HEMATOLOGI
III
(Melakukan
Pemeriksaan Tes Darah Rutin (Tes Saring)
Menggunakan
Alat Automatik)
Nama :
Valantine Waas
NIM
: 18 3145 353 112
Kelas
: 2018/C
PROGRAM
STUDI D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH
SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA RESKY
MAKASSAR
2020
BAB
I
PENDAHUUAN
A. LATAR
BELAKANG
Darah manusia
adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel – sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai tubuh dengan
nutrisi, mengangkut zat – zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan
penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai
penyakit, (Pricilia,2012).
Komposisi darah
dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu: Korpuskula : 45%, Plasma darah : 55%.
Korpuskula Di dalam korpuskula terdapat : Eritrosit (Sel darah merah) Kandungannya
sebesar 90%. Eritrosit mengandung hemoglobin yang berfungsi mengedarkan
oksigen. Trombosit (Keping – keping darah) Kandungannya : 0,6% - 1,0%
Fungsi Membantu proses pembekuan darah.
Leukosit (Sel darah putih) Kandungannya kira – kira 0,25% Fungsi Menjaga sistem
kekebalan tubuh, Membunuh bakteri atau virus yang mencoba masuk ke dalam tubuh,
(Pricilia,2012).
Pemeriksaan darah atau pemeriksaan hematologi secara
umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemeriksaan hematologi rutin dan
hematologi lengkap. Pemeriksaan hematologi rutin terdiri dari hemoglobin/Hb,
hematokrit (HCT), hitung jumlah sel darah merah/eritrosit, hitung jumlah sel
darah putih/leukosit, hitung jumlah trombosit dan indeks eritrosit. Pemeriksaan
hematologi lengkap (complete blood count) terdiri dari pemeriksaan darah rutin
ditambah hitung jenis leukosit dan pemeriksaan morfologi sel/ sediaan apus
darah tepi (SADT)/Gambaran darah tepi (GDT)/morfologi darah tepi (MDT) yaitu
ukuran, kandungan hemoglobin, anisositosis, poikilositosis, polikromasi, (Wahdaniah dan Sri, 2018).
Pada metode
otomatis, pengukuran hi-tung jumlah eritrosit (red blood cell/RBC)
menggunakan prinsip impedansi. Sel dihitung dan diukur berdasarkan pada
pengukuran pe-rubahan hambatan listrik yang dihasilkan oleh sebuah partikel,
dalam hal ini adalah sel darah yang disuspensikan dalam pengencer konduktif
saat melewati celah dimensi. Sel-sel darah yang melewati celah dengan elektroda
di kedua sisinya mengalami perubahan im-pedansi yang menghasilkan getaran
listrik yang terukur sesuai dengan volume atau uku-ran sel. Amplitude setiap
getaran sebanding dengan volume setiap partikel. Setiap getaran diperkuat dan
dibandingkan dengan saluran tegangan acuan internal, yang hanya meneri-ma
getaran dari amplitude tertentu. Jika geta-ran range RBC, maka dihitung
sebagai RBC. Prinsip pengukuran jumlah sel ini tergantung pada ukuran
sel, luas permukaan, dan adan-ya granula-granula di dalam sel. metode otomatis menggunakan Mindray BC-3200 Auto
Hematology Analyzer, (Neni, 2017).
Oleh karena yang
melatar belakangi pemeriksaan kali ini yaitu agar kita mengetahui cara
pemerksaan darah rutin menggunakn metode otomatis dengat alat Hematology
Analyzer.
B. TUJUAN PRAKTIKUM
Agar kita dapat
mengetahui cara pemeriksaan darah rutin mrnggunakan alat Hematologi Analyzer
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Pemeriksaan darah atau
pemeriksaan hematologi secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu
pemeriksaan hematologi rutin dan hematologi lengkap. Pemeriksaan hematologi
rutin terdiri dari hemoglobin/Hb, hematokrit (HCT), hitung jumlah sel darah
merah/eritrosit, hitung jumlah sel darah putih/leukosit, hitung jumlah
trombosit dan indeks eritrosit. Pemeriksaan hematologi lengkap (complete blood
count) terdiri dari pemeriksaan darah rutin ditambah hitung jenis leukosit dan
pemeriksaan morfologi sel/ sediaan apus darah tepi (SADT)/Gambaran darah tepi
(GDT)/morfologi darah tepi (MDT) yaitu ukuran, kandungan hemoglobin,
anisositosis, poikilositosis, polikromasi, (Wahdaniah dan Sri, 2018).
Trombosit merupakan
elemen terkecil dalam pembuluh darah . Masa hidup dari trombosit sekitar 7,5
hari. Dua pertiga dari seluru trombosit beradadi sirkulasi Dan 1/3 dari seluruh
trombosit berada di limpa. Salah satu kriteria sederhana yang di ajukan oleh
WHO sebagai diagnosis klinis infeksi dangue adalah trombusitopeni. Selama 3
hari pertama, jumlah trombosit biasanya masih normal, namun trombositopenia
mulai tampak beberapa hari setelah demam dan mencapai titik terendah fase syok,
(Bella,2018).
Hematokrit merupakan presentasi
sel darah merah terhadap volume darah totoal. Nilai hematokrit biasanya mulai
meningkat pada hari ke tiga dari perjalanan penyakit infeksi dengue .
Peningkatan nilai hematokrit merupakan manifestasi hemokonsentrasi yang
terjadadi akibat kebocoran plasma ke ruang ekstravaskuler di sertai ifusi
cairan serosa melalui kapiler yang rusak, (Bella,2018).
Hematokrit mengukur
volume presentasi dari darah lengkap yang terdiri atas sel darah merah . karena
hematokrit mengukur presentasi sel-sel dalam hubungany dengan plsma, maka
hematokrit akan di pengaruhi oleh perubahan pada volume plasma. Jadi hemtokrit
akan meningkat pada dehidrasi dan menurun pada kelebihan hidrasi,(Mima dan
Pamela, 2001).
Hemoglobin adalah
komponen darah yang berfungsi sebagai alat tranportasi oksigen (O2)
dan karbon dioksida (CO2). Hemoglobin tersusun dari globin dan hema
yang mengndung atom besi dan porphyrin (suatu pigmen merah). Pigmen besi
hemoglonim akan bergabung dengan oksigen. Satu grm hemoglonbin mengikat 1,34
mil oksigen, (Bella,2018).
Fungsi utama leukosit
adalah melawan infeksi, melindungi tubuh dengan memfagosit organisme asing dan memproduksi atau
mengankut atau mendistribusikan antibodi. Ada dua tipe utama sel drah putih
yaitu granulodsit yang terdiri dari neutrofil, eusinofil, dan basophil dan
agranulosit yang terdiri dari limfosit dan monosit, (Bella,2018).
Laju Endap Darah
merupakan ukuran kecepatan endapan erytrosit yang menggambarkan komposisi
plasma serta perbandingan erytrosit dan plasma. LED di pengaruhi oleh berat sel
darah dan luas permukaan sel sera gravitasi bumi. LED merupakn uji yang
sensivitas tapi tidak spesifik, (Bella,2018).
Laju Endap Darah di
pengaruhi oleh berat sel darah dan luas permukaan sel darah dan luas permukaan
sel serta gravitasi bumi makin berat sel darah makin cepat laju endapanya dan
makin luas permukaan sel makin lambat pengendapanya. Laju enap darah dapat di
pakai sebagai sarana pemantauan keberhasilan terapi, perjalan penyakit terutama
kronis, (Arlita,2019).
Sel darah merah atau eritrosit merupa-kan sel
darah dengan jumlah yang paling banyak dalam tubuh manusia. Fungsi utama
eritrosit adalah mengangkut oksigen dan mengantarkannya ke sel-sel tubuh.
Hitung jumlah eritrosit merupakan salah satu param-eter Hematologi yang
ditentukan guna mem-bantu menegakkan diagnosis, menunjang diagnosis, membuat
diagnosis banding, me-mantau perjalanan penyakit, menilai beratnya sakit dan
menentukan prognosis, (Neni, 2017).
Indeks eritrosit adalah
batasan untuk ukuran dan isi hemoglobin eritrosit. Istilah lain untuk indeks
eritrosit adalah indeks korpusculer. Indeks
eritrosit terdiri atas volume atau ukuran eritrosit. Nilai eritrosit
rerata dipakai untuk mengetahui volume eritrosit rerata yang di ketahui dari
nilai VER dan banyaknya hemoglobin dalam satu eritrosit rerata dapat dilihat
dari nilai HER serta untuk mengetahui konsentrasi hemoglobin rerata dalam satu
eritrosit dilihat pada nilai KHER, (Wahdaniah
dan Sri, 2018).
Nilai eritrosit rerata
dipakai untuk penggolongan anemia berdasarkan morfologi. Dikenal 3 macam
penggolongan anemia yaitu : anemia mikrositik hipokrom, normositik normokrom
dan makrositik, (Wahdaniah dan Sri, 2018).
Darah mudah membeku
jika berada di uar tubuh. Apabila didiamkan, bekuan akan mengerut dan serum
terperas keluar. Cepat membekunya darah ini dapat diatasi dengan penambahan
suatu zat yang disebut dengan antikoagulan. Antikoagulan merupakan bahan yang
digunakan untuk menghindarkan terjadinya pembekuan darah. Pembekuan dihambat
melalui beberapa proses seperti kelasi, pengikatan kalsium atau menghambat
pembentukan trombin.Setelah darah masuk ke dalam tabung, darah harus dicampur segera untuk mencegah
pembentukan mikroklot. antikoagulan yang banyak di pakai adalah garam EDTA,
sitrat dan heparin, (Wahdaniah dan Sri,
2018).
EDTA sering digunakan
karena antikoagulan ini tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuknya
eritrosit dan leukosit, serta mencegah trombosit menggumpal. EDTA yang biasanya
digunakan terdiri dalam bentuk larutan atau cair dan kering atau serbuk. Jika
menggunakan EDTA yang kering, wadah berisi darah harus digoncang sedikit lebih
lama yaitu 1 – 2 menit karena EDTA kering lambat melarut. Lambat melarutnya
EDTA ini juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan, terutama pemeriksaan darah
rutin.Oleh karena itu penggunaan EDTA dalam bentuk larutan lebih disarankan
daripada penggunaan EDTA kering atau serbuk, (Wahdaniah dan Sri, 2018).
Dewasa ini telah
tersedia tabung vakum yang sudah berisi antikoagulan EDTA dalam bentuk K2EDTA
dan K3EDTA. K3EDTA biasanya berupa garam yang mempunyai stabilitas yang lebih
baik dari garam EDTA yang lain karena menunjukkan pH yang mendekati pH darah
yaitu sekitar 6,4. Tabung vakum ini merupakan tabung yang direkomendasikan oleh
National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) untuk pemeriksaan
hematologi karena mempunyai ketepatan kadar antikoagulan dibandingkan
dengan EDTA konvensional dalam bentuk
Na2EDTA. Dari segi ekonomi, EDTA vacutainer memerlukan biaya yang lebih mahal,
maka tidak jarang instalasi laboratorium lebih banyak menggunakan Na2EDTA cair
atau serbuk sebagai antikoagulan pada pemeriksaan hematologi khususnya
pemeriksaan darah rutin walaupun pemakaian EDTA serbuk atau cair ini sedikit
lebih rumit karena volume EDTA harus disesuaikan dengan volume darah, (Wahdaniah dan Sri, 2018).
Menurut Neni, 2017 pemeriksaan hitung jumlah
eritrosit ada dua yaitu dengan mengunakan yang manual dan metode otomatis
1. Pemeriksaan
hitung jumlah eritrosit secara manual dengan alat Hemositometer merupakan
metode yang paling umum digunakan karena lebih murah Metode ini biasanya
digunakan pada rumah sakit dan laboratorium klinik berskala kecil dengan beban
kerja yang tidak terlalu besar Pada metode ini, eritro-sit dihitung dengan
bantuan mikroskop. Na-mun hitung jumlah eritrosit dengan metode ini membutuhkan
waktu yang cukup lama dan rumit. Selain itu akurasi hasil pemeriksaan
dipengaruhi oleh faktor subyektif seperti pen-galaman dan keahlian dari teknisi
laboratori-um, dan faktor kelelahan dari teknisi terutama jika sampel pemeriksaan
dalam jumlah yang sangat besar. Metode otomatis digunakan se-bagai solusi
masalah tersebut karena lebih efektif dan efisien . Pemeriksaan hitung jumlah
eritrosit manual dilakukan menggunakan alat Hemosi-tometer
2. Pada
metode otomatis, pengukuran hi-tung jumlah eritrosit (red blood cell/RBC)
menggunakan prinsip impedansi. Sel dihitung dan diukur berdasarkan pada
pengukuran pe-rubahan hambatan listrik yang dihasilkan oleh sebuah partikel,
dalam hal ini adalah sel darah yang disuspensikan dalam pengencer konduktif
saat melewati celah dimensi. Sel-sel darah yang melewati celah dengan elektroda
di kedua sisinya mengalami perubahan im-pedansi yang menghasilkan getaran
listrik yang terukur sesuai dengan volume atau uku-ran sel. Amplitude setiap
getaran sebanding dengan volume setiap partikel. Setiap getaran diperkuat dan
dibandingkan dengan saluran tegangan acuan internal, yang hanya meneri-ma
getaran dari amplitude tertentu. Jika geta-ran range RBC, maka dihitung
sebagai RBC. Prinsip pengukuran jumlah sel ini tergantung pada ukuran
sel, luas permukaan, dan adan-ya granula-granula di dalam sel. metode otomatis menggunakan Mindray BC-3200 Auto
Hematology Analyzer.l, (Neni, 2017).
Metode otomatis
menggunakan Hema-tology Analyzer dapat digunakan untuk pemeriksaan rutin hitung
jumah eritrosit dengan tujuan agar memperoleh hasil yang cepat dan akurat.
Namun metode ini dapat memberikan hasil palsu pada keadaan sel yang abnormal.
Hasil yang abnormal pada hitung jumlah eritrosit dapat disebabkan oleh adanya cryoglobulins,
lipid, aglutinin dan adanya peningkatan jumlah sel leukosit. Kesalahan
perbandingan antara antikoagulan dengan volume darah dapat menyebabkan
perubahan ukuran eritro-sit. Konsentrasi EDTA yang tinggi menyebab-kan
eritrosit menyusut karena hipertonisitas plasma . Sehingga metode man-ual
digunakan sebagai tes konfirmasi jika perhitungan jumlah eritrosit pada alat
otoma-tis memberikan hasil yang meragukan , (Neni, 2017).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A. PRINSIP
Pemeriksaan
trombosit, hematokrit, leukosit dan hemoglobin dilakukan dengan cara langsung
menggunakan hematology analyzer (alat otomatis). Cara ini dianjurkan karena
hasilnya yang akurat, cepat dan tepat.Hematology analyzer bekerja dengan
prinsipflow cytometer.Ribuan sel dialirkan melalui celah tersebut sehingga sel
dapat lewat satu per satu, lalu dilakukan penghitungan jumlah sel dan
ukurannya.
B. PRA
ANALITIK
1.
Persiapan pasien : Tidak memerlukan
persiapan khusus
2.
Persiapan sampel :
a. Sampel
darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam
b. Sampel
dapat disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 4⁰ C
c.
Anamnesis perlu diperhatikan riwayat perdarahan,
obat yang diminum dan transfuse drah
3.
Alat dan Bahan
a. Alat
a) Tabung
reaksi
b) Alat
Automatik Hematology analyzer
b. Bahan
a) Sampel
darah EDTA
b) Reagen
1)
Reagen Diluent digunakan pada proses
perhitungan sel darah dan hitung jenis sel
2)
Reagen Biolyse digunakan untuk
melisiskan sel-sel darah dan menentukan konsentrasi Hb
3)
Reagen cleaner digunakan sebagai bahan
pembersih
C. ANALITIK
Pemeriksaan
darah rutin (trombosit, hematokrit, hemoglobin dan leukosit):
1. Menghubungkan
kabel powerke stabillisator;
2. Menghidupkan
alat hematology analyzer dengan menekan saklar on/of;
3. Secara
otomatis alat akan melakukan self checkdan background check;
4. Memastikan
alat dalam posisi ready dan memeriksa sampel darah kembali untuk memastikan
darah sudah homogen dengan antikoagulan;
5. Menekan
tombol whole blood“WB” pada layar;
6. Menekan
tombol ID untuk memasukkan no sampel, lalu menekan tombol enter;
7. Menekan
bagian atas dari tempat sampel yang berwarna ungu untuk membuka dan sampel
diletakkan dalam adaptor;
8. Menutup
tempat sampel lalu menekan tombol “RUN”;
9. Secara
otomatis hasil pemeriksaan muncul pada layar;
10. Mencatat
hasil pemeriksan.
D.
PASCA ANALITIK
Nilai rujukan pemeriksaan darah rutin yang
terdiri dari eritrosit, milai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah leukosit dan
laju endap darah (LED) dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1.Nilai
Rujukan Pemeriksaan Darah Rutin
|
|
New born
|
1 bulan
|
3-6 bulan
|
2-12 tahun
|
Pria
|
Wanita
|
|
|
1
|
Trombosit
(×10 3/mm3)
|
150-450
|
150-450
|
150-450
|
150-450
|
15-450
|
150-450
|
|
2
|
Hematokrit
(%)
|
53-65
|
38-53
|
33-42
|
35-4
|
42-52
|
37-47
|
|
3
|
Hemoglobin
(g/dl)
|
17-23
|
12,8-18,4
|
1,5-13,5
|
12-15
|
14-18
|
12-16
|
|
4
|
Leukosit
(×10 3/mm3 )
|
4-10
|
5-13
|
6-18
|
3-12
|
4.8-1.8
|
4.8-10,8
|
|
5
|
Erytroisit
(×103/mm3 )
|
4-5
|
3-5,4
|
3,7-5,3
|
4,5-5.5
|
4,7-6,1
|
4,2-5,4
|
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini pemeriksaan yang di lakukan adalah
pemeriksaan darah rutin. Pemeriksan darah rutin adalah tes darah yang di
lakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit
dalam tubuh. Jumlah sel darah dapat menggambarkan kondisi kesehatan sehingga
dapat mempermudah dokter dalam menentukan diagnosis dan pengobatan.
Pada ppemeriksaan kali
ini yang termasuk pemeriksaan darah rutin adalah Hemoglobin (Hb), Hematokrit
(Ht), Leukosit ; hitung leukosit dan hitung jenis (differential count), hitung
trombosit , Laju Endap Darah (LED),Hitung erytrosite.
Tujuan di lakukanya pemeriksaan
darah rutin adalah mengetahui kondisi
kesehatan seseorang secara keseluruhan, sekaligus mendeteksi lebih awal penyakit yang mungkin terjadi, pemeriksaan
ini juga bisa di lakukan untuk memantau kondisi kesehatan kita. Jika kita sdang
dalam pengobatan atau menderita penyakit yang bisa mempengaruhijumblah sel
darah , misalnya pada penyakit DBD.
Adpun prinsip dari
pemeriksan darah rutin adalah Pemeriksaan trombosit, hematokrit, leukosit dan
hemoglobin dilakukan dengan cara langsung menggunakan hematology analyzer (alat
otomatis). Cara ini dianjurkan karena hasilnya yang akurat, cepat dan
tepat.Hematology analyzer bekerja dengan prinsipflow cytometer.Ribuan sel
dialirkan melalui celah tersebut sehingga sel dapat lewat satu per satu, lalu
dilakukan penghitungan jumlah sel dan ukurannya.
Hemoglobin yang sering di singkat Hb merupakan salah satu
dari sekian banayak tolak ukur apakah kita terkena anemiaatau tidak. Hemoglobin
adalah suatu protein yang berada di dalam darah yang berfungsi sebagai
pengangkut oksigen. Jadi, oksigen yang telah di hirup dan masuk ke paru-paru dan nantinya akan di angkut lagi oleh
hemoglobin di dalam darah untuk
distribusikan ke otak, jantung , ginjal , otot, tulang dan seluuh organ tubuh.
Orang –orang yang tidak pernah atau jarang mengkonsumsi vitamin dan mineral,
ibu hamil, orang yang mengalami pendarahan akibat terluka, terkena infeksi
kronis penyakit kronis seperti TBC,tumor, gangguan hati, dan gangguan kesehatan
lainnya. Bisa sja terjadi penurunan kadar Hb. Raut wajah akan terliha pucat da
layu, serta tubuh enjadi lemas, tidak bertenaga dan mudah lelah. Adapun nilai
normalnya adalah
Hematokrit atau biasa
di singakat (Ht)merupakan perbandingan antar proposi volume sampel darah kita
dengan sel darah merah yang di ukur dalam satuan milimeter per desiliter dari
darah keseluruhan, bisa juga dinyatakan dalam persen . jadi pengukuran ini bisa
di hubungkan dengan tingkat kekentalan darah . semakin tingi presentasenya
berrti semakain tinggi kekentalannya , atau sebaliknya. Bersama kadar
hemoglobin, kadar hematokrit biasanya di kaitkan edengan anemia yang diderita.
Leukosit di senbut juga
sel darah putih walaupun sebenarnya tidak berwarna atau bening. Di dala, sel
darah putih terkandung unsur-unnsur daah seperti basofil, esinofi; neutrifil,
limfosit, dan monosit. Keadaan di manaleukosit meninggi di sebut leukositosis,
biasa muncul pada darah setelah menjalani latihan olahraga yang berat terkena
infeksi kronis (tifus caingan,TBC), atau setelah terkena luka bakar yang luas.
Pada saat leukimia kadar leukositt sangat tinggi bisa mncapai 10 kali lipat di bandingkan kadar normalnya
jika kadar leukosit terlalu tinggi, leukosit tersebut justru akan merrusak
leukosit lainnya,dn ini juga akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Kadar
leukosit akan turun seiring dengan sembuhnya satu sumber penyakit. Jika memang
yang bermasalah adalah leukosit itu sendiri misaknya leukemia, dokter akan
memberukan pengobatan khusus untuk menurunkan kadar leukosit.
Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik baik infeksi bakteri,
virus, parasit, dan sebagainya. kondisi lain yang dapat menyebabkan
leukositosis yaitu: anemia hemolitik,sirosos hati dengan nekrosis , stres
emosional dan fisik termasuk troma dan habis berolahraga, keracunan berbagai
macam zat, obat ;
allopurinol,barbiturat,eritromisin, streptomisindan sulfomanit. Leukosit rendah
juga di sebut leukopeniadapat di sebabkan oleh agranulosit, anemia aplastik,
AIDS, infeksi atau spesies hebat, infeksi firu mis: dangue, keracunana
kimiawidan poskemotrapi.
Hitung jenis keukosit , darah terdiri atas komponen komponen seperti
erytrosit , trombosit, homoglobin, dan leukosit. Leukosit sendiri terdiri dari
basofil, eusinofil, neutrofil terdiri atas neutrofil batang dan neutrofil
segmen, monosit dan limfosit. Biasanya, presentasi tertinggi ada pada neutrofil
segmen dan limfosit, sementar presentase terendah ada pada eusinofil, basofil,
dan monosit. Kadangkala presentasi eusinofil lebih tinggi , misalnya pada
keadaan infeksi kronis seperti acing,
keracunan dan pendarahan
Trombosit sering di kaikan dengan penyakit demam berdarah. Pada pendrita
DBD. Pada penderita DBD terjadi penurunan kadar trombosit dalam darah secara signifikan . Trombosit yang menurun
menyebabkan terjadinya pendarahan pada kulit karena trombosit berfungsi sebagai
salah satu pembeku darah. Demam berdarah dengue (DBD) adalah
suatu penyakit menular yang disebbakan oleh virus dengue dan ditularkan oleh
nyamuk aedes aegypti yang ditandai dengan demam berdarah mendadadk dua sampai
tujuah hari tanpa penyebab yang jelas. Disertai dengan tanda-tanda perdarahan
di kulit berupa bintik-bintik perdarahan (petechia), ruam (purpura).
Kadang-kadang mimisan, berak darh. Muntah darah, kesadaran menurun.Tidak semua trombosit yang rendah lantas di kaitkan dengan DBD Rendahnya trombosit juga bisa merupakan
kelainan bwaaan. Hal ini terjadi karena produksi trombosit seseorang memang
snagt rendah dan trombosit yang rendah menimbulkan ganguan pada sistem
pembekuan darah . penuruna trombosit di sebut trobositopenia dan penigkatan
trombosit di sebut trombositosis
Laju Endap Darah pemeriksaan ini di tunjukan untuk melihat kecepatan
darah darah dalam membentuk endapan. Laju Endapa Darah di lakuakn untuk menilai
berapa kecepatan erytrosit atau sel darah merah bisa mengendap dalam tabung
pengukuran yang di ukur selama 1 jam. Laju endap darh bisa menurun akibat kelainan
kelainan sel darah merah seperti polisitemia yaitu salah satu penyakit di mana
sel darah merah sangat banyak sehingga darah menjadi sangat kental . jika
dilakuakan pemeriksaan laju endapa darah maka kecepatan timbulnya pengendapan
menjadi sangat lambat karena volume sel darah merah hampir sama dngan keseluruhan . Pemeriksaan
laju endap darah ini sangat berguna untuk mendeteksi adanya satuan peradangan
dan bahkan perjalanan atau aktifitas satu peneykit.
Pada pemeriksaan kali ini menggunakan Metode otomatis
menggunakan Hema-tology Analyzer dapat digunakan untuk pemeriksaan rutin hitung
jumah eritrosit dengan tujuan agar memperoleh hasil yang cepat dan akurat. Hema-tology
Analyzer adalah alat yang di gunakan untuk memeriksa darah rutin dengan cara
menghitung dan mengukur sel darah secra otomatis berdasrkan impedansi aliran
listrik atau berkas cahaya terhadap sel-sel yang di lewatkan .
Namun kekurangan dari metode ini adalah dapat memberikan hasil palsu
pada keadaan sel yang abnormal. Hasil yang abnormal pada hitung jumlah
eritrosit dapat disebabkan oleh adanya cryoglobulins, lipid, aglutinin
dan adanya peningkatan jumlah sel leukosit.
Dalam setiap
pemeriksaan banyak yang harus di perhatikan selain dari kondisi analis
itu sendri, juga perlu di perhatian proses pemeriksaannya seperti
pra-anlitik,analitik dan pasca analitik
-
Pranalitik :mis: alat yang di gunakn
sudah benar-benar bersih agar tidak
terkonaminasi, perlu di lakuakan pengkalibrasian alat Hema-tology
Analyzer agar hasilnya tetap terjamin Mutunya
-
Analitik : prosedur yang di gunakan Harus sesuai SOP yang sudah di sahkan mis;
perbandingan antara antikoagulan dengan volume darah dapat menyebabkan
perubahan ukuran eritro-sit. Konsentrasi EDTA yang tinggi menyebab-kan
eritrosit menyusut karena hipertonisitas plasma
- Pasca
analitik : pencatatan hasil harus teliti.
BAB
V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pada praktikum
kali ini adapun kesimpualn dari pemeriksaan kali ini yaitu Pemeriksan darah
rutin adalah tes darah yang di lakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah,
sel darah putih, dan trombosit dalam tubuh. Jumlah sel darah dapat
menggambarkan kondisi kesehatan sehingga dapat mempermudah dokter dalam
menentukan diagnosis dan pengobatan. Pemeriksaan darah rutin ini untuk mengetahui kesehatan pasien secara
keseluruhan , secara umum pada penyakit Leukimia, Anemia, ganguan pembekuan
darah. Adapun yang termasuk pemeriksaan darah rutin adalah Hemoglobin (Hb),
Hematokrit (Ht), Leukosit ; hitung leukosit dan hitung jenis (differential
count), hitung trombosit , Laju Endap Darah (LED),Hitung erytrosite. Praktikum
dengan pemeriksaan darah rutin ini menggunakan metode otomatis dengan alat
Hema-tology Analyzer. Hema-tology Analyzer adalah alat yang di gunakan untuk
memeriksa darah rutin dengan cara menghitung dan mengukur sel darah secra
otomatis berdasrkan impedansi aliran listrik atau berkas cahaya terhadap sel-sel
yang di lewatkan . kelebihanya yaitu hasil yang cepat dan akurat.
B. SARAN
Sebaiknya dalam
melakukan praktikm harus menggunakan APD lengkap, dan di harapkan prktilum
kedepanya dapat menggunakan metode yang lain lagi sehinga dapat menambah
pengetahuan bersama
DAFTAR
PUSTAKA
Anzani,Bella.
P . 2018. “Hubungan Hasil Pemeriksaan
Darah Rutin Terhadap Manifestasi Perdarahan Pada Anak Dengan Diagnosis Infeksi
Dengue Di Rs Dr.A. Dadi Tjkrodipo” Lampung: EGC
Dekayana,
Arlita. 2018 “Hitung Laju Endap Darah”.Ponogoro:
Inspirasi indonesia.
Horne,Mima.
M dan Swearingen,Pamela. L . 2001.”Keseimbanagan
cairan, Elektrolit dan Asam Basah”Jakarta: EGC.
Mallo,
Pricilia. Y dkk. 2012.” Rancang Bangun Alat Ukur Kadar Hemoglobindan
Oksigen Dalam Darah Dengan
SensorOximeter Secara Non-Invasive”
Neni Oktiyani, Fahriyan, Ahmad Muhlisin. 2017. “Akurasi
Hitung Jumlah Eritrosit Metode Manual Dan Metode Otomatis” Vol.3 No. 2. Jurusan Analis Kesehatan
Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
Wahdaniah, Sri Tumpuk. 2018. “Perbedaan Penggunaan
Antikoagulan K2edta Dan K3edta Terhadap Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit”Vol. 2 No. 2. Jurusan Analis
Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak.

No comments:
Post a Comment