Monday, May 4, 2020

LAPORAN PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

                 

HEMATOLOGI III
“RETIKULOSIT”


 


NAMA                     : VALANTINE WAAS
NIM                          : 18 3145 353 112
KELAS                     : 2018 C



STUDI D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA RESKY
MAKASSAR
2020














  BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organela basofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila di cat dengan pengecatan biru metilin. Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara1 –2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoiesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi anemia sebagai hiperproliferatif normoproliferatif, atauhipoproliferatif. Penghitungan jumlah retikulosit ini bisa dilakukan dengan metode manual menggunakan pengecatan supravital dan bisa dengan analisa otomatis flowsitometer, (Ketut, 2010).
Hitung jumlah normal retikulosit adalah 0,5-2,5% dari jumlah absolute 25-125x109/l. Jumlah ini seharusnya meningkat pada anemia karena terjadinya peningkatan eritropoietin dan makin tinggi jika anemia makin berat. Hal ini jadi nyata bila sudah ada waktu untuk terjadinya hyperplasia eritroid di sumsum tulang seperti pada hemolisis kronik. Setelah perdarahan berat akut, terdapat respon eritropoietin di sumsum tulang seperti pada hemolisis kronik. Setelah pendarahan berat akut, terdapat respon eritropoietin dalam 6 jam, hitung retikuosit meningkat dalam 2-3 hari, mencapai maksimum dalam 6-10 hari, dan tetap tinggi sampai kadar hemoglobin kembali normal. Hasil hitung retikulosit pada pasien anemia yang tidak meningkat menunjukkan terganggunya fungsi sumsum tulang atau kurangnya rangsangan eritropoietin, (Zefika dan Lucia,2019).
Oleh karena itu yang melatar belakangi pemeroksaan kali ini agar kita dapat mengetahui penjelasan mengenai retikolosit dan prosedur pemeriksaan retikolosit yang baik dan benar sesuai SOP yang ada.

B.    Tujuan  Praktikum
Untuk Mengetahui prosedur kerja dari pemeriksaan retikolosit









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Retikulosit yang sangat muda (imatur) adalah retikulosit yang dilepaskan ke darah tepi akibat adanya rangsangan akibat anemia dan hal ini disebut stressed reticulocyte.Retikulosit jenis ini mempunyai masa hidup invivo yang lebih pendek apabila ditranfusikan kedalam resipien normal dan secara umum dianggap sel ini tidak normal karena tidak melalui perkembangan sel yang normal sampai ke divisi terminal dari perkembangan retikulosit. Sebuah studi ingin meneliti masa hidup dari retikulosit normal dan retikulosit stress ini baik pada pasien normal maupun pasien anemia. Masa hidup retikulosit akan normal kalau normal retikulosit diinjeksikan kebinatang yang nonanemik; oleh karenagangguan intrinsik dari retikulosit stress, akan menyebabkan sel ini lebih cepat di bersihkan dari sirkulasi olehresepien normal dengan kecepatan yang lebih besar dibandingkan dengan resepien yang anemia ;dan baik retikulosit normal maupun retikulosit yang stress akan disingkirkan dengan kecepatan yang bertambah dengan berlalunya waktu pada penderita yang anemia ,(Ketut, 2010).
  Rretikulosit adalah sel darah yang masih muda yang dihasilkan sumsum tulang yang mengandung RNA dan beberapa protein organel sel. Sel ini secara bertahap akan kehilangan produksi proteinnya, dan secara normal akan menjadi sel darah merah matur (eritrosit)kira-kira setelah1 –2 hari berada dalam darah tepi.
setelah ditemukan automated analyzer yang mampu melakukan pemeriksaan beberapa parameter retikulosit baru antaralain fraksiretikulositimatur(IFR), volume rerataretikulosit(MCVr), dan reratahemoglobin dalam retikulosit(CHr) 2010 Vol.11.No.3).
 Retikulosit ini sering dapat dibedakan pada apusan darah yang diwarnai Wright karena ukurannya yang besar dan warnanya keabu-abuan atau ungu. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi sel darah merah . Apabila retikulosit dilepaskan secara dini dari sumsum tulang, retikulosit imatur dapat berada di sirkulasi selama 2-3 hari. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoiesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi. Retikulosit merupakan parameter yang umum digunakan untuk menilai keberhasilan terapi besi pada anemia defisiensi besi, (Zefika dan Lucia, 2010).
Indeks produksi retikulosit adalah angka yang menunjukkanproduksi eritrosit oleh sumsum tulang pada pasien yang menderita anemia. Indeks ini digunakan untuk mengukur tingkat produksi eritrosit oleh sumsum tulang. Hasil penghitungan retikulosit tersebut harus dilakukan koreksi terhadap kadar hematokrit pasien yang bersangkutan dan koreksi terhadap efek dari eritropoietin terhadap proses pelepasan retikulosit muda dari sumsum tulang ke darah tepi, (Dearasi, 2015 ).
Pada kebanyakan laboratorium biasanya secara otomatis dilakukan koreksi dengan jumlah absolut eritrosit sehingga didapatkan jumlah absolut dari retikulosit, atau dengan mengalikan dengan fraksi hematokrit pasien dengan hematokrit normal (45%). Banyaknya retikulosit dalam darah tepi menggambarkan eritropoesis yang hampir akurat. Peningkatan jumlah retikulosit di darah tepi menggambarkan produksi eritrosit meningkat dalam sumsum tulang. Sebaliknya, hitung retikulosit yang rendah terus-menerus dapat mengindikasikan keadan hipofungsi sumsum tulang atau anemia aplastik, (Dearasi, 2015 ).
Indeks produksi retikulosit bermanfaat untuk menentukan klasifikasi fungsional anemia. Parameter laboratorium yang lebih spesifik selanjutnya bermanfaat dalam tatalaksana. Pada beberapa kasus sering terjadi ketidak sesuaian nilai indeks produksi retikulosit dengan jenis anemia, (Dearasi, 2015 ).
Hitung retikulosit merupakan komponen esensial dari pemeriksaan darah lengkap (CBC =Complete Blood Count)dan berperan penting pada klasifikasi jenis anemia. Ada 2 cara untuk menghitung retikulosit didarah tepi. Cara manual yaitu dengan menghitung retikulosit pada gambaran darah tepi yang diwarnai dengan pewarna biru metilen. Pewarna ini akan mengendapkan dan mewarnai RNA sehingga sel retikulosit dapat dikenal diantara sel darah merah matang lainnya dan retikulosit dihitung dengan membandingkan jumlah retikulosit dengan sekitar 1000 sel darah merah. Hasil hitungan ini dinyatakan dalam persentase, yang harga normalnya berkisar antara 1 – 2%. Sedang cara lainya adalah dengan memakai alat flowcytometer. Dengan cara inidi samping hitung retikulosit juga dapat dikenal tingkat pematangan retikulosit yaitu dengan melihat jumlah kandungan RNA dari sel tersebut. Makin banyak jumlah RNA maka makin muda sel retikulosit, (Ketut, 2010).
Metoda flowcytometer dilakukan berdasarkan pengukuran tingkat fluororesensi dari pengecatan khusus yang mengikat RNA dengan fluorokrom. Metoda ini meningkatkan presisidan akurasi pemeriksaan retiulosit. Karena jumlah dan karakteristik retikulosit juga merefleksikan aktifitas sumsum tulang, maka pemeriksaan retikulosit menjadi salah satu pemeriksaan dasar yang penting untuk penatalaksanaan klinis beberapa penyakit. Pemeriksaan beberapa parameter barudari retikulosit banyak dipergunakan untuk menegakkan berbagai jenis anemia pada kondisi klinis yang baru, seperti monitoring terhadap regenerasi eritroid setelah pemberian kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang serta mengetahui respon eritropoiesis setelah pemberian terapi eritropoietin, (Ketut, 2010).
Tingkat maturitas retikulosit dapat menjadi indikator klinis aktivitas eritropoetik serta informasi tambahan yang berguna di samping nilai hitung retikulosit. Peningkatan retikulosit imatur umumnya terjadi pada regenerasi sumsum tulang. pasca kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang dan pasca terapi anemia. sehingga dapat digunakan untuk mengikuti. hasil pengobatan anemia. Anemia secara.fungsional didefinisikan sebagai. penurunan massa eritrosit dengan akibat. oksigenasi jaringan tidak dapat terpenuhi.  Beberapa jenis anemia yang ada pada pasien tuberkulosis yaitu anemia penyakit kronis, merupakan salah satu penyebab tersering anemia pada penderita. Anemia. penyakit kronis ditemukan pada 72 %  penderita tuberkulosis yang mengalami. infiltrasi ke sumsum tulang, ( Sri Aprilianti, 2010).
Hitung retikulosit yang tidak meningkat pada seseorang memberi dugaan terganggunya fungsi sumsum tulang atau kurangnya rangsangan eritropoitin Tubuh yang kehilangan darah akan terjadi peningkatan jumlah retikulosit dan menandakan bahwa sumsum tulang bereaksi secara normal. Kehilangan darah biasanya menyebabkan retikulosis yaitu jumlah retikulosit meningkat dari nilai normal dalam waktu 1-2 hari dan mencapai puncaknya pada hari ke-4 sampai ke-7. Sedangkan menurut Hoffbrand  respon retikulosit mulai pada hari kedua atau ketiga dan berlangsung selama. 8-10 hari,( Yane Liswanti, 2015 Vol.13. No.1)
Kondisi normal jumlah retikulosit dalam sumsum tulang adalah sama dengan retikulosit yang ada dalam peredarah darah. Karena masa hidup normal atau waktu kelangsungan hidup eritrosit adalah 120 hari, maka 1/120 hari jumlah eritrosit hilang setiap hari, dan retikulosit dalam jumlah yang sama dilepaskan kedalam sirkulasi. Dipengaruhi oleh eritropoietin, jumlah retikulosit premature yang dilepaskan dari sumsum tulang akan meningkat. Jumlah retikulosit yang meningkat sebagai indikasi dari umur eritrosit yang menjadi lebih pendek dibandingkan normal yang didasarkan terhadap menurunnya jumlah eritrosit total. Menurunnya jumlah retikulosit dapat disebabkan oleh umurnya lebih pendek atau menurunnya produksi. Retikulositosis menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha untuk mempertahankan homeostatis. Jumlah retikulosit yang dinyataan sebagai presentasi dari jumlah sirkulasi eritrosit, (Zefika Lutf, 2019).
Hitung retikulosit yang meningkat pada kadar hemoglobin yang normal menunjukkan bahwa sel darah merah sedang mengalami kerusakan atau hilang, tetapi sumsum tulang telah meningkatkan produksi eritrosit untuk mengkompensasi kebutuhan tubuh. Pada kadar hemoglobin yang rendah, hitung retikulosit 0,5% sampai 2,5% mengisyaratkan bahwa respon terhadap anemia tidak memadai. Hal ini dapat terjadi akibat gangguan atau penurunan produksi sumsum tulang atau penurunan kadar eritropoietin. Apabila seseorang mengidap anemia, jumlah eritrosit yang beredar turun sehingga presentasi retikulosit “normal" (0,5%-2,5%) akan meningkat. Pada defisiensi besi, terutama pada anemia akibat pengeluaran darah berkepanjangan, pemberian terapi besi menghasilkan respons retikulosit dalam 4 sampai 7 hari. Beberapa literatur menyebutkan kadar maksimal retikulosit tercapai pada hari ke 5-7 setelah terapi. (Zefika Lucia,2019).
Menurut Riandi Wirawan (2019) Hitung retikulosit dipengaruhi oleh variasi. biologik, jenis kelamin, merokok dan umur.
1.      Pada variasi biologik dilaporkan terdapatnya variasi diurnal,  hitung retikulosit 20% lebih tinggi pada pagi hari dibandingkan sore hari.
2.       Hitung retikulosit pada wanita lebih tinggi dari pada pria karena adanya rangsangan eritropoesis oleh adanya siklus haid.
3.       Pada pasien perokok, pasien akan mengalami hipoksia yang menyebabkan terpicunya eritropoietin oleh ginjal yang mengakibatkan rangsangan pembentukan eritrosit di sumsum tulang.
4.        Hitung retikulosit pada usia lanjut lebihrendah daripada dewasa, karena aktifitaseritropoesis pada usia lanjut berkurang dibandingkan dengan orang dewasa.
Manfaat hitung retikulosit membantu dokter untuk mengetahui aktifitas dari eritropoesis. Bila meningkat akan disertai dengan peningkatan jumlah retikulosit absolut dan nilai IRF. Hal ini terjadi pada eritropoesis yang efektif. Pada eritropoesis yang tidak efektif, peningkatan IRF tidak disertai dengan meningkatnya jumlah retikulosit absolut.Pada keadaan patologik, hitung retikulosit absolut meningkat pada anemia hemolitik, anemia pasca perdarahan dan anemia yang berhasil dalam pengobatan. Pada anemia hemolitik, hitung retikulosit absolut dapat meningkat sampai 10x batas nilai rujukan dan disertai peningkatan nilai HFR yang tinggi. Hal ini dijumpai adanya korelasi yang terbalik antara nilai hitung retikulosit absolut dengan kadar hemoglobin ; makin tinggi nilai hitung retikulosit makin rendah kadar hemoglobin. Selain itu, hitung retikulosit absolut dapat meningkat pada polisitemia vera. Sebaliknya pada anemia hipogeneratif seperti anemia aplastik dan uremia, menyebabkan hitung retikulosit absolut dan IRF menurun karena aktifitas eritropoesis tertekan, ( Riandi Wirawan, 2019).
Menurut NCLLS-ICSH 1997, retikulosit adalah sel yang dapat dilihat dengan pewarnaan supravital yang mewarnai asam nukelat dan harus mempunyai lebih dari 2 granula yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya dan granula tersebut tidak boleh berada di tepi membran sel. Pewarnaan supravital yang dapat.digunakan adalah larutan Brilliant Cresyl Blue,  New Methylene Blue, Azure B, Acridine orange untuk metoda visual dan zat warna fluorokrom seperti Thiazole orange, Auramine O, Oxazine dan Polymethine yang bisa digunakan pada metode otomatik,( Riandi Wirawan, 2019).

















BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu
      Adapun waktu yang dilaksanakannya peda praktikum Hematologi III kali ini  yaitu :
Hari      : Sabtu
Tanggal : 25 April 2020
Pukul    :18.00-10.00 WITA. 
B.     Alat Dan Bahan
1.      Alat
a. Mikroskop
b.Pipet tetes
c. Tabung Reaksi 12x75mm
d.                  Kaca objek
2.      Bahan
a. Darah EDTA
b.Larutan BCB 1% (Briliant Cresyl Blue)
c. Oil Emersi
C.    Prinsip Kerja :
      Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital.
D.     Pra-Analitik
1.      Persiapan Pasien :
Tidak memerlukan persiapan khusus
2.      Persiapan  Sampel :
Tes sebaiknya   dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam darah dimasukkan kedalam   tabung EDTA 

E.    Analitik
1.    Disiapkan darah EDTA
2.    Dipipet larutan BCB, Masukkan dalam tabung reaksi sebanyak 3 tetes
3.    Dipipet darah EDTA yang sudah di homogenkan masukan 3 tetes darah EDTA kedalalam tabung reaksi yang berisi larutan BCB tadi
4.    Dihomogenkan
5.    Diinkubasi campuran larutan  tadi selama 15 menit pada suhu 37 derajat,setelah di inkubasi
6.    Diambil 1 tetes  kemudian di teteskan pada salah satu sisi(kanan atas objek glas)  buat apusan dengan dekatkan objek glas yang lainya pada tetesan sampel (darah EDTA + larutan BCB) sudut 45 derajat C Dan tarik dengan cepat sehingga membentuk lida api (apusan dara tepi)
7.    Dikeringkan dan kemudian langsung baca dibawah miscroskop menggunakan pembesaran 100x (oil emersi)

8.    Diitung jumlah retikulosit dalam 1000 eritrosit.
F.     Pasca Analitik
1. Dewasa : 0.5 - 1.5 %
2.  Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
3.  Bayi : 0.5 - 3.5 %
4. Anak : 0.5 - 2.0 %















BAB IV
PEMBAHASAN

Pada praktikum hematologi III  yang di laksanakan pada hari selasa, 28 April 2020 pukul  08. 00 – selesai WITA.  Praktikum ii berjudul Retikulosit.
Retikolosit merupakan sel darah merah yang masih muda, tidak berinti,  berdiameter 6-9 mikron, dan berasal dari proses pematangan normoblas di. sumsum tulang. Retikulosit mempunyai jaringan organela basofilik yang terdiri. dari RNA dan protoforpirin, dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila dicat dengan pengecatan biru metilin. Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Jumlah retikulosit pasien tanpa anemia berkisar. antara 1 sampai 2%
Retikulosit diproduksi oleh sumsum tulang manusia sebagai respon dari adanya anemia. Ada banyak penyebab peningkatan kadar retikulosit dalam tubuh, seperti:
1.      Pemecahan eritrosit atau anemia hemolitik. Pada kondisi ini pasien seringkali  didapati dengan kekuningan pada mata dan tubuh.
2.      Respon terhadap terapi seperti terapi suplemen zat besi, vitamin B-12, atau asam folat, suplementasi untuk meningkatkan produksi sel darah merah, atau respon dari transplantasi sumsum tulang.
3.      Perdarahan seperti perdarahan akibat patah tulang, perdarahan organ dalam, perdarahan saluran cerna, dan menstruasi berkepanjangan
Retikulosit adalah sel darah merah yang masih muda atau sel eritrosit yang belum matang. Kadarnya adalah 1% dari eritrosit manusia. Nilai normal retikulosit dalam darah adalah 0,5% - 1.5%.
 

Hitung retikulosit umumnya menggunakan metode pewarnaan supravital. Sampel darah dicampur dengan larutan brilliant cresyl blue (BCB) atau new methylene blue maka ribosome akan terlihat sebagai filamen berwarna biru. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %, jadi hasilnya dibagi 100.
Tujuan dari pemeriksaan kali ini adalah untuk mengetahui cara pemerisaasn retikolosit dengan prinsip yang di gunakam adalah Prinsip    retikulosit  yaitu  Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital
Pada praktikum retikolosit Bahan yang di gunakan  adalah darah kapiler. atau darah vena dengan antikoagulan EDTA. EDTA berfungsi agar darah ketika di diamkan tidakbeku . Penyimpanan bahan pemeriksaan perlu memperhatikan stabilitas sampel. Suhu dan lamanya waktu penyimpanan dapat berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan. Pemeriksaan hitung jumlah retikulosit menggunakan sampel darah EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetate) sebaiknya dilakukan segera atau kurang dari 1 jam setelah pengambilan, namun menurut literatur bila diperlukan darah EDTA dapat disimpan dalam lemari es (4oC) selama 6 jam. Suhu 4ºC darah EDTA tidak mengalami perubahan morfologi sel.
Penurunan jumlah Retikulosit : Anemia (pernisiosa, defisiensi asam folat, aplastik, terapi radiasi, pengaruh iradiasi sinar-X, hipofungsi adrenokortikal, hipofungsi hipofisis anterior, sirosis hati (alkohol menyupresi retikulosit)
Peningkatan jumlah Retikulosit : Anemia (hemolitik, sel sabit), talasemia mayor, perdarahan kronis, pasca perdarahan (3 - 4 hari), pengobatan anemia (defisiensi zat besi, vit B12, asam folat), leukemia, eritroblastosis fetalis (penyakit hemolitik pada bayi baru lahir), penyakit hemoglobin C dan D, kehamilan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil laboratorium :
1.       Bila hematokritnya rendah maka perlu ditambahkan darah
2.       Cat yang tidak disaring menyebabkan pengendapan cat pada sel-sel eritrosit sehingga terlihat seperti retikulosit
3.       Menghitung di daerah yang terlalu padat
4.       Peningkatan kadar glukose akan mengurangi pewarnaan













BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Retikulosit adalah sel darah merah yang masih muda atau sel eritrosit yang belum matang. Kadarnya adalah 1% dari eritrosit manusia. Nilai normal retikulosit dalam darah adalah 0,5% - 1.5%. Retikulosit diproduksi oleh sumsum tulang manusia sebagai respon dari adanya anemia
Hitung retikulosit dipengaruhi oleh variasi. biologik, jenis kelamin, merokok dan umur. Prinsip Kerja retikulosit diantaranya  Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital.
B.     Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum harus menngunakan APD lengkap dan harus bekerja sesuai prosedur dari SOP, di harapkan agar praktikum kedepan dapat menggunakan metode yang lain lagi











DAFTAR PUSTAKA
Dearasi,.Deby. N. NF..2015 .Indeks Produksi Retikulosit Sebagai Diagnosis Dini Anemia Aplastik “ Vol. 4 | No.7.
Ivana,Zefika. L dan   Lucia Sincu Gunawan. 2019."Perbedaan Jumlah Retikulosit Sebelum dan Sesudah Pemberian Tablet Tambah Darah" vol. 12 . No.2. Jawa tengah : Universitas Setia Budi Surakarta,
Ketut Suega.2010."Aplikasi Klinis Retikulosit" .jakarta : SUPSanglah. Vol.11 No. 3
Sri Aprilianti.2018."Gambaran Retikulosit Terhadap Pemberian Obat Anti. Tuberkulosis (Oat) Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Perumnas Kadia Kota Kendari". :kendari .Politeknik Bina Husada Kendari. Vol 6. No 1
Yane Liswanti, 2015."Gambaran Jumlah Retikulosit Sebelum Dan Setelah Donor Darah".  Tasikmalaya :STIKes BTH Tasikmalaya. Vol.13. No.1
Wirawan, Riandi. 2019."Biomadika Retikulosit".Tanggerang:contact@bio-medika.com w




 
























 














































No comments:

Post a Comment