(METODE
PEMERIKSAAN PENEGAKAN DIAGNOSIS ANEMIA)
NAMA
:VALANTINE WAAS
NIM :
18 3145 353 112
KELAS
: 2018C
PROGRAM STUDI DIV
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
TES DIAGNOSTIK
LABORATORIUM
Ø TES
APUSAN DARAH TEPI
Sediaan apus darah (sediaan apus
darah tepi / preparat darah)
adalah salah satu teknis pemeriksaan sel-sel darah menggunakan mikroskop. Pemeriksaan sediaan darah umumnya digunakan untuk membantu
pemeriksaan kelainan darah dan
juga infeksi parasit, seperti malaria.
A.
Pra Analitik
1.
Persiapan Pasien : Tidak memerlukan
persiapan khusus
2.
Persiapan sampel :
a.
Darah kapiler segar akan memberikan
morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus
b.
Darah EDTA (etilen diamin tetra asetat).
EDTA dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap morfologi eritrosit dan
lekosit serta mencegah trombosit bergumpal. Tes sebaiknya dilakukan dalam waktu
kurang dari 2 jam. Tiap 1 ul EDTA digunakan untuk 1 ml darah vena
3.
Prinsip test : Prinsip pewarnaan
didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam akan
bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula sebaliknya.
Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu menggunakan dua zat
warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B (trimethylthionin)yang bersifat
basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang bersifat asam seperti yang
dianjurkan oleh the International Council for Standardization in Hematology,
dan pewarnaan yang dianjurkan adalah Wright-Giemsa dan May GrunwaldGiemsa
(MGG).
4.
Alat dan bahan :
a.
Alat :
1)
Kaca Objek 25x75 mm
2)
Batang gelas
3)
Rak kaca objek
4)
Pipet Pasteur
b.
Bahan/reagen :
1)
Metanol absolut dengan kadar air kurang
dari 4%, disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk mencegah masuknya uap
air dari udara.
2)
Air suling 1 L
Sebagai
pengganti larutan dapar, dapat dipakai air suling yang pHnya diatur dengan
penambahan tetes demi tetes larutan Kalium bikarbonat 1% atau larutan HCl 1%
sampai indikator Brom Thymol Blue ( larutan 0,04 % dalam air suling ) yang
ditambahkan mencapai warna biru.
3)
Zat warna Giemsa
Zat
warna giemsa 1g
Methanol
absolut 10 ml
Hangatkan
campuran ini sampai 50°C dan biarkan selama 15 menit, kemudian disaring.
Sebelum dipakai, campuran ini diencerkan sebanyak 20 x dengan larutan dapar pH
6,6. Untuk mencari parasit malaria, dianjurkan menggunakan larutan dapar pH 7,2
B.
Analitik
1.
Cara Membuat Sediaan Apus
a.
Dipilih kaca objek yang bertepi rata
untuk digunakan sebagai “ kaca peng-apus “ sudut kaca objek yang dipatahkan,
menurut garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak
mencapai tepi kaca objek
b.
Satu tetes kecil darah diletakkan pada ±
2 –3 mm dari ujung kaca objek.Kaca penghapus diletakkan dengan sudut 30 – 45
derajat terhadap kaca objek didepan tetes darah.
c.
Kaca pengapus ditarik kebelakang
sehingga tetes darah , ditunggu sampai darah menyebar pada sudut tersebut.
d.
Dengan gerak yang mantap , kaca
penghapus didorong sehingga terbentuk apusan darah sepanjang 3 – 4 cm pada kaca
objek. Darah harus habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca
objek. Apusan darah tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini
dapat diatur dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan
menggeser. Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, maka makin tipis
apusan darah yang dihasilkan.
e.
Apusan darah dibiarkan mengering di
udara. Identitas pasien ditulis pada bagian tebal apusan dengan pensil kaca.
Sediaan
Yang Baik Mempunyai Ciri – ciri :
1)
Tidak melebar sampai tepi kaca objek,
panjangnya setengah sampai dua pertiga panjang kaca
2)
Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk
diperiksa, pada bagian itu eritrosit terletak berdekatan tanpa bertumpukan.
3)
Rata , tidak berlubang-lubang dan tidak
bergaris-garis
4)
Mempunyai penyebaran lekosit yang baik,
tidak berhimpun pada pinggir-pinggir atau ujung-ujung sediaan
Ciri-ciri sediaan apus yang baik
2.
Cara Mewarnai Sediaan Apus
a.
Pewarnaan Giemsa
1)
Letakkan sediaan apus pada dua batang
gelas di atas bak tempat pewarnaan.
2)
Fiksasi sediaan apus dengan metanol
absolut 2 – 3 menit.
3)
Genangi sediaan apus dengan zat warna
Giemsa yang baru diencerkan. Larutan Giemsa yang dipakai adalah 5%, diencerkan
dulu dengan larutan dapar. Biarkan selama 20 – 30 menit.
4)
Bilas dengan air ledeng, mula-mula
dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua
kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan
biarkan mengering.
3.
Nilai Rujukan :
a.
Evaluasi Eritrosit Yang perlu
diperhatikan dalam mengevaluasi eritrosit adalah morfologi, perhatikan :
1)
Ukuran (size) Diameter eritrosit yang
normal (normositik) adalah 6 – 8 µm atau kurang lebih sama dengan inti limposit
kecil
2)
Bentuk (shape) Bentuknya bikonkaf bundar
dimana bagian tepi lebih merah daripada bagian sentralnya
3)
Warna (staining) Bagian sentral lebih
pucat disebut akromia sentral yang luasnya antara 1/3 -1/2 kali diameter
eritrosit.
C.
Pasca Analitik
1.
Evaluasi Eritrosit Dengan pemeriksaan
ini dapat ditemukan berdasarkan morfologi yakni
:
a.
Anemia Mikrositik Hipokrom misalnya pada
penderita defisiensi Fe.
b.
Anemia Normositik Normokrom misalnya
pada pendarahan akut.
c.
Anemia Mikrositik misalnya pada
defisiensi Vit. B12 dan asam folat.
2.
Bentuk eritrosit hemolisis : Morfologi
secara umum adalah polikromatofilik, makrosit, dansel eritrosit berinti. Bentuk
morfologi khusus bervariasi tergantung etiologi kerusakan eritrosit :
a.
Akantosit pada abetalipoproteinemia,
sirosis, uremia,Haemolytic Uremic Syndrome (HUS), anemia hemolitik.
b.
Ekinosit pada abetalipoproteinemia,
sirosis, uremia HUS,
c.
Sel Target pada Hb C atau E, penyakit
hati, ikterus obstruktif, talasemia, pasca splenektomi.
d.
Sel tetes Air Mata pada mielofibrosis,
talasemia, anemia hemolitik, mieloftisis.
e.
Sickle Cell pada sickle cell anemia.
f.
Sferosit pada hemolisis didapat maupun
herediter.
g.
Ovalosit pada ovalositosis herediter.
h.
Sistosit pada talasemia, anemia hemolitik,
mikroangiopati.
3.
Distribusi abnormal eritrosit Rouleaux
formation pada multipel mieloma, makroglobulinemia Waldenstorm. Benda-benda
inkuilis dalam eritrosit :
a.
Normoblast pada pendarahan akut,
hemolisis berat mielofibrosis, asplenia, leukimia, mieloftsis.
b.
Basophilic Stippling anemia sindroma
Mielodisplasia.
c.
Howell Jolly Bodies pada anemia
megaloblastik, asplenia, hemolisis berat.
d.
Cabot’s, Ring pada hemolisis berat.
e.
Heinz Bodies pada talasemia, anemia
hemolitik karena obat, leukemia
4.
Kelainan Eritrosit:
a.
Makrositosis Keadaan dimana diameter
rata-rata eritrosit lebih dari 8,5 mikron dengan tebal rata- rata 2,3 mikron.
Ditemukan misalnya pada anemi megaloblastik,anemia pada kehamilan dan anemia
pada malnutrition. Makrosit dengan bentuk agak oval dengan diameter 12 – 15
mikron disebut megalocyt ditemukan pada anemi deficiency vitamin B 12 dan atau
deficiency asam folat.
b.
Mikrositosis Keadaan dimana diameter
rata-rata eritrosit kurang dari 7 mikron dan tebal rata-rata 1,5 – 1,6 mikron.
c.
Anisositosis Keadaan dimana ukuran
besarnya eritrosit bervariasi, jadi terdapat makro,normo dan mikrosit, sedang
bentuknya sama. Ditentukan misalnya pada anemia kronika yang berat.
5.
Variasi Warna Eritrosit
a.
Normokromia Keadaan dimana eritrosit
dengan konsentrasi Hb normal.
b.
Hipokromia Kead aan eritrosit dengan
konsentrasi kurang dari normal. Bila daerah pucat di central sel
melebar,terjadilah “ring erythrocyte” atau anulosit. Ditemukan misalnya pada
anemia deficiency besi,thalassemia,hemoglobinopati C atau E.
c.
Hiperkromia Keadaan eritrosit dengan
warna oxyphil yang lebih dari normal bukan karena kejenuhan Hb, melainkan
karena penebalan membran sel. Ditemukan pada spherocytosis.
d.
Polikromasia Kea daan beberapa warna
pada eritrosit misalnya basofilik asidofilik ataupun polikromatofilik.
Ø TES HITUNG RETIKULOSIT
A.
Pra Analitik
1.
Persiapan pasien
2.
Persiapan sampel
3.
Prinsip :
Darah
dicampur dengan larutan, Brilliant Crecyl Blue atau larutan New Methylene Blue,
lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah mikroskop.
Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %
4.
Alat dan bahan :
a.
Alat :
1)
Tabung reaksi kecil
2)
Kaca obyek dan kaca penggeser
3)
Pipet Pasteur
4)
Penangas air
5)
Mikroskop.
b.
Bahan :
Brilliant
Cresyl Blue atau New Methylene Blue (Colour Index 52030) 1g Larutan sitrat
salin 100 ml Larutan sitrat salin dibuat
dengan mencampur 1 bagian natrium sitrat 30 g/l 4 bagian larutan Na Cl 9,0 g/l.
B.
Analitik
1.
SediaanKering :
a.
Kedalam tabung reaksi kecil teteskan 3
tetes larutan Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue.
b.
Tambahkan 3 tetes darah, campurkan
baik-baik dan biarkan pada suhu ruangan selama 15 menit agar pewarnaan
sempurna. Cara yang lain :Setelah ditambahakan 3 tetes darah, campurkan
baik-baik, tabung ditutup dengan parafilm dan diinkubasi pada 37 c selam 30-60
menit.
c.
Setelah inkubasi, tabung dihomogenkan
lagi dan ambil 1 tetes untuk membuat sediaan apus. Keringkan di udara dan
diperiksa di bawah mikroskop.
d.
Periksalah dengan perbesaran obyektif
100 kali.Dicari daerah yang baik yaitu eritrosit tidak tumpang tindih.
Retikulosit tampak sebagai sel yang lebih besar dari eritrosit. Dan mengandung
filamen atau granula. Dengan BCB, eritrosit berwarna biru keunguan dengan
filamen atau granula berwarna ungu. Bila menggunakan NMB, retikulosit berwarna
biru dengan filamen atau granula berwarna biru tua. Hitunglah jumlah
retikulosit per 1000 eritrosit dengan lensa emersi
e.
Jumlah retikulosit dapat dinyatakan
persen / per mil terhadap jumlah eritrosit total atau dilaporkan dalam jumlah
mutlak. Misal : dalam 10 lapangan pandang dijumpai 2000 eritrosit dan
retikulosit 76. 100 Jumlah retikulosit (%) : x 76 = 3,8 % atau 2000 1000 x 76 = 38 permil 2000 Bila diketahui jumlah
eritrosit 3,5 juta/µl makab38 Jumlah retikulosit = x 3.500.000 /ul = 133.000 /
µl 1000
2.
Sediaan Basa :
a.
Taruh 1 tetes larutan BCB
ditengah-tengah kaca obyek.
b.
Tambahkan 2 tetes darah dilarutan BCB,
homogenkan darah dengan larutan BCB dengan menggunakan sudut kaca obyek.
c.
Tutup dengan kaca penutup
d.
Periksa dengan minyak emersi Cara
penghitungan sama dengan sediaan kering
Jika didapatkan jumlah retikulosit yang tinggi atau disertai dengan
nilai hematokrit rendah maka dilakukan koreksi terhadap nilai retikulosit.
Nilai koreksi ini disebut indeks retikulosit(Reticulocyte Production Indeks)
RP
I = % Retikulosit x Hmt penderit x faktor koreksi
|
Hematokrit
Penderita
|
Faktor
Koreksi
|
|
40-45
35-40
25-34
15-24
<
15
|
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
|
C.
Pasca Analitik
Nilai
rujukan = 0,5 – 1,5%
Hitung
retikulosit meningkat pada : perdarahan akut, hemolisis,
RP
I <2% = kegagalan sum-sum tulang membentuk
eritrosit.
RP
I 2 – 3% = respons baik terhadap anemia hemolitik
RP
I >3% = Hiperproliferasi
Sumber
kesalahan :
1.
Volume darah yang digunakan tidak sesuai
dengan volume zat warna
2.
Zat warna tidak disaring akan mengendap
di eritrosit sehingga tampak seperti retikulosit
3.
Waktu inkubasi campuran darah dan zat
warna kurang lama
4.
Tidak menghomogenkan campuran zat warna
dengan darah sebelum membuat sediaan apus Retikulosit mempunyai berat jenis
yang lebih rendah dari eritrosit sehingga berada dibagian atas dari campuran.
5.
Menghitung di daerah yang terlalu padat
6.
Jumlah eritrosit yang dihitung tidak
mencapai 1000.
Ø TES COOMB’S
Coombs test
adalah sebuah pengujian atau tes darah yang dilakukan untuk menemukan antibodi
tertentu yang menyerang sel-sel darah merah. Antibodi adalah protein yang
diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. Biasanya, antibodi mengikat zat-zat
asing, seperti bakteri dan virus, untuk kemudian menghancurkannya.
Terdapat dua
jenis Coombs test yang umum dilakukan, yaitu:
a)
Tes Coombs langsung (direct) yang melibatkan
pemeriksaan langsung pada sel-sel darah merah yang ditemukan dalam sampel
darah. Coombs test langsung terkadang disebut juga tes antiglobulin langsung.
b)
Tes Coombs tidak langsung (indirect) dilakukan dengan melakukan pemeriksanaan pada bagian
lain dari darah yang disebut dengan plasma darah.
Kedua jenis tes tersebut bertujuan untuk mencari
antibodi yang dapat menyerang sel-sel darah merah dan membuatnya hancur.
A.
Pra Analitik :
1.
Persiapan pasien :
Catat
daftar obat yang sedang dikonsumsi pasien. Obat yang dapat mempengaruhi tes ini
adalah : penisilin, sefalosporin, antihipertensi dan lain-lain
2.
Persiapan sampel :
Hindari
sampel hemolisis, sampel darah dengan antikoagulan natrium sitrat 3,8%. Tes
sebaiknya dilakukan selambatnya 2 jam.
3.
Prinsip :
Penambahan
serum Coomb‟s (serum hewan yang mengandung antibodi spesifik terhadap globulin
manusia) pada eritrosit yang tersensitisasi / eritrosit yang terbungkus dengan
imunoglobulin atau komplemen akan menimbulkan suatu aglutinasi.
4.
Alat dan bahan :
a.
Alat :
1)
Tabung reaksi
2)
Pipet tetes
3)
Sentrifus
4)
Inkubator
5)
Kaca obyek dan kaca penggeser
b.
Bahan :
1)
Darah sitrat (1:9)
2)
Larutan NaCl fisiologis (0,9%)
3)
Reagen Coomb‟s
B.
Analitik
:
1.
Sebanyak 0,5 ml darah yang diperiksa
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2.
Lakukan pencucian eritrosit 4 kali
berturut-turut dengan setiap kali dilakukan sentrifus kemudia plasma dibuang
3.
Buatlah suspensi eritrosit yang
tertinggal dalam tabung setelah sentrifus terakhir dengan menambah sekian
banyak NaCl fisiologis sampai suspensi eritrosit mempunyai nilai hematokrit 2%
4.
Ke dalam tabung 75 x 10 mm, masukkan 1
tetes suspensi tadi kemudian tambahkan dengan 2 tetes reagen Coomb‟s.
5.
Campur kemudian inkubasikan pada suhu
37OC selama 30-50 menit
6.
Kocok dengan hati-hati tabung tersebut
lihat adanya aglutinasi, konfirmasikan dengan menggunakan mikroskop
7.
Jika hasilnya negatif lakukan sentrifus
kembali dengan 1000 rpm selama 1 menit
8.
Periksa kembali adanya aglutinasi seperti
langkah 6
9.
Bandingkan hasil tes dengan kontrol
positif dan kontrol negatif
C.
Pasca Analitik :
-
Terjadi aglutinasi membuktikan adanya
antibodi yang melapisi eritrosit. Tes
-
Coomb‟s positif ditemukan pada :
Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir Anemia hemolitik autoimun Anemia
hemolitik karena obat-obatan Reaksi transfusi hemolitik
Ø TES ELEKTROFORESIS HEMOGLOBIN
Elektroforesis
hemoglobin adalah tes darahyang dapat mendeteksi berbagai
jenis hemoglobin . Ia menggunakan prinsip elektroforesis geluntuk memisahkan
berbagai jenis hemoglobin dan merupakan jenis elektroforesis gel asli .Tes ini
dapat mendeteksi kadar HbS yang abnormal, bentuk yang terkait dengan penyakit
sel sabit, serta kelainan darah terkait hemoglobin abnormal lainnya, seperti
beta thalassemia dan hemoglobin C.
A.
PraAnalitik
1.
Persiapan Pasien :
a.
Hindari obat yang meningkatkan protein total
serum (steroid, androgen, digitalis, insulin, kontrasepsi oral)
b.
Hindari obat yang menurunkan protein
total serum (laksansia, rifampisin, dekstran, estrogen)
2.
Persiapan Sampel :
a.
Hindari pemakaian sampel yang ikterik
dan lipemik
b.
Hindari hemolisis dan torniquet yang
lama : hasilpeningkatan palsu
3.
Prinsip
Pemisahan
partikel-partikel dengan muatan listrik yang berbeda, dengan cara mengalirkan
arus listrik melalui campuran partikel yang diletakkan pada suatu medium
penyangga Molekul bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda kearah elektrode
sesuai muatan dan konfigurasinya juga ditentukan oleh sifat media penyangga
yang dipakai.
4.
Alat dan bahan :
a.
Alat
1)
Komponen elektroforesis dan power supply
2)
Komponen densitometer
3)
Aplikator
4)
Bak pewarna (untuk proses staining,
destaining, dandehydration)
5)
Bak/ kotak kaca (untuk proses clearing)
6)
Oven/hair dryer
b.
Bahan
1)
Sampel serum
2)
Kertas selulosa asetat
3)
Larutan bufer : Tris boric acid EDTA
dengan I (Ion streng) 0,03-0,12
4)
Zat pewarna (Ponceau S)
5)
Destaining solutio : asam asetat 5% yang
dibuat dari asam asetat glasial 5 ml ditambah akuades 5 ml
6)
Dehidration solutio : etanol 96%
7)
Clearing solutio : campuran 7 bagian
volume asam asetat + 3 bagian volume etil asetat
B.
Analitik
1.
Kertas /strip yang dilapisi agarose di
rendam pada larutan buffer
2.
Ambil sampel cairan serum dari tabung.
3.
Tuang sampel pada strip berjejer secara
melintang
4.
Letakan strip pada bridge secara mendatar
& sambungkan dengan alat elektrophoresis,
5.
Pemisahan selesai, kemudian dengan
pemulasan protein (Hasil berupa protein staining), dan dilakukan penilaian
dengan densitometer yang dihubungkan elektrophoretogram, hasil berupa kurva dan
hasil prosentase masing-masing fraksi protein.
C. Pasca
Analitik :
1.
Sampel darah akan diproses oleh mesin.
Hasilnya biasanya tersedia setelah 1-2 hari.
a.
Risiko :
Hemoglobin
elektroforesis dianggap sebagai prosedur yang aman. Namun, beberapa masalah
dapat terjadi dengan memiliki darah diambil, termasuk: pingsan atau perasaan
pusing, hematoma (Darah mengumpulkan bawah kulit yang menyebabkan benjolan atau
memar), rasa sakit yang terkait dengan beberapa tusukan untuk mencari vena
Membantu Anak Anda Memiliki tes darah relatif tanpa rasa sakit. Namun, banyak
anak yang takut jarum. Menjelaskan tes dalam hal anak Anda dapat memahami
mungkin membantu mengurangi beberapa rasa takut. Biarkan anak Anda untuk
meminta teknisi pertanyaan ia mungkin memiliki. Beritahu anak Anda untuk
mencoba untuk bersantai dan diam selama prosedur, seperti yang menegangkan otot
dan bergerak dapat membuat lebih sulit dan lebih menyakitkan untuk mengambil
darah. Hal ini juga dapat membantu anak Anda untuk berpaling ketika jarum yang
dimasukkan ke dalam kulit.
2.
Hasil normal pada bayi dan anak-anak
Kadar hemoglobin yang normal pada anak-anak, adalah:
Hb
F (neonatal) : 50% – 80%
Hb
F (6 bulan) : 8%
Hb
F (>6 bulan) : 1% – 2%
3.
Hasil normal pada orang dewasa Kadar
hemoglobin yang normal pada orang dewasa, adalah:
Hb
A : 95% – 98%
Hb
A2 : 2% – 3%
Hb
F : 0.8% – 2%
Hb
S : 0%
Hb
C : 0%
Ø TES FE SERUM DAN TIBC
Total
kapasitas pengikatan zat besi ( TIBC
) atau kadang-kadang kapasitas
pengikatan zat besi transferrin adalah tes laboratorium medis yang
mengukur kapasitas darah untuk mengikat zat besi dengan transferrin.Ini
dilakukan dengan mengambil darah dan mengukur jumlah maksimum zat besi yang
dapat dibawa, yang secara tidak langsung mengukur transferrin karena
transferrin adalah pembawa yang paling dinamis.TIBC lebih murah daripada
pengukuran transferrin langsung.
A.
PraAnalitik
1.
PersiapanPasien
: Tidakmemerlukan
2.
PersiapanSampel
:
a.
HindariHemolisis
b.
Tabungtempatsampelharusbenar-benarbersihdansebaiknyamenggunakantabungbaru.
c.
Apabilatesditunda,
sampelsebaiknyadisimpanpadasuhu 4oC (dapatbertahanselama 7 hari)
ataudalamsuhuruangan (dapatbertahanselama 3 hari).
3.
AlatdanBahan
:
a.
Alat
1)
AutomatikCobas
Integra
2)
Pipetvolumetrik
500 µl
3)
tabungmikro.
b.
Bahan
1)
Sampel
Serum
2)
Reagensia
:
-
R1
: Buffer 8x30 ml dalam 1 L mengandung Sodium asetat 200 mmol, Guanidine
hydrokloride 38 % 4,5 mol.
-
R2
: (zatpereduksi) 8 tablet untuk 8x30 ml dalam 1 L mengandung sodium askorbat 16
% 11 mmol, Thiourea 52 % 96 mol.
-
R3
: (Chromogen) dalam 1 L mengandung Sodium asetat 200 mmol, Ferrozine 39 mmol,
standar, dalam 1 L mengandungbesi 20 µmol. (112 µg/100 ml).
4.
Prinsiptes
Besiakandilepaskandaritransferinoleh guanidine
hisrokloridedanakandireduksimenjadiferroolehasamaskorbat.
Bentukbesibivalentersebutdenganfeerozineakanmembentukwarnamerahkompleks.
Insensitaswarna yang terjadisesuaidengankosentrasibesidandiukursecarafotometer.
B.
Analitik
1.
Persiapanreagenkerja
:
Diambil 1 tablet R2 kemudiandimasukkankedalam 1 vial
R1 sampailarutsecaramerata, selanjutnyareagenwarna 1 ml R3 dan 1 tablet R2,
kemudianmasukkankedalam 1 vial R1 sampailarutsecaramerata.
2.
Cara
Kerja :
a.
Tempatkanreagenkerjapadarakalat
b.
masukkan
500 µl sampelkedalamtabungmikro, letakkanpadaraksampel.
c.
Masukkannomoridentitaspasienlalupilih
program tes Fe danpengukuransecaraautomatik.
d.
Hasilteskeluarberupalembar
print out.
3.
NilaiRujukan
:
Laki-laki : 9,5–29,9 µmol/L (53-167 µg/dl).
Perempuan : 8,8–27,0µmol / L (49-151 µg/dl).
C.
PascaAnalitik
Interpretasi :
-
Kadar
besi serum meningkatpada : anemia aplastik, anemia sideroblastik, anemia
-
Hemolitik,
eritropoiesis yang tidakefektif(misalnya : anemia pernisiosa, talasemia),
hemosiderosisdan hepatitis / kelainanhepar.
-
Kadar
besi serum menurunpada : anemia defesiensibesi, penyakitmanahun, kegasan, dll.
Ø ASPIRASI SUMSUM TULANG
A.
Pra Analitik
1.
Persiapanpasien:
Diberitahukankepadapasienlangkah-langkah yangakandilakukan,
melakukanpemeriksaandarahlengkap, apusandarahtepi,
faktorpembekuandarahsepertiprothrombin time, INR, APTT
untukmemastikantidakadaresikoperdarahan data prosedurdilakukan.
2.
Persiapansampel:
disimpansatuminggupada 40C.
3.
Prinsip:
P4ereaksi asam-basa yang salingberikatanantara catdenganseldarah, sesuaidengansifat pH
darisetiapsel yang terdapatpadasel-seldarahtersebut.
Giemsapadadasarnyamerupakangabungandariduamacam cat yaitu methylene blue dan
eosin dimana methylene blue bersifatbasaakanberikatandenganbagiansel yang
bersifatasamdanmemberikanwarnabirusedangkan eosin
yagbersifatasamakanmewarnaibagiansel yang bersifatbasa.
4.
Alatdanbahan
a.
Alat
1)
Objek
glass
2)
Pipettetes
3)
Cawan
petri
4)
Raktabung
5)
Mikroskop
b.
Bahan
1)
Sampelsumsumtulang
2)
Tabungdarah
3)
Metanol
4)
Giemsa
B.
Analitik
1.
Pembuatanpreparat
spread (sebar)
a.
Siapkanalatdanbahan
yang akandigunakan
b.
Letakkanobjek
glass di cawan petri dengancaradimiringkan
c.
Teteskan
3-4 tetessampelsumsumtulang di atasobjek glass tersebut
d.
Diambilbagianfragmenmenggunakanujungobjek
glass yang baru
e.
Buatapusan
di atasobjek glass yang lain
f.
Keringkankemudianfiksasidengan
methanol selama 5-10 menit
2.
Pembuatanpreparat
squash (tekan)
a.
Siapkanalatdanbahan
yang akandigunakan
b.
Letakkanobjek
glass di cawan petri dengancaradimiringkan
c.
Teteskan
3-4 tetessampelsummsumtulang di atasobjek glass tersebut
d.
Letakkan
di atasobjek glass baru
e.
Ratakandantekankemudiangesersecaradatarsampaiujungobjek
glass dengancepat
f.
Keringkankemudianfiksasidengan
methanol selama 5-10 menit
3.
Pewarnaangiemsa
a.
Genangisediaandenganlarutankerja
gie4msa selama 20-30 menit
b.
Sisa
cat dibuangkemudiancucidengan air mengalir
c.
Keringkandanperiksa
di bawahmikroskop
C.
PascaAnalitik
Normoselluler
: volume lemak 20% dariselhemapoietik
Hyposelluler : selhemapoietikdigantiolehsellemak
Hyperselluler
: hampirsemualemakdiagantiolehselhemapoietik
Ø TES KADAR ASAM FOLAT/VITAMIN B12 PLASMA
A.
Pra Analanitik
1.
Persiapan pasien
Pasien
tidak dapat menerima suntikan vitamin B-12 intramuskular tiga hari sebelum tes.
Meskipun pasien mungkin minum air putih, pasien harus menghindari makanan
selama delapan jam sebelum tes. Pasien kemudian bisa makan normal setelah tes.
2.
Persiapan sampel
a.
Untuk orang dewasa
:
1)
Pada hari ke 1, buang air kecil ke
toilet setelah bangun tidur. Kumpulkan semua urin dalam wadah bersih selama 24
jam berikutnya.
2)
Pada hari ke 2, buang air kecil ke wadah
yang sama setelah bangun. Tutup wadah dan beri label dengan nama dan
tanggalnya. Simpanlah itu dan simpan di tempat dingin sampai pasien bisa
mengembalikannya ke dokter.
b.
Untuk bayi.
1)
Jika petugas perlu mengumpulkan sampel
urin 24 jam pada bayi, ikuti langkah - langkah ini:
2)
Cuci daerah sekitar alat kelamin bayi.
3)
Tempatkan tas koleksi urin pada bayi,
dan kencangkan pita perekat.
4)
Tempatkan popok pada bayi, tutup tas
koleksi.
5)
Periksa bayi secara teratur dan ganti
tas setiap kali buang air kecil di dalamnya.
6)
Tiriskan urin ke dalam wadah bersih
7)
Kirimkan kontainer ke dokter segera
setelah Anda mengumpulkan jumlah urine yang dibutuhkan.
B.
Analitik
1.
μg radiolabel dari vitamin B12 diberikan
secara oral ke pasien puasa.
2.
jam kemudian 1000 μg vitamin B12 yang
tidak berlabel diberikan secara intramuskular.
3.
Injeksi imtramuskular keluar sekitar 1/3
dari vitamin B12 radioaktif yang diserap ke dalam urin dengan 24 jam berikutnya.
Ø TES DARAH RUTIN
A.
Pra Anaitik
1.
Persiapan pasien : Tidak ada persiapan
pasien
2.
Persiapan sampe : Darah EDTA 10%
3.
Prinsip :
Impedance
berupa larutan elektrolit (dilluent) yang telah dicampur dengan sel-sel darah
melalui aperture, hambatan antara kedua elektroda tersebut akan naik sesaat dan
terjadi perubahan tegangan yang sangat kecil sesuai dengan nilai tahanannya.
4.
Alat dan bahan : Hematologi analyer,
Tabung reaksi, dan Rak tabung
B.
Analitik
1.
Disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan.
2.
Dihidupkan UPS, ditekan main power yang
terletak pada bagian belakang alat, sehingga lampu indikator main power
menyala.
3.
Ditekan tombol power yang terdapat pada
bagian depan alat, alat akan secara otomatis melakukan cleaning dan priming.
4.
Ditunggu sampai alat siap digunakan.
5.
Dilakukan pembacaan kontrol.
6.
Dimasukkan data pasien pada
computer/display lalu dikirim data tersebut ke alat.
7.
Dipastikan darah tidak menggumpal pada
tabung dan dimasukkan sampel pada rak tabung sesuai data pasien yang telah
diinput, kemudian tekan tombol start dan akan dilakukan analisa oleh alat.
8.
Hasil akan dikeluarkan dalam bentuk
print out.
C.
Pasca Analitik
1.
Eritrosit
Wanita
: 4 juta-5 juta/ul darah
Pria
: 4,5 juta-5,5 juta/ul darah
2.
Hemoglobin
Wanita
: 12-14 g/dl
Pria
: 14-16 g/dl
3.
Hematokrit
Wanita : 38-46%
Pria : 40-54%
4.
Leukosit : 5 juta-1 juta/ul darah
5.
Trombosit : 150.000-400.0004/ul darah
6.
Laju endap darah
Wanita : <15
Pria
: <10
7.
Indeks eritrosit
MCH : 7-31 pg
MCV : 80-96 fl
MCHC
: 32-36 g/dl






No comments:
Post a Comment