Saturday, April 18, 2020


HEMATOLOGI III
(Makalah Thalassemia)



NAMA            : VALANTINE WAAS
NIM                : 18 3145 353 112
KELAS           : 2018C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020





KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas berlkat Rahmat-Nya yang besar.yang masih memberika kita kesehata, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini degan judul THALASSEMIA. Makalah ini di buat untuk memenuni slah satu tugas mata kuliah Hematologi II.dalam makalah ini mengulas tentang definisi thalassemia ,kalasifikasi, diagnosis major dan minor.
Saya mengucapkan t’rimaksih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini dan semuga makalah ini bermanfaat bagi pembaca .
Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sanagt kami harapkan dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaikai pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu yang datang .
Ambon,17 April 2020

    Valantini Waas





DAFTAR ISI
KATA PENGATAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
B.     TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
A.    DEFINISI DARI THALASSEMIA
B.     STRUKTUR MOLEKUL HEMOGLOBIN
C.    KLASIFIKASI DARI THALASSEMIA
D.    PATOFISIOLOGI THALASSREMIA
E.     BAGAIMANA ALUR DIAGNOSTIK
F.     DIAGNOSIS THALASSEMIA MINOR DAN MAJOR
G.    DIAGNOSIS BABNDING 
BAB III PENUTUP
A.    KESIMPULAN
B.     SARAN
DAFTAR PUSTAKA












BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Sel darah merah (eritrosit) merupakan komponen darah yang jumlahnya paling banyak. Sel darah merah normal berbentuk cakram dengan kedua permukaannyacekung atau   bikonkaf, tidak memiliki inti, dan mengandung hemoglobin. Kelainan pada sel darah merah terjadi karena sel darah merah dan/atau masa hemoglobin yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh yang sering disebut dengan anemia. Ada dua tipe anemia yaitu anemia gizidan non-gizi. Anemia gizi terjadi akibat  kekurangan gizi, sedangkan anemia non-gizi disebabkan oleh kelainan genetik . Salah satu penyakit anemia non-gizi yang sering diderita adalah Thalasemia. ( Williams, 2015)
 Thalassemia merupakan penyakit kelainan genetik yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin sehingga hemoglobin penderitanya mudah rusak dan mengalami penurunan. Hemoglobin adalah molekul yang ditemukan dalam sel darah merah yang diperlukan untuk mengangkut O2 dari paru-paru ke jaringan tubuh dan CO2 dari jaringan tubuh kembali ke paru-paru, dan untuk memberikan pigmen merah ke sel darah merah, (Neli dkk .2019 ).
 Penyakit thalassemia menjadi salah satu penyakit genetik tersering di dunia. Setiap tahunnya ada sekitar 60.000 anak dilahirkan dengan penyakit thalassemia.2 Sekitar 20% populasi dunia membawa thalassemia-α+ dan 5,2% dari populasi membawa thalassemia-α0 . Setiap tahun juga ada sekitar 56.000 bayi yang lahir dengan thalassemia-β mayor, (Neli dkk .2019 ).
Thalassemia-β mayor memiliki tampilan klinis anemia yang berat, biasanya ditemukan pada anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun.5 Mayoritas thalassemia-β mayor membutuhkan transfusi darah reguler dan juga terapi kelasi besi. Meskipun kelangsungan hidup thalassemia mayor meningkat dan sebagian besar bertahan hidup setelah dewasa, kualitas hidup dan harapan hidup tertinggi masih suboptimal.3 Akan tetapi bila anak tidak mendapat transfusi darah sampai mencapai kadar Hb tinggi akan terjadi peningkatan hepatosplenomegali, ikterus, dan deformitas skeletal akibat hyperplasia eritroid ekstrim, (Neli dkk .2019 ).
Transfusi darah secara rutin dapat memperpanjang kelangsungan hidup penderita talasemia-β mayor tetapi dapat menimbulkan iron overload yang dapat menyebabkan hemosiderosis yang pada akhirnya akan menyebabkan gangguan pada berbagai organ seperti hati, jantung, dan organ endokrin yang dapat mengganggu pertumbuhan anak.6 Gangguan pertumbuhan dan malnutrisi, ditandai dengan berat badan dan tinggi badan anak thalassemia-β mayor yang lebih rendah dibanding anak yang normal. Adanya masalah gizi pada penderita thalassemia menunjukkan masih banyak anak yang mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan dapat mempengaruhi status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya dan secara tidak langsung juga akan berdampak pada morbiditas dan mortalitas.7 Penimbunan besi dalam kelenjar endokrin juga dapat menyebabkan kegagalan kematangan seksual pada pasien thalassemia karena kurangnya hormon gonad akibat tidak terkontrolnya jumlah zat besi yang berlebihan yang mengganggu aktivasi sumbu hipothalamus dan hipofisis, (Neli dkk .2019 ).
Oleh karena itu yang melatar bekangi makalah ini yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa yang di maksud dengan Thalasemia dan klasifikasinya.
B.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahuai apa definisi dari thalassemia
2.      Untuk mengetahui Struktur Molekul Hemoglobin
3.      Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari thalassemia
4.      Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi thalassremia
5.      Untuk mengetahui bagaimana alur diagnostik
6.      Untuk mengetahui diagnosis thalassemia minor dan major
7.      Untuk mengetahui diagnosis babnding





BAB II
PEMBAHASAN
A.     DEFINISI THALASEMIA
 Istilah talasemia berasal dari kata Yunani yaitu Thalassa (laut) dan Haema (darah) yang mengacu pada adanya gangguan sintesis dari rantai globin (rantai α dan rantai β) yang merupakan subunit dari hemoglobin Hb A (α2; β2) ¹˒²º. Gen untuk sintesis rantai globin terletak di kromosom 11 (β) dan 16 (α)²¹. Sindrom Thalasemia diklasifikasikan berdasarkan adanya gangguan dari rantai globin, α atau β¹. Thalassemia adalah kelainan herediter yang ditandai dengan tidak adekuatnya sintesis dari satu atau lebih rantai dari globin
Thalassemia merupakan kelainan genetik pada susunan asam amino pembentuk satu atau lebih rantai globin pada hemoglobin sel darah merah Lahirnya penyandang baru thalassemia diakibatkandari perkawinan sesama pembawa gen (Putri dkk . 2016).
Thalassemia merupakan penyakit genetik sintesis hemoglobin yang menimbulkan masalah kesehatan yang cukup penting di negara berkembang karena angka kejadiannya yang tinggi serta konsekuensi jangka panjang yang harus diderita pasiennya. Thalassemia alfa (α) disebabkan berkurang atau tidak adanya sintesis rantai yang disebabkan oleh mutasi gen globin baik berupa delesi gen maupun non-delesi (mutasi titik).Angka kejadian thalassemia cukup bervariasi, namun cukup tinggi di Asia Tenggara dan Cina Selatan. Frekuensi pembawa sifat berdasarkan parameter indeks sel darah merah di Indonesia berkisar 2,6%-11%. Gambaran klinis pada thalassemia ditentukan oleh jumlah rantai yang ada, jenis mutasi yang terjadi, atau jenis gen yang terkena. Gambaran klinis pasien dengan mutasi non-delesi yang menghasilkan rantai globin alfa atau hemoglobin tidak stabil, biasanya lebih parah dibandingkan dengan pasien dengan mutasi delesi gen. Pemeriksaan analisis DNA sangat penting dilakukan untuk mengetahui jenis mutasi yang terjadi sehingga dapat diprediksi prognosis dan pengobatannya, informasi ini penting juga untuk konseling genetik.1-3 Tujuan laporan kasus ini untuk menunjukkan bahwa gambaran klinis thalassemia mayor dapat disebabkan oleh adanya mutasi non-delesi gen globin heterozigot ), ( Dina.2006).
B.     STRUKTUR MOLEKUL HEMOGLOBIN
Hemoglobin adalah suatu protein glubular majemuk yang tersusun atas 4 sub unit . masing masing sub unit tersusun atas bagian protein, yaitu globin dan bagian nir-protein yang di sebut hema. Tiap sub-unit hemoglobin memiliki struktur yang menyerupai molekul protein pengikat oksigen alin yaitu mioglobin. Bedanya kalo mioglobin sudah berfungsi optimal dengan molekul monomernya, (Abdul,1994).
C.     KLASIFIKASI THALASEMI
Klasifikasi dari Thalassemia berdasarkan jenis subunit globin yang mengalami defek, dan secara garis besar terdiri dari:
1.       Thalassemia-α
Hilangnya produksi gen α (α) atau berkurangnya produksi dari gen α (α), disebabkan oleh mutasi gen globin α baik berupa delesi gen maupun non-delesi (mutasi titik). Suatu studi molekul yang menggunakan teknik hibrid telah mengidentifikasi hilangnya fungsi gen α yang terkait delesi atau nondelesi dari mutasi gen menyebabkan berkurangnya fungsi gen sehingga menyebabkan mutasi pada kodon yang bertanggung jawab terjadinya syndrom α-thalassemia ¹˒². Pada α-thalassemia pembagiannya tergantung pada jenis mutasi gen-α yang mengalami kerusakan. Secara klinis thalassemia-α dapat terbagi menjadi 4 kelompok:
a.       Silent thalassemia-α (-α/αα).
Delesi 1 rantai α . Selalunya disebut thalassemia-α. Pada keadaan ini tidak terjadi kelainan hematologi . Kelainan ini ditemukan sekitar 15-20% dari populasi keturunan Afrika.
b.      Carrier thalassemia-α (--/αα atau –α/-α)
Delesi pada 2 gen-α. Disebut juga thalassemia-α minor. Dijumpai adanya anemia microcytic hypochromic ringan (Hb 12.6 g/dL, MCH 22 pg, MCV 68 fL)²¹˒²³.
c.        Hemoglobin H disease (--/-α)
Delesi dari 3 gen-α. Ciri hematologis ditandai adanya akumulasi dari rantai globin-β yang mudah larut membentuk tetramer β yang disebut HbH yang pada pemeriksaan pewarnaan supravital dijumpai adanya badan inklusi (Heinzs bodies). Diagnosis penyakit HbH dengan menggunakan pemeriksaan hemoglobin Elektroforesis. Penyakit HbH memiliki gejala anemia hipokromik mikrositik dengan Hb 8-10 g/dL. Pada pemeriksaan fisik dijumpai adanya pembesaran Hepar dan spleen. Adanya anemia yang berat dapat disebabkan oleh ekurangan asam folat, infeksi akut, paparan stres oksidatif, dan kehamilan. Pengobatan terdiri dari asam folat suplemen (5 mg/hari) dan transfusi darah.
d.      Hydrops Fetalis(--/--)
Merupakan delesi dari ke 4 rantai α. Janin yang terkena akan meninggal di dalam kandungan pada trimester kedua atau trimester ketiga kehamilan atau tidak lama setelah lahir³. Keadaan ini terjadi pada thalassemia-α homozigot, tidak terbentuknya ke empat rantai globin-α. Pada keadaan ini hemoglobin fetus (HbF atau α22) tidak terbentuk pada masa janin dalam kandungan yang mengakibatkan rantai globin- yang tidak mendapatkan pasangan selanjutnya akan mengalami agregasi membentuk tetramer 4 yang disebut Hb-Bart’s. Terjadi anemia yang berat , mengalami oedem yang luas, ascites, efusi pleura, dan efusi pericardial²˒¹². Pada pemeriksaan apusan darah tepi banyak dijumpai immature red cell , hipokrom, mikrositer, gambaran sel darah merah anisopoikilositosis
2.       Thalassemia-β
Terdapat lebih dari 200 mutasi thalassemia-β yang telah diakui dan terjadi dalam berbagai kelompok etnis . Thalassemia-β umumnya terdapat di daerah Mediterania, di anak benua India di Asia Tenggara dan umumnya pada orang-orang keturunan Afrika. Mutasi thalassemia-β dibagi menjadi dua Kategori: Thalassemia-β (beta zero) dan Thlassemia-β (beta plus)³¹.  Thalassemia-β dapat terjadi oleh karena hilangnya atau berkurangnya produksi dari rantai globin-β, dapat dibagi menjadi:
a.        Thalassemia-β minor (trait)
Pada β-thalassemia trait kelainan terjadi oleh karena ketidakseimbangan sintesa rantai globin-β. Pada thalassemia-β minor (trait)\ tidak mengalami anemia yang berat, tapi pada pemeriksaan darah lengkap di jumpai mikrositer (MCV<80 fl) dan hipokrom (MCH<27 pg). Pemeriksaan hemoglobin elektroforesis di jumpai peningkatan dari Hb A2 (>3,5%), namun pada thalassemia-α trait nilai HbA2 dapat normal atau menurun. Dalam membuat diagnosis thalassemia-β minor, harus mengesampingkan adanya penyakit kekurangan zat besi, yang dapat mengubah kenaikan kadar HbA2. HbF juga dapat terlihat, tergantung pada mutasi genetik yang mendasarinya. Manifestasi klinis thalassemia-β minor biasanya ringan, dan umumnya pasien memiliki kualitas hidup yang baik. Anemia secara klinis tidak signifikan dan tidak memerlukan perlakuan khusus, kadang-kadang dilaporkan adanya splenomegaly, perubahan tulang ringan, ulkus pada kaki atau cholelithiasis¹. Kedua orang tua yang memiliki pembawa sifat β-thalassemia, maka akan melahirkan ana-anak 25% normal, 25% β- thalassemia mayor dan 50% β-thalassemia trait.

Gambar.1. Skema Penurunan gen thalassemia-β
b.      Thalassemia-β Intermedia
Hampir 10% pasien thalassemia-β mengalami thalassemia-β intermedia (TI). Genetik dari kelompok ini mungkin memiliki homozigot talasemia-δβ atau homozygous atau heterozygous thalassemia β dan atau mutasi thalassemia-β . Pada TI mengalami anemia hemolitik yang sedang, dengan mempertahankan Hb >7 g/dl tanpa dukungan transfusi. Dalam penggunaan transfusi dibagi thalassemia-β intermedia dari thalassemia-β mayor. Ketika kebutuhan transfusi mencapai > 8 unit pertahun maka diklasifikasikan sebagai thalassemia-β mayor. Gejala klinis yang tampak pada TI biasanya terjadi pada umur 2-4 tahun. Gejalanya dapat berupa anemia, hiperbilirubinemia, dan hepatospleenomegali. Memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Pada beberapa anak TI, walaupun Hb>7g/dl dapat mengalami kegagalan dalam pertumbuhan ,kurus yang tidak dapat kembali seperti semula kecuali apabila dilakukan transfusi reguler sebelum umur 6 atau 7 tahun
3.       Thalasemia Mayor
Thalassemia-β mayor selalu disebut anemia Cooley, anemia Mediterranean dan anemia Jaksch menunjukkan bentuk penyakit yang homozigot ataupun yang heterozigot ditandai dengan gejala anemia berat (1-7 g/dL), hemolisis dan inefektif eritropoesis yang berat. Manifestasi yang muncul pada masa anak-anak dapat terjadi anemia yang berat, ikterus, pertumbuhan terhambat, aktivitas menurun dan sering tidur. Hepatosplenomegaly dengan tanda awal dari wajah thalassemia biasanya ditemukan¹. Pada pemeriksaan hapusan darah tepi dijumpai poikilositosis, mikrositosis, hipokrom, target sel, basophilic stipling, pappenheimer bodies (siderotic granules) dan retikulositosis dengan peningkatan Nucleated Red cells


Gamabar.2.Klasifikasi Thalassemia-β
D.     PATOFISIOLOGI
Patofisiologi thalassemia mencakup mutasi atau delesi pada gen untuk rantai globin alfa ataupun beta.
Hemoglobin pada dewasa terdiri dari bentuk A, A2 dan F (fetal). Hemoglobin A (HbA) mencakup 95-98% dari seluruh jumlah hemoglobin pada tubuh dan terdiri dari tetramer yang terbuat dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin beta. Hemoglobin A2 (HbA2) mencakup mayoritas dari sisa hemoglobin yang ada (<3.3%) dan terdiri dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin delta. <1% dari hemoglobin adalah hemoglobin F (HbF) dan terdiri dari 2 subunit globin alfa dan 2 subunit globin gamma.
Pada saat perkembangan fetus, proses eritropoiesis awalnya terjadi pada hati, kemudian ke limpa dan pada usia pertengahan kehamilan mulai beralih ke sumsum tulang. Pada usia kehamilan 6-10 minggu mayoritas dari hemoglobin yang ada pada bayi adalah HbF, mayoritas dari rantai globin yang dibentuk adalah subunit globin alfa dan subunit globin fetal. Pada sekitar usia 30 minggu, jumlah pembentukan rantai globin fetal mulai menurun dan jumlah rantai globin beta meningkat sehingga jumlah HbF menurun dan HbA meningkat. Setelah lahir, jumlah pembentukan HbF akan terus menurun dan HbA akan meningkat sehingga 95-98% dari Hb di tubuh adalah HbA
Thalassemia terjadi apabila terdapat kelainan pada gen yang mempengaruhi produksi rantai globin sehingga produksi Hb menurun. Kelainan pembentukan rantai globin yang paling sering terjadi terkait dengan globin alfa dan globin beta dan menyebabkan thalassemia alfa dan thalassemia beta. Terdapat beragam genotip dan gambaran klinis thalassemia.
Gen untuk globin alfa terdapat pada kromosom 16 dan terduplikasi sehingga pada setiap sel somatik terdapat 4 kopi gen rantai alfa pada setiap pasangan kromosom homolog. Gen untuk globin beta, gamma, dan delta terdapat pada kromosom 11 dan tidak terduplikasi. Banyak heterogenisitas dari thalassemia alfa dan beta. Kedua dari penyakit ini diturunkan secara autosomal resesif dari orang tua.
Secara umum pada kedua jenis thalassemia alfa dan beta terdapat kelainan pada proses eritropoiesis dimana terbentuk jumlah sel darah merah yang kurang dan yang terbentuk pun juga tidak berbentuk sempurna. Eritrosit yang terbentuk pada thalassemia memiliki kelainan pada struktur membran dan permeabilitasnya sehingga mudah rusak. Eritrosit pada thalassemia memiliki jumlah HbA yang kurang sehingga terbentuklah hemoglobin jenis lainnya. Hemoglobin jenis lain tersebut lebih rentan terhadap stres oksidatif dan mudah membentuk presipitat sehingga terbentuk badan inklusi, badan Heinz, dan badan Howell Jolly. Pada saat eritrosit rusak terjadi gejala kuning dan pembesaran limpa. Eritropoiesis yang terjadi juga tidak dapat terjadi dengan baik sehingga perlu dilakukan secara berlebihan dan menyebabkan abnormalitas dan hiperoplasia tulang.
E.     ALUR DIAGNOSTIK

Gambar.3. Alaur Diagnostik
Diagnosis kerja pertama kali pada pasien ini adalah thalassemia berdasarkan adanya gejala pucat, pembesaran hati dan limpa, serta kadar Hb, nilai MCV dan MCH yang rendah, ditemukan tanda-tanda hemolisis, namun tak ditemukan badan inklusi HbH. Pada analisis Hb ditemukan kadar HbA2 normal sedangkan HbF sedikit meningkat. Diagnosis
FM thalassemia agak terlambat ditegakkan karena barupada saat analisis Hb terakhir ditemukan adanya HbBart’s, berdasarkan gambaran grafik analisis Hb, ( Dina.2006)
      Analisis DNA sangat diperlukan untuk menemukan mutasi yang terjadi, karena kedua orangtuanya tidak ada yang menunjukkan pembawa sifat thalassemia  yang berat dengan kadar MCV mendekati nilai normal (78 dan 79,3fL). Keadaan seperti ini biasanya
disebabkan oleh adanya mutasi titik. Analisis DNA menunjukkan adanya mutasi heterozigot ganda yaitu mutasi pada mutasi titik pada kodon 59 dan mutasi titik IVS2-nt142. Mutasi pada kodon 59 diturunkan dari ayah sedangkan mutasi titik IVS2-nt142 diturunkan dari ibu pasien, ( Dina.2006)
      Mutasi di kodon 59 mengakibatkan perubahan asam amino glisin menjadi aspartat (GGCglisin GACaspartat) dan menghasilkan varian hemoglobin yang sangat tidak stabil. Gambaran klinis yang dapat terjadi pada mutasi ini adalah mulai dari thalassemia intermedia atau mayor, bahkan hidrops fetalis. Mutasi ini dilaporkan juga di Turki, Cina, Israel, dan Indonesia. Mutasi IVS2-nt142 mempengaruhi proses RNA (splice acceptor consensus sequence) yaitu adanya perubahan sekuens dari AG menjadi AA. Mutasi ini dilaporkan pada dua orang pasien di Argentina yaitu seorang ibu dan putrinya. Sang ibu menderita anemia, ikterus, dan hepatosplenomegali. Mutasi yang terjadi pada ibu adalah mutasi pada IVS2- nt142 dan mutasi delesi dua gen. Sedangkan anaknya tidak mempunyai gejala klinis dan hanya mempunyai mutasi IVS2-nt142 saja, ( Dina.2006)
Kasus ini merupakan kasus pertama yang mempunyai mutasi heterozigot ganda pada kodon 59 dan IVS2-nt142. Gejala klinis pada pasien ini adalah thalassemia mayor diakibatkan adanya mutasi kodon 59 yang menghasilkan varian hemoglobin yang tidakPrognosis penyakit HbH sangat bervariasi, namun secara umum prognosis cukup baik; banyak pasien yang dapat hidup sampai dewasa. Walaupun demikian kasus ini memberikan informasi penting, bahwa dapat memberikan gejala anemia berat pada masa bayi. stabil (HbAdana) disertai adanya mutasi titik pada IVS2-nt142, ( Dina.2006).
F.      DIAGNOSIS THALASEMIA MAJOR DAN MINOR
Anemia Thalasemia merupakan penyakit hemolitik atau kurangnya kadar hemoglobin yang disebabkan oleh defisiensi pembentukan rantai globin Alpha atau Betha yang menyusun hemoglobin. Berdasarkan defisiensi pembentukan rantai globin tersebut maka Thalasemia dibedakan menjadi Thalasemia Alpha dan Thalasemia Betha . Berdasarkan gejala klinis Thalasemia dikategorikan menjadi dua yaitu Thalasemia minor dan Thalasemia Mayor. Jenis Thalasemia yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Thalasemia Betha (β) Mayor yaitu sebanyak 50% . Identifikasi Thalasemia Betha (β) Mayor biasanya dilakukan melalui pemeriksaan hematologi, akan tetapi proses tersebut membutuhkan waktu dan keahlian (jam terbang pengidentifikasi). Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan citra dalam membantu mengidentifikasi sel darah, (Esti dkk, 2015)
Thalasemia Betha (β) Mayor ditandai dengan rusaknya sel darah merah serta perubahan morfologi pada sel darah merah yang meliputi bentuk dan ukuran sel. Perubahan tersebut ditandai dengan adanya sel-sel abnormal yaitu sel mikrositik, eritrosit berinti (eritroblast), small fragment dan sel target (leptocytes) , (Esti dkk, 2015)
. Mikrositik merupakan sel darah merah yang mempunyai ukuran sel lebih kecil dari sel darah merah normal yaitu berukuran < 6μm , eritroblast merupakan eritrosit yang masih muda, mempunyai ukuran yang sama dengan sel darah putih tetapi inti sel cenderung keluar, small fragment merupakan pecahan sel darah merah sedangkan sel target merupakan sel darah merah yang menyerupai bentuk seperti mata sapi, (Esti dkk, 2015)
Metode Otsu dipublikasikan oleh Nobuyuki Otsu pada tahun 1979. Metode ini menentukan nilai ambang dengan cara membedakan dua kelompok, yaitu objek dan latar belakang, yang memiliki bagian yang saling bertumpukan, berdasarkan histogram. Prinsip metode Otsu dijelaskan berikut ini. (Esti dkk, 2015)
G.     DIAGNOSIS BANDING
Menurut Esti dkk, 2015 mengemukakan bahwa ,Ekstraksi ciri dilakukan untuk memperoleh ciri yang akan digunakan pada proses identifikasi. Ciri yang diambil meliputi:
a)      Luas area sel, adalah jumlah piksel pada setiap sel hasil proses segmentasi.
b)       Luas area inti, adalah jumlah piksel hasil segmentasi inti.
c)      Diameter sel ,Diameter sel dihitung berdasarkan ukuran panjang (p) dan lebar (l) dari bounding box, 2 garis diagonal bounding box, 2 garis perputaran 300 dan 2 garis perputaran 600. Nilai terbesar dari panjang 8 garis yang terbentuk dari titik pusat sel disebut sebagai diameter maksimum sedangkan nilai terkecil dari panjang 8 garis yang terbentuk dari titik pusat sel disebut sebagai diameter minimum. Gambar 3
merupakan contoh perhitungan diameter.

Gambar.4.Contoh perhitungan diameter
d)      Rasio sel
Rasio merupakan perbandingan antara persentase luas area dengan luas lingkaran sel darah. Rumus rasio sel terdapat pada Persamaan 1.
Rasio  :

Gambar.5. Ciri Thalasemia Betha (β) Mayor
Thalasemia Betha merupakan kelainan yang disebabkan oleh kurangnya produksi protein Betha. Thalasemia Betha dibagi menjadi Thalasemia Betha Trait (Minor), Thalasemia Intermedia, Thalasemia Major (Cooley’s Anemia) . Thalasemia βMayor atau Thalasemia Major mengalami perubahan bentuk abnormal pada sel mikrositik yang menjadi ciri dominan, eritrosit berinti (eritroblast), small fragment dan sel target. Mikrositik merupakan sel darah merah yang memiliki ukuran lebih kecil dari sel darah merah normal dan juga lebih kecil dari intisel (nukleus) pada sel darah putih atau < 6μm . Eritroblast merupakan eritrosit yang masih muda. Smallfragment merupakan pecahan sel darah merah. Sel target merupakan sel darah merah yang menyerupai bentuk target seperti mata sapi, (Esti dkk, 2015).



Gambar.6..Sel darah Thalasemia β Mayor


Gambar .7. Proses segmentasi sel





















BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Thalasemia adalah sebuah kelainan genetik yang merusak sel darah merah. Thalasemia juga merupakan salah satu jenis anemia hemolitik yang diturunkan secara autosomal. Dalam sel darah merah terdapat hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen. Molekul hemoglobin terdiri atas dua rantai goblin yaitu rantai alfa dan rantai beta. Sel darah merah yang terganggu produksi hemoglobinnya dalam tubuh akan menyebabkan anemia. Thalassemia-α  adalah Hilangnya produksi gen α (α) atau berkurangnya produksi dari gen α (α), disebabkan oleh mutasi gen globin α baik berupa delesi gen maupun non-delesi (mutasi titik).Thalassemia-β Terdapat lebih dari 200 mutasi thalassemia-β yang telah diakui dan terjadi dalam berbagai kelompok etnis
B.     SARAN
Sebaiknya kita harus memperhatikan dan sering melakukan pemeriksaan atau berkonsultasi agar ada penindak lanjutan dari pihak rumah sakit ,apalgi kita dalam garis keterunan teleh terkena peyakit Thalassemian.

















DAFTAR PUSTAKA
Alyumnah,Putri dkk . 2016. “Skrining Thalassemia Beta Minor pada Siswa SMA di Jatinangor” Vol.1 No.3. 1Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Muktiarti, Dina.2006.”Thalassemia Alfa Mayor dengan Mutasi Non-Delesi Heterozigot Ganda”vol.8 No.3

Salsabila,Neli dkk .2019.Nutrisi Pasien Thalassemia”Vol.8 No.1.Mahasiswa,Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Salam, Abdul dkk. 1994.”Genetik”Yogyakarta: Andi Offset.

Suryani1, Esti dkk. 2016.”Identifikasi Anemia Thalasemia Betha (𝜷) Berdasarkan Morfologi Sel Darah Merah Mayor”Vol.2. No.1. 1,2,3Riset Group Ilmu Rekayasa dan Komputasi, Informatika, FMIPA, Universitas




No comments:

Post a Comment