untuk mengetahui cara pemerisaasn
retikolosit dengan prinsip yang di gunakam adalah Prinsip retikulosit
yaitu Setelah eritrosit muda
kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu
disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus
diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut
pengecatan supravital
Pada praktikum retikolosit Bahan yang di gunakan adalah darah kapiler. atau darah vena dengan
antikoagulan EDTA. EDTA berfungsi
agar darah ketika di diamkan tidakbeku . Penyimpanan bahan
pemeriksaan perlu memperhatikan stabilitas sampel. Suhu dan lamanya waktu
penyimpanan dapat berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan. Pemeriksaan hitung
jumlah retikulosit menggunakan sampel darah EDTA (Ethylene Diamine Tetra
Acetate) sebaiknya dilakukan segera atau kurang dari 1 jam setelah pengambilan,
namun menurut literatur bila diperlukan darah EDTA dapat disimpan dalam lemari
es (4oC) selama 6 jam. Suhu 4ºC darah EDTA tidak mengalami perubahan morfologi
sel.
Penurunan jumlah
Retikulosit : Anemia (pernisiosa, defisiensi asam folat, aplastik, terapi
radiasi, pengaruh iradiasi sinar-X, hipofungsi adrenokortikal, hipofungsi
hipofisis anterior, sirosis hati (alkohol menyupresi retikulosit)
Peningkatan jumlah
Retikulosit : Anemia (hemolitik, sel sabit), talasemia mayor, perdarahan
kronis, pasca perdarahan (3 - 4 hari), pengobatan anemia (defisiensi zat besi,
vit B12, asam folat), leukemia, eritroblastosis fetalis (penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir), penyakit hemoglobin C dan D, kehamilan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil laboratorium :
1. Bila hematokritnya rendah maka perlu ditambahkan darah
2. Cat yang tidak disaring menyebabkan pengendapan cat pada sel-sel eritrosit
sehingga terlihat seperti retikulosit
3. Menghitung di daerah yang terlalu padat
4. Peningkatan kadar glukose akan mengurangi pewarnaan
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Retikulosit
adalah sel darah merah yang masih muda atau sel eritrosit yang belum matang.
Kadarnya adalah 1% dari eritrosit manusia. Nilai normal retikulosit dalam darah
adalah 0,5% - 1.5%. Retikulosit diproduksi oleh sumsum tulang manusia sebagai
respon dari adanya anemia
Hitung retikulosit dipengaruhi oleh
variasi. biologik, jenis kelamin, merokok dan umur. Prinsip Kerja retikulosit diantaranya Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit
sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui
adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital)
sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital.
B. Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum harus menngunakan APD
lengkap dan harus bekerja sesuai prosedur dari SOP, di harapkan agar praktikum
kedepan dapat menggunakan metode yang lain lagi
DAFTAR
PUSTAKA
Dearasi,.Deby. N. NF..2015
.”Indeks Produksi Retikulosit
Sebagai Diagnosis Dini Anemia Aplastik “ Vol. 4 | No.7.
Ivana,Zefika. L dan Lucia Sincu Gunawan. 2019."Perbedaan Jumlah Retikulosit Sebelum dan Sesudah Pemberian Tablet
Tambah Darah" vol. 12 . No.2. Jawa
tengah : Universitas Setia Budi Surakarta,
Ketut Suega.2010."Aplikasi Klinis Retikulosit" .jakarta : SUPSanglah. Vol.11 No. 3
Sri Aprilianti.2018."Gambaran Retikulosit Terhadap Pemberian Obat Anti. Tuberkulosis (Oat)
Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Perumnas Kadia Kota Kendari".
:kendari .Politeknik Bina Husada Kendari. Vol 6. No 1
Yane Liswanti, 2015."Gambaran Jumlah Retikulosit Sebelum Dan Setelah Donor Darah". Tasikmalaya :STIKes BTH Tasikmalaya.
Vol.13. No.1
Wirawan,
Riandi. 2019."Biomadika Retikulosit".Tanggerang:contact@bio-medika.com
w
No comments:
Post a Comment