Friday, March 27, 2020

MAKALAH MEGALOBLASTIK


HEMATOLOGI III

“ANEMIA MEGALOBLASTIK”




NAMA                        : VALANTNE WAAS
NIM                            : 18 3145 353 112
KELAS                       : 2018 C




PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI LBORTORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA RESKY
MAKASSAR
2020
 
 



KATA PENGANTAR
Puji Syukur atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya kesempatan, kekutan dan kesehatan untuk bisa menyelesaikan Makalah yang berjudul Anemia Megaloblastik . adapun maksud dan tujuan saya untuk mnyusun laporan menyelsaikan tugas dan tanggung jawab  sebagai mahasiswi DIV Analis Kesehatan Universitas Mega Rezky Makassar.
Dalam pembuatan makalah ini, saya menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan yang di buat baik sengaja maupun tidak sengaja dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan serta pengalaman yang saya miliki. Untuk itu saya memohon maaf atas ksalalah tersebut
 Tidak lupa saya juga, mngucapkan terima kasih kepda Ibu Arlitha Deka Yana.,S.SI.,M.KES selaku dosen pembimbing mata kuliah Hematologi III dengan sabar membantu saya, serta kepada orang tua yang terus memberikan motivasi dan kepada teman yang turut membantu penylesaian makalah ini.Makalah ini jauh dari sempurna maka diprlukan kritik dan saran untuk kedepanya lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan Terima Kasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.


      Makassar, 24 Maret 2020


          Penyusun
         Valantine Waas





     

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
B.     TUJUAN UMUM
C.     TUJUAN KHUSUS 
BAB II PEMBAHASAN
A.    DENGAN DEFINISI MEGALOBLASTIK
B.     KLASIFIKASI ETOLOGI MEGALOOBLASTIK
C.     PATOFISIOLOGI TANDA DAN GEJALA MEGALOBLASTIK
D.    PENATALAKSANAAN ATAU PENANGANAN MEGALOBLASTIK
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
B.     SARAN
DAFTAR PUSTAKA


   

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam Darah merupakan cairan  tubuh yang berwarna merah dan terdapat di dalam sistem peredaran darah tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. Darah  berfungsi memasukkan oksigen dan bahan makanan keseluruh tubuh serta mengambil karbon dioksida dan metabolik dari jaringan. Mengetahui golongan darah seseorang sangat penting di ketahui untuk kepentingan medis yaitu salah satunya untuk transfusi (Oktari dan Silvia, 2016.Vol.5.No.2).
Darah merupakan unsur dalam tubuh manusia yang memiliki peran dalam mekanisme kerja tubuh seluruh organ tubuh ,seluruh   seluruh organ tubuh di hubungkan oleh darah melalui pmbuluh- pembuluh darah . oleh karena itu darah dapat menjadi cerminan keadaan tubuh . baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Darah masih menjadi sumber dignosa medis yang paling dapat di andalkan (Devie,2015 Vol.5 No.1)
Anemia adalah kekurangan eritrosit yang tampak pada kekurangan hemoglobin dan hematocrit .Anemia di bagi menjadi 1)anmia karena pendarahan,2)produksi eritrosit trganggu,3)meningkatkan kerusakan eritrosit 4) dfisinsi nutrisi (Mary dkk, 2008)
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia. Gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status kesehatan. Khumaidi (1989) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang melatarbelakangi tingginya prevalensi anemia gizi besi di negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi rendah meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah serta kesehatan pribadi di lingkungan yang buruk. Meskipun anemia disebabkan oleh berbagai faktor, namun lebih dari 50 % kasus anemia yang terbanyak diseluruh dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat gizi besi. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit (cacing). Di negara berkembang seperti Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia gizi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setaip harinya. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia gizi besi akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena infeksi (Masrizal,2007).
Klasifikasi Anemia Secara morfologis, anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin yang dikandungnya.1 Makrositik Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik yaitu :a)Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12, asam folat dan gangguan sintesis DNA.. b) Anemia Non Megaloblastik adalah eritropolesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran. 2. Mikrositik Mengecilnya ukuran sel darah merah yang disebabkan oleh defisiensi besi, gangguan sintesis globin, porfirin dan heme serta gangguan metabolisme besi lainnya. 3. Normositik       Pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah, ini disebabkan kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan, penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati. (,Masrizal,2007).
B.     Tujuan Umum
Mampu mamahami tentang apa itu megaloblastik
C.    Tujuan Khusus 
a.       Untuk memahami hal-hal yang berikatan dengan definisi megaloblastik 
b.      Untuk mengetahui hal-hal yang berikatan dengan klasifikasi etologi megaloblastik 
c.       Untuk mengetahui hal-hal yang berikatan dengan patofisiologi tanda dan gejala megaloblastik 
d.      Untuk mengetahui hal-hal yang berkatan dengan penatalaksanaan atau penanganan megaloblastik

BAB II
PENDAHULUAN

A.    Definisi Megaloblastik
sel megaloblastik
Anemia megaloblastik adalah anemia yang khas di tandai oleh adanya sel mgaloblast dalam  dalam sum-sum tulang.sel megaloblast adalah sel precursor eritrosotit dengan bntuk sel yang besar dengan susunan kromosom yang longgar. Anemia megaloglastik yang disebabkan oleh anemia pernisiosa banyak dijumpai pada orang orang Skandinavia,Inggris,dan Irlandia dengan angka kejadian 90 kasus tiap 100.000 penduduk per tahun. Pernah dilaporkan adanya anemia pernisiosa pada penduduk  Afrika Selatan,Daratan Cina,dan Arab belum pernah dilaporkan tentang kejadian anemia pernisiosa di Indonesia(Wiwik dan Andi, 2008).                                       
Pengertian Anemia adalah kekurangan gizi dimana gizi tersebut berperan dalam pembentukan hemoglobin, baik karena kekurangan konsumsi atau karena gangguan absorbsi. Zat gizi yang bersangkutan adalah besi, protein, vitamin B6, yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis hemoglobin. Vitamin C dapat mempengaruhi absorbsi dan pelepasan besi kedalam jaringan tubuh dan vitamin E yang mempengaruhi stabilitas membran sel darah merah (Sarifah dan Wahyuni, Sri Dayaningsih,2014).
Anemia megaloblastik adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal dalam pembentukan sel darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian antara pematangan inti dan sitoplasma pada seluruh sel seri myeloid dan eritorid.13 Anemia megaloblastik merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi folat. Mekanisme biokimiawi yang mendasari terjadinya perubahan megaloblastik adalah terganggunya konversi dump menjadi dTMP. Dalam keadaan normal dump dikonversi menjadi dTMP dengan adanya enzim timidilat sintetase yang membutuhkan koenzim folat. Pada defisiensi folat dump diubah menjadi dUTP melebihi kapasitas kerja enzim dUTP dalam sel melalui konversi kembali menjadi dump, akibatnya terjadi penumpukan dUTP di dalam sel, sehingga terjadi kelambatan dalam sintesis DNA.13,15 Gambaran darah tepi yang paling sering dihubungkan dengan anemia megaloblastik adalah makrositosis. Makrositosis yang khas adalah makroovalositosis. Hipersegmentasi neutrofil merupakan tanda pertama dari anemia megaloblastik di daerah tepi; bila ditemukan 5% neutrofil dengan lobus lebih dari lima kemungkinan adanya defisiensi asam folat meningkat menjadi 98%.1,22 Pansitopenia dapat juga ditemukan pada anemia megaloblastik dengan derajat yang bervariasi dan merupakan atribut langsung dari proses hemopoesis yang inefektif dari sumsum tulang. Sumsum tulang menunjukkan gambaran hiperselular dengan hiperplasi seri eritroid. Prekursor eritroid tampak sangat besar yang disebut megaloblas. Pada seri mieloid dijumpai adanya sel batang dan metamielosit yang sangat besar (giant meta) myelocyte (Helna dan Debi, 2002).
Anemia megaloblastik adalah anemia makrositik yang disebabkan oleh defisiensi atau gangguan penggunaan vitamin B12 atau asam folat. Penyebab tersering dari anemia megaloblastik adalah defisiensi vitamin B12 yang dapat terjadi karena asupan yang kurang, malabsorpsi akibat tidak adanya faktor intrinsik, kelainan kongenital, atau paparan nitrit oksida (NO).
Anemia megaloblastik sebetulnya adalah kondisi panmyelosis, walaupun namanya menggambarkan seolah gangguan hanya terbatas di sel darah merah. Pada kasus yang jarang, anemia megaloblastik dapat menampilkan gambaran nuklei megaloblastik imatur dan proliferasi myeloid intens di sumsum tulang. Hal ini dapat menyebabkan misdiagnosis dengan leukemia.
B.     Klasifikasi Etologi Megaloblastikm
Menurut Helna dan Debi 2002,penyebab anemia mengalobglastik dibagi menjadi beberapa jenis.

1.      Anemia megalobglastik karena defisiensi vitamin B12
a)      Penderita yang tidak makan daging hewan atau ikan, telur,serta susu yang mengandung vitamin B12
b)      Adanya malabsorpsi akibat kelainan pada organ berikut ini:
1)      Kelainan lambung (anemia pernisiosa, kelainan kongenital factor intrisik, serta gastrektonomi total atau persial)
2)      Kelainan usus (intestinal loop syndrome,tropical dan sprue, post raksi ilum)
2.      Anemia megalobglastik karena Defisinsi Asam Folat
a)      Di sebabkan oleh makanan yang kurang gizi asam folat,terutama pada orang tua,fakir miskin,gastrektomoni parsial, dan anemia akibat hanya minum susu kambing
b)      Malabsopsi asam folat karena penyakit usus
c)      Kebutuhan yang meningkat akibat keadaan fisiologis(hamil,laktasi,prematuritasi)dan keadaan patologis(anemia hemolitik,keganasan,serta penyakit kolagen).
d)     Ekskresi asam folat yang berlebihan lewat urine,biasanya terjadi pada penyakit hati yang aktif atau kegagalan faal jantung.
e)      Obat obatan antikonvulsan dan sitostatik tertentu.

Anemia megaloblastik  disebabkan oleh kekurangan Vitamin B12 umumnya berhubungan dengan beberapa kondisi di bawah ini:
1.Anemia pernisiosa (pernicious anaemia), salah satu penykit auto imun yang mempengaruhi perut. Sel kekebalan (imun) tubuh menyerang sel parietal di lambung yang bertugas untuk memproduksi faktor intrinsik. Kekurangan faktor intrinsik ini menyebabkan tubuh tidak dapat menyerap vitamin B12.
2.Peningkatan penggunaan vitamin B12 karena infeksi parasit (Diphyllobothrium latum) dan bakteri patogen.
3.Sindrom malabsorpsi seperti penyakit seliaka (coeliac disease) dan kanker lambung.
4.Kekurangan konsumsi vitamin B12, terutama pada orang-orang yang hanya mengkonsumsi sayuran (vegetarian). Hal ini disebabkan karena sumber utama vitamin B12 terdapat pada makanan yang berasal dari hewan seperti daging, susu, dan telur.
5.Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan asam folat umumnya berhubungan dengan beberapa kondisi di bawah ini:
6.Peningkatan kebutuhan asam folat seperti pada wanita hamil dan penderita beberapa jenis leukemia (kanker darah) akut
7.Obat-obatan yang bekerja sebagai antagonis (menghambat) asam folat, misalnya pada perawatan penderita kanker dan kontrasepsi oral.
8.Penyerapan asam folat yang abnormal seperti pada penderita penyakit seliaka (coeliac disease).
C.    Patofisiologi Tanda Dan Gejala Megaloblastik
Timbunnya megaloblastik adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena terjadi gangguan sintesis DNA sel sel eritoblast,akibat defisiensi asam folat dan vitamin B12,dimana vitamin B12 dan asam folat brfungsi dalam pembentukan  DNA inti sel dan scara khusus untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin.Akibat gangguan sintesis DNA pada inti eritoblas ini,maka maturasi inti lebih lambat,sehingga komatin lebih longgar dan sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat.sel eritoblast dengan ukuran yang lebih besar serta susunan kromatin yang lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast. sel megaloblast ini fungsinya tidak normal, dihancurkan saat masih dalamsumsum tulang sehingga terjadi eritropoisis inevktif dan masa hidup eritrosot lebih pendek yang berujung anemia (Menurut Helna dan Debi ,2002).
Patofisiologi anemia megaloblastik utamanya berkaitan dengan defisiensi vitamin B12 atau asam folat. Defisiensi ini akan mengganggu pembentukan prekursor sel hematopoietic
Sumsum tulang merupakan tempat terjadinya eritropoiesis. Pada keadaan anemia megaloblastik, terjadi kekurangan asam folat atau vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan prekursor sel hematopoietik. Kekurangan vitamin B12 atau asam folat mengganggu sintesis DNA, sehingga nukleus dan sitoplasma eritrosit tidak terbentuk sempurna secara bersamaan. Sitoplasma  matang secara normal, namun nukleus menjadi imatur akibat sintesis DNA yang terganggu. Pertumbuhan sel yang abnormal dan terganggunya proses pembelahan sel akan menyebabkan maturasi nuklear terhenti. Selain itu, pada keadaan anemia megaloblastik, prekursor eritrosit yang matur dihancurkan di sumsum tulang sebelum masuk ke pembuluh darah (hemolisis intramedular)
Gejala  anemia megaloblastik yang paling umum adalah kelelahan. Gejala dapat bervariasi dari orang ke orang, namun gejala umumnya adalah: 
a)      Sesak napas; 
b)      Kelemahan ototc)      
 c)  Kulit pucat
d)     Lidah bengkak (glossitis); 
e)      Kehilangan nafsu makan; 
f)       Penurunan berat badan; 
g)      Diare; 
h)      Mual; 
i)        Detak jantung cepat; 
j)        Lidah menjadi halus atau lembut; 
k)      Kesemutan di tangan dan kaki; 
l)        Mati rasa pada ekstremitas.
Pasien dengan anemia megaloblastik bisa asimptomatik. Jika muncul gejala, maka akan berkaitan dengan anemia dan abnormalitas neurologi. Jika anemia sangat berat, pasien bisa mengalami lemas atau gangguan kardiopulmonal. Pemeriksaan darah lengkap akan menunjukkan anemia makrositosis dan pemeriksaan darah tepi ditemukan sel darah merah megaloblast, neutrofil hipersegmentasi dengan 6 atau lebih lobus, dan anisositosis atau poikilositosis.
D.    Penatalaksanaan Atau Penanganan Megaloblastik
Penatalaksanaan anemia megaloblastik dilakukan dengan pemberian suplementasi vitamin B12 atau asam folat, karena defisiensi kedua mikronutrien ini adalah etiologi utama. 
1.      Defisiensi Vitamin B12
Pada pasien yang anemia megaloblastik akibat defisiensi vitamin B12, tata laksana yang diberikan adalah injeksi parenteral vitamin B12. Parameter hematologi umumnya akan kembali normal setelah 1 bulan. Vitamin B12 dapat diberikan dalam bentuk hidroksokobalamin 1000 mcg setiap hari selama 7 hari. Setelah itu, dilanjutkan dengan injeksi 1 kali dalam seminggu selama 1 bulan, kemudian dilanjutkan selama 1 kali dalam sebulan. 
2      Pada pasien dengan ketidakmampuan menyerap vitamin B12 dari diet secara permanen (misalnya kasus anemia pernisiosa atau pasien yang menjalani gastrektomi), tata laksana dilakukan seumur hidup. Walaupun belum menjadi regimen standar, pemberian per oral dilaporkan bisa menjadi pilihan. Hal ini karena vitamin B12 diabsorpsi di ileum terminal sebanyak 1-5% tanpa memerlukan faktor intrinsik. 
3.      Obat penghambat pompa proton, H2-blocker, dan metformin dapat menurunkan absorpsi vitamin B12  
4.      Defisiensi Asam Folat
Asam folat diberikan secara oral. Pasien juga diminta mengonsumsi makanan tinggi folat, seperti sayuran hijau, buah, daging, dan hati. Dosis asam folat yang disarankan adalah 1-5 mg per hari. Pemberian sebagai profilaksis disarankan untuk wanita hamil, menyusui, dan masa nifas. 
5.      Kondisi Lainnya
Penanganan anemia megaloblastik akibat kondisi lain dilakukan berdasarkan etiologi masing-masing. Sebagai contoh, pasien yang mengalami anemia megaloblastik akibat infeksi cacing pita ditata laksana dengan prazikuantel, niklosamid, atau nitazoksanid. Sedangkan, anemia megaloblastik akut akibat paparan nitrit oksida dapat ditata laksana dengan pemberian vitamin B12 dan asam folat.  
6.      Pemantauan
Retikulositosis dapat terjadi pada awal-awal pengobatan (dalam 3-5 hari), dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-10. Hitung leukosit dan trombosit biasanya kembali normal dalam hari-hari awal terapi. Sedangkan, neutrofil hipersegmen bisa menetap hingga 2 minggu.
Kadar kalium serum bisa menurun drastis pada pengobatan defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang berat. Hal ini bisa menyebabkan kematian mendadak. Oleh karena itu, kadar kalium harus dipantau, dan pasien diberikan suplementasi kalium jika perlu.
Defisiensi zat besi bisa terjadi karena peningkatan penggunaan zat besi untuk produksi sel darah merah. Jika terjadi defisiensi, bisa diberikan suplementasi besi.
Pemantauan secara periodik juga diperlukan untuk mendeteksi rekurensi megaloblastosis. Parameter pemantauan adalah kadar hemoglobin, dan jika perlu pemeriksaan laboratorium lainnya (misal kadar LDH, bilirubin, dan vitamin B12 serum). Pasien juga perlu disarankan menjalani endoskopi rutin, karena anemia pernisiosa berkaitan dengan peningkatan risiko kanker gastrik.


BAB III
Kesimpulan dan Saran
A.    Kesimpulan
Anemia megaloblastik adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal dalam pembentukan sel darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian antara pematangan inti dan sitoplasma pada seluruh sel seri myeloid dan eritorid.13 Anemia megaloblastik merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi folat.. Anemia megaloblastik adalah anemia makrositik yang disebabkan oleh defisiensi atau gangguan penggunaan vitamin B12 atau asam folat. Penyebab tersering dari anemia megaloblastik adalah defisiensi vitamin B12 yang dapat terjadi karena asupan yang kurang, malabsorpsi akibat tidak adanya faktor intrinsik, kelainan kongenital, atau paparan nitrit oksida (NO).
B.     SARAN
Sebaiknya kita harus menjaga keshatan tubuh kita dengan memakan makan yang sehat dan bergizi serta kita harus sering berolahraga agar tubuh kita sehat dan tidak mudah terserang penyakit.kita juga harus menerapkan pola  hidup yang benar dan sehat.



DAFTAR PUSTAKA

Bradro,Mary dkk .2008. “Klin gangguan KardioVvaskulr seri asuhan keprawatan”Jakarta:EGC.
                                                                                            
Anambasa, Devie R. 2015. “Rancanagnbangun Metode Otso Untuk Deteksi Hemoglobin” Vol.5 No.1.Madura.

Handayani,Wiwik dan Andi Sulistyo.H. 2008.’’Buku Ajar Asuuhan keperawatan pada kiln dengan gangguan system hematologi’’.jakarta: Edward Tanuja.

Masrizal.\2007.”Anemia DefisiensiBesi “vol.1 No.1

Oktari, Anita dan Nida Daeninur.S.2016.”Pemmeriksaan Golongan Darah ABO Metode Slide Dengan Reagen Serum Golongan Darah AB DAN O” Vol.1 No.1

Pamungkas,Wahyuni dkk .2017.’’Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tablet Penambah Darah Dengan Kejadian”Vol.l No 2.

Tangkilisan, Helena Anneke dan Debby Rumbajan Sari Pediatri. 2002, Defisiensi Asam Folat’’ .Vol. 4, No. 1. ”2014

https://www.halodoc.com/anemia-megaloblastik-memicu-terjadinya-kanker-lambung                                            




 













No comments:

Post a Comment